Jakarta, TopBusiness – Kondisi global yang tidak menentu di tahun depan dikhawatirkan akan mempengaruhi penyaluran kredit perbankan. Meski demikian, penyaluran kredit PT Bank Amar Indonesia Tbk (kode saham: AMAR) atau Amar Bank diproyeksikan masih tetap kuat di tahun depan.
Terlebih, Amar Bank menjalin kerja sama dengan Investree untuk memperluas target pasar ke segmen kredit usaha kecil dan menengah atau UKM. Hal ini dinilai berdampak positif bagi Amar Bank.
“Secara khusus, Investree menargetkan segmen kredit usaha kecil dan menengah (UKM) yang belum terlayani, yang kini dapat dilayani melalui AMAR, sementara AMAR terus bertumbuh pesat di segmen kredit konsumer dan bisnis mikro melalui platform pinjaman digitalnya, Tunaiku,” ujar David Wirawan, Executive Vice President Finance Amar Bank dalam keterangannya yang dikutip, Jumat (14/10/2022).
Menurut David, Amar Bank tetap fokus untuk mengembangkan platform pinjaman digital Tunaiku, yang dilengkapi dengan aplikasi bank cerdas khusus seluler berbasis cloud, Senyumku. Sebagai pelopor perbankan digital Indonesia, Amar Bank juga menilai pentingnya kemampuan teknologi untuk melayani konsumen dan usaha mikro yang kurang terlayani.
“Kerja sama dengan Investree akan memperluas target pasar bank untuk mencakup segmen UKM, yang pada akhirnya akan meningkatkan profitabilitas di tahun-tahun mendatang,” jelas dia.
Pada tahun 2016-2021 AMAR merealisasikan compounded annual growth rate (CAGR) sebesar 96 persen dalam penyaluran pinjaman melalui Tunaiku, dari hanya Rp 73 miliar pada 2016 menjadi Rp 2,1 triliun pada 2021. Analis SF Sekuritas kini memperkirakan pendapatan bunga bersih dan laba bersih AMAR tumbuh sebesar 32,2 persen dan 17,4 persen CAGR masing-masing pada tahun 2023-2027, berdasarkan CAGR 27,7 persen dalam penyaluran pinjaman.
Laporan tersebut menyoroti bahwa pada tahun 2023, AMAR diperkirakan akan mencatat laba bersih sebesar Rp 150,9 miliar, didorong oleh peningkatan pendapatan bunga bersih sebesar 49 persen (yoy).
Saat ini, segmen konsumer dan bisnis mikro berkontribusi sekitar 87 persen dari total pinjaman AMAR, sedangkan segmen korporasi besar berkontribusi 13 persen. Kolaborasi dengan Investree akan memungkinkan AMAR untuk mengakses segmen UKM dan memungkinkan bank untuk mempertahankan pertumbuhan dan diversifikasi kredit yang kuat ke depan.
Berdasarkan data Asian Development Bank, segmen UKM menyumbang 61 persen dari PDB Indonesia dan juga menyumbang lebih dari 96 persen dari total perusahaan dan karyawan di negara ini. Oleh karena itu, UKM memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia.
Namun, pinjaman yang diberikan kepada segmen UKM masih kurang dari 20 persen berdasarkan total pinjaman yang disalurkan di Indonesia.SFS juga merekomendasikan investor ritel membeli saham AMAR itu. Sementara target harga mencapai Rp 460, menggunakan Model Pertumbuhan Gordon, dengan asumsi biaya ekuitas 10,2 persen, dan tingkat pertumbuhan normal 9,7 persen.
