Jakarta-Thebusinessnews. Industri kopi lokal perlu direvolusi dari tingkat hulu, tujuannya untuk meningkatkan produksi rata-rata produksi kopi petani hanya dari 700-800 kg per hektar menjadi 2- 8 ton perhektar
“Seperti di di Vietnam sudah mencapai 2 ton per hektar, sedangkan Brazil sudah bisa mencapai 8 ton per hektar.” Harap Ketua Umum Aosiasi Eksportir Kopi Indonesia ( AEKI) Irfan Anwar di Jakarta, Jumat (11/3/2016)
Irfan menyadari Banyak kendala yang dihadapi dalam meningkatkan produksi. Pertama bibit kopi tidak baik, kedua pola tanam dan perawatan, ketiga para petani tidak mendapatkan pendampingan oleh tenaga ahli lapangan. “Lantas pula para petani kopi sudah banyak pula yang mengalihkan tanaman kopinya kepada tanaman yang lebih menjanjikan, seperti kelapa sawit, karet dan tanaman lainnya.” Ujar dia
Dari sisi hilir, industri pengolahan kopi di dalam negeri pun sangat mengkawatirkan. Hal itu terlihat dari mudahnya investor luar negeri akan masuk secara leluasa dalam industri pengolahan kopi. Pada sektor eksport kopi, semenjak tahun 2012 terus mengalami penurunan dari 520.000 ton hingga 380.000 ton, “Ini sangat memukul para industry serta petani tentunya, banyak factor penyebab turunnya angka eksport ini, salah satunya turun pula produksi kita.” Ujar dia
Namum yang mengembirakan di dalam negeri terjadi peningkatan konsumsi kopi, hal ini dengan tumbuh dan berkembangnya warung-warung dan kedai kopi dari kelas bawah, menengah dan atas, ini merupakan lahan bisnis yang cukup menjanjikan pula bagi pengusaha yang terjun mengelolah bisnis kedai kopi ini.
Tanpa Ekspor pu kata dia, pasar dalam negeri saja sudah sangat besar, angka perkapita penduduk Indonesia yang meminum kopi per tahun masih sangat rendah yaitu 1,1 kg per tahun sementara Amerika sudah 4 kg apalagi Negara eropa bisa mencapai 11 kg per tahun. (AlB)