TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Besok Listing, Perusahaan Baba Rafi Kantongi Pemesanan Rp1,5 Triliun dari IPO

Busthomi
4 August 2022 | 16:38
rubrik: Capital Market
Besok Listing, Perusahaan Baba Rafi Kantongi Pemesanan Rp1,5 Triliun dari IPO

Jakarta, TopBusiness – PT Sari Kreasi Boga Tbk (SKB Food) atau perusahaan yang tekernal dengan brand Baba Rafi dipastikan akan melakukan pencatatan saham (listing) di Bursa Efek Indonesia, besok Jumat (5/8/2022).

Diperkirakan, perseroan bakal mengantongi dana segar dari penawaran umum perdana saham (IPO) mencapai Rp1,567 triliun. Hal ini berkat proses IPO yang mulai 1 Agustus hingga 3 Agustus 2022 itu mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) sebanyak 75,75 kali.

Investment Banking Division PT Investindo Nusantara Sekuritas Zharfan Dhaifullah selaku Penjamin Pelaksana Emisi Efek Penawaran Umum Perdana Saham (Initial Public Offering/IPO) SKB Food menjelaskan, jumlah pemesanan saham pada IPO emiten dengan kode saham RAFI itu melalui sistem penawan umum elektronik yang cukup tinggi. Tercatat sebanyak 21 ribu pemesan dengan jumlah pemesanan sebanyak 12,44 miliar saham atau setara sebesar Rp1,57 Triliun.

Untuk penjatahan terpusat (pooling) jumlah pemesanan mencapai 11,65 miliar saham, sehingga terjadi oversubscribed hampir 82 kali. Adapun secara total terjadi oversubscribed sebanyak 13 kali pada sepanjang Penawaran Umum berlangsung. “Pesanan yang masuk ada 120,243 juta lot untuk pooling atau oversubscribed hampir 82 kali (81,90 kali) dari pooling yang ditawarkan,” ungkap dia dala keterangan tertulisnya, Kamis (4/8/2022).

Sedangkan pesanan untuk penjatahan pasti (Fixed Allotment) tercatat sebanyak 7,893 juta lot sehingga total pesanan mencapai sebanyak 128,136 juta lot terhadap saham RAFI atau mencerminkan 1.351,53% yang setara lebih dari Rp1,56 triliun dari total saham yang ditawarkan SKB Food pada proses IPO ini.

Seperti diketahui, SKB Food menawarkan sebanyak-banyaknya 9,4 juta lot atau sebanyak 948.090.000 lembar saham biasa atas nama yang seluruhnya adalah saham baru dan dikeluarkan dari portepel, dengan nilai nominal Rp15 setiap saham.  Jumlah tersebut mewakili sebanyak-banyaknya 30,31% dari modal ditempatkan dan disetor Perseroan setelah Penawaran Umum Perdana Saham (Saham yang Ditawarkan) dan terbentuk harga perdana sebesar Rp126 per saham.

BACA JUGA:   BEI Suspensi BDKR

Saham RAFI akan resmi dicatatkan di BEI pada Jumat (5 Agustus 2022) dan rencananya akan dilakukan secara offline pada Opening Bell Ceremony di gedung BEI, Jakarta.

Komisaris Utama SKB Food, Jadug Trimulyo Ainul Amri, berharap tingginya minat investor terhadap penawaran saham RAFI menjadi motivasi bagi pelaku usaha UMKM Indonesia untuk terus berkembang, menjalankan prinsip tata kelola yang baik, dan terus adaptif serta inovatif menghadapi tingginya dinamika yang terjadi seperti saat ini.

“Semoga tingginya apresiasi pasar terhadap penawaran saham RAFI yang kita tahu berawal dari gerobakan di lantai trotoar sampai bisa melantai di Bursa saham ini juga menjadi cermin kekuatan dan kebanggaan UMKM Indonesia yang mampu bertahan dan cepat bangkit di tengah pandemi,” katanya bangga.

“Kami percaya ada banyak lagi UMKM Indonesia hebat lainnya yang selama ini turut serta menopang perekonomian Negara kita, sehingga mampu lepas dari segala kesulitan perekonomian global,” ucap komut berusia 26 tahun tersebut.

Direktur Utara (Dirut) SKB Food Eko Pujianto menambahkan, tingginya minat investor itu menjadi bukti bahwa UMKM bisa naik kelas. Dia menyebut setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak akan mengkhianati hasil. Eko mengatakan, perjalanan SKB Food sampai ke lantai bursa cukup panjang dan melewati banyak fase.

“SKB Food awalnya adalah UMKM, kemudian 2017 secara internal kami berbenah sehingga bisa menerapkan budaya korporasi. Di masa pandemi kami bisa bertahan dan justru makin berkembang, sampai akhirnya sekarang bisa melakukan IPO dengan harapan berkembang bisa lebih baik lagi,” ujar CEO kelahiran Ponorogo yang menjadi CEO termuda di Indonesia saat IPO tersebut.

Untuk diketahui, PT Sari Kreasi Boga Tbk (SKB FOOD) adalah suatu perseroan terbatas yang saat ini bergerak di bidang penjualan bahan baku dan waralaba makanan dan minuman. Perseroan memiliki kegiatan usaha untuk mendistribusikan bahan baku baik berupa olahan maupun non olahan (segar) dari penyedia/supplier kepada mitra waralaba dan mitra distributor/stockist yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

BACA JUGA:   Resmi Listing, Saham FOLK Langsung Diburu Investor Melonjak 15%

Adapun untuk waralaba makanan dan minuman yang dimiliki dan dikuasai oleh Perseroan adalah Kebab Turki Babarafi, Container Kebab by Babarafi, Smokey Kebab, Sueger, Kebab Kitchen, Babarafi Café, Ayam Utuh, Jellyta, Raffi Express dan Ayam Pul.

Perseroan telah sukses membuka waralaba di seluruh kota besar yang ada di Indonesia untuk merek-merek yang telah dimilikinya.

Hingga saat ini, ada 969 mitra waralaba yang telah bergabung bersama Perseroan. Selain makanan timur tengah (kebab) Perseroan juga mengembangkan produk lain yaitu masakan yang berbahan baku ayam dan mengembangkan produk minuman dengan merek Sueger dan Jellyta.

FOTO: Istimewa

Tags: Baba RafiipoPT Sari Kreasi Boga Tbksektor makanan dan minuman
Previous Post

BI-Fast, Transfer Lebih Cepat dan Murah Hanya dengan Nomor HP atau Alamat E-mail

Next Post

Jaga Inflasi, Subsidi Energi Tahun Depan akan Lebih Tepat Sasaran

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR