Jakarta, TopBusiness – PT Aman Agrindo Tbk (IDX: GULA) pada hari ini resmi mencatatkan sahamnya di PT Bursa Efek Indonesia. Perseroan yang bergerak di bidang perkebunan tebu, perdagangan dan industri gula ini menggunakan ticker GULA sebagai kode sahamnya.
Langkah perseroan ini melepas saham ke Bursa melalui skema penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Harga IPO Aman Agrindo sendiri sebesar Rp 250 per lembarnya dan saat IPO mengalami oversubscribed (kelebihan permintaan) sebanyak 61 kali.
Hal ini juga terlihat dalam transaksi awal yang merupakan penanda perdagangan perdana perseroan. Saat proses listing itu, saham GULA dibuka di level Rp 294 dan hingga pukul 09.29 WIB, sudah melesat 19,2% ke level Rp 298 per unit.
Hara saham GULA sendiri di rentang waktu tersebut bergerak di kisaran Rp 250 hingga Rp 312 per unit. Dengan nilai transaksi sementara mencapai Rp58,2 miliar. Adapun untuk kapitalisasi pasar mencapai Rp314,69 miliar.
GULA menerbitkan sebanyak 214.072.500 lembar saham yang mewakili 20% modal ditempatkan dan disetor Perseroan setelah Penawaran Umum Perdana. Dengan demikian, target perolehan dana dari IPO mencapai Rp53,5 miliar. Adapun Saham GULA termasuk dalam kategori saham Syariah.
“Untuk harga per lembar saham di angka Rp250 itu terbentuk berdasarkan hasil dari Bookbuilding di rentang harga Rp250 – Rp300,” ujar Direktur Utama GULA, Andreas Utomo, dalam keterangan resminya, Rabu (3/8/2022).
Kata Andreas, Aman Agrindo yang menjadi emiten ke-31 tahun ini dalam proses Bookbuilding telah berjalan dengan baik dan memberikan gambaran minat investor untuk ikut terlibat berinvestasi dalam bidang perkebunan tebu, perdagangan gula dan industry gula.
“Kepercayaan para investor tersebut juga menjadi bukti bahwa bisnis yang dikelola Perseroan memiliki prospek yang bagus,” katanya.
Andreas Utomo mengungkapkan, dari dana IPO itu sebanyak 23% akan digunakan untuk belanja modal berupa pembangunan pabrik gula merah dan fasilitas penunjang lainnya untuk menunjang kegiatan produksi gula merah dengan pihak ketiga.
Selain itu juga untuk belanja modal berupa pembelian dan instalasi mesin produksi gula merah dengan pihak ketiga sebesar 57%.
“Dan sisanya akan digunakan untuk modal kerja Perseroan, namun tidak terbatas untuk pembelian kebutuhan bahan baku dan bahan pendukung serta untuk membiayai kegiatan operasional Perseroan,” ujarnya.
Dalam aksi korporasi ini, perseroan telah menunjuk PT UOB Kay Hian Sekuritas untuk bertindak sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Efek.
Usai menjadi perusahaan Tbk, Perseroan menargetkan pendapatan pada 2022 sebesar Rp219 miliar. Target ini meningkat sebesar 15,87% disbanding tahun 2021. Adapun laba bersih pada 2022 ditargetkan sebesar Rp9 miliar berdasarkan target pertumbuhan penjualan.
Pada Januari 2022, Perseroan telah menandatangani kontrak senilai Rp29 miliar untuk pembelian mesin produksi gula merah guna meningkatkan penjualan. “Pendapatan Perseroan tahun 2023 pasca IPO diproyeksikan akan naik 1,8 kali lipat dengan laba bersih tumbuh hingga 357% dibanding tahun 2021,” ungkap Andreas Utomo.
Hingga saat ini Perseroan telah melakukan kegiatan perdagangan terhadap beberapa jenis gula yaitu gula pasir, gula cair, dan gula merah yang sumbernya diperoleh dari pemasok gula. Khusus untuk kegiatan perdagangan gula merah baru dijalankan oleh Perseroan sejak awal tahun 2022.
Lebih lanjut, Perseroan juga melaksanakan perdagangan tebu yang sumbernya diperoleh dari perkebunan tebu yang dijalankan oleh Perseroan, baik dengan lahan yang Perseroan sewa dari pihak ketiga maupun lahan milik Perseroan.
FOTO: Istimewa
