Jakarta, TopBusiness – Menghadapi era Industri 4.0 atau Society 5.0, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) terus melakukan transformasi bisnis melalui implementasi berbagai solusi teknologi informasi (TI) atau digitalisasi. Upaya digitalisasi yang dilakukan perusahaan terbukti nyata mampu meningkatkan performa bisnis dan layanan BCA.
Saat ini, transaksi digital sudah mencapai 99,8 persen dari total transaksi di BCA. Hanya 0,2 persen yang masih transaksi di cabang.
Berkat digitalisasi tersebut, BCA juga mampu melewati masa yang sulit akibat pandemi covid-19. Sampai Semester I 2022, laba bersih BCA mencapai Rp 18 triliun, tumbuh 24,9 persen dibandingkan periode sama 2021 yang mencapai Rp 14,45 triliun.
“Jika kondisi perekonomian stabil sampai akhir tahun ini laba BCA bisa mencapai Rp 36 triliun, naik dibandingkan 2021 yang sebesar Rp 31 triliun,” kata Executive Vice President Center of Digital BCA Wani Sabu dalam presentasi penjurian TOP DIGITAL Awards 2022 yang dilakukan secara daring, Selasa (19/10/2022).
Selain Wani Sabu, tim dari BCA yang hadir dalam penjurian ini antara lain Aditya Cakrawidya (Assistant Vice President IT), Angela Wanodya Sawangi (Vice President Center of Digital), Andre Djuarsah (IT Analyst) dan Dian Sahri Ramadhan (Associate Officer Center of Digital). Mereka membawakan materi presentasi berjudul Digitalization in Center of Digital, The Game of Changer.
Saat ini, kata Wani, BCA memiliki 1.242 cabang dengan total jumlah rekening sebanyak 28.505.000 akun, total aset mencapai Rp 1.264 triliun atau US$ 36 miliar dan jumlah ATM 18.034 unit. BCA juga punya delapan anak usaha yakni BCA Syariah, BCA Finance, BCA Multifinance, BCA Sekuritas, BCA lide, BCA Multifinance, BCA Insurance, dan BCA Digital. “Core business BCA ada tiga yakni funding, lending, dan services,” kata Wani.
Wani menyatakan ada beberapa strategi bisnis yang dilakukan BCA sehingga kinerja perusahaan tetap bertumbuh meskipun pandemi belum sepenuhnya berakhir. Pertama adalah memperkuat perbankan transaksi karena BCA terkenal dengan transactional banking.
“Kemudian strategi bisnis kami adalah pemulihan pertumbuhan kredit dan perbaikan kualitas aset, inovasi tiada henti, serta kolaborasi dengan perusahaan lain atau bidang usaha yang lain,” tuturnya.
Dalam presentasinya, Wani juga menyampaikan pesan penting dari Presiden Direktur BCA Jahja Setiaadmadja bahwa, “Seiring dengan pesatnya digitalisasi, kami melihat bahwa inovasi tiada henti dan kolaborasi merupakan penggerak pertumbuhan kinerja BCA, terutama pada bisnis inti perbankan transaksi.”
Bukti keseriusan BCA terhadap digitalisasi ini adalah alokasi belanja atau capex teknologi pada 2022 yang mencapai Rp 5 triliun dengan 10 persen atau Rp 500 miliar di antaranya untuk cyber security.
“Karena dibalik kenyamanan transaksi digital tentunya kita harus aware dengan kasus-kasus yang terjadi di era digital ini, 99 persen itu social engineering. Tetapi kita tetap harus aware sehingga kita mencanangkan Rp 500 miliar untuk cyber security,” tuturnya.
Dalam pengembangan IT di BCA, kata Wani, perusahaan selalu memperhatikan empat hal, yakni: Better, Cheaper, Faster, dan Safer. Inovasi yang dilakukan untuk peningkatan produktivitas perusahaan antara lain dengan menggunakan berbagai teknologi seperti Optical Character Recognition (OCR), Voice & Face Biometrics, e-KYC, VoIP dan Video Call. “Optimalisasi teknologi dan perangkat digital ini dioperasional Halo BCA yang Better, Cheaper,Faster, Safer,” tuturnya.
Tak hanya itu, BCA juga berupaya memperkuat kapabilitas infrastruktur IT dengan membangun data center baru (BNDC), integrasi dengan perusahaan anak, serta modernisasi infrastruktur.
BCA juga memperkokoh Sistem Keamanan dan Reliabilitas dengan menyiapkan sistem pengawasan untuk semua ancaman dan serangan terhadap sistem teknologi informasi BCA, baik secara internal maupun eksternal.
“Kami juga melakukan optimalisasi penggunaan teknologi Machine Learning dan Artificial Intelligence untuk melakukan deteksi awal terhadap anomali lalu lintas data di jaringan dan database BCA,” tutur Wani.
Aditya Cakrawidya menambahkan, digitalisasi di BCA menerapkan Low Code atau Citizen Developer, di mana dalam pengembangan suatu aplikasi tidak hanya tergantung pada divisi IT, tapi seluruh divisi di BCA dengan menggunakan tools Low Code.
“Kami juga menerapkan Hybrid Multicloud baik private cloud dan public cloud, dimana untuk proses development aplikasi kami ada yang ditaruh di private cloud dan ada yang di public cloud untuk pengembangan yang lebih cepat ke depannya. Dengan menggunakan Hybrid Multicloud ini, kami bisa reduce cost, reduce operations dan faster provisioning,” tutur Adit.
Tidak hanya itu, BCA juga memiliki BCA Labs atau BCA Jogja Development Labs yang berada di Kota Yogyakarta. BCA Labs ini untuk mengumpulkan para IT developer, product designer dan engineer untuk membuat mini start up di Yogyakarta
Digital KYC
Menurut Adit, ada beberapa solusi bisnis terkait pengembangan bisnis di BCA antara lain Digital KYC yang diluncurkan pada akhir 2021. Ini adalah inovasi ini untuk mendigitalisasikan proses Know Your Customer (KYC) pada saat proses pembukaan rekening. Saat ini, nasabah bisa membuka rekening tidak hanya di cabang, tapi juga secara online melalui BCA Mobile.
“Bisa dibuka kapan pun, 24 jam per 7 hari. Di akhir proses KYC atau verifikasi customer, akan dibantu oleh agen kami untuk verifikasinya,” kata Adit.
Dari 2017 hingga saat ini, transaksi online di BCA mengalami perkembangan yang eksponensial, meningkat hingga 25 kali lipat, dari 11.923 pada awal 2019 menjadi 307.546 transaksi pada 2021. “Itu sangat luar biasa, tapi kita perlu mawas diri dan melihat apakah operasional sistem ini bisa membantu peningkatan eksponensial yang terjadi,” tuturnya.
Berdasarkan data, pertumbuhan agent BCA juga linear dengan kenaikan transaksi tersebut. Dari 2019 sebanyak 150 agen, kemudian secara bertahap naik menjadi 455 agen pada akhir tahun 2021.
Hasil dari digitalisasi KYC sangat terlihat dari sebelumnya. Sebelumnya atau saat KYC dilakukan manual, satu agen menghandle 457 transaksi per bulan. Sekarang dengan Digital KYC, satu agen bisa menghandle sampai 684 transaksi per bulan atau terjadi peningkatan sampai 50 persen.
“Tahun 2022 ini kita sebenarnya ada plan jumlah agen sebanyak 600 agen, tapi realisasinya 472 agen dan itu sudah mencukupi karena adanya Digital KYC. Itu berarti ada efisiensi 128 orang agen,” tutur Adit.
HaloBCA Apps
Selain Digital KYC, solusi bisnis selanjutnya terkait layanan konsumen. Menurut Angela Wanodya Sawangi, ada banyak aplikasi yang sudah dirilis BCA, mulai dari BCA Mobile, Halo BCA, eBranch BCA, My BCA, InfoBCA, dan terbaru yang diimplementasikan sejak Juli 2021 adalah HaloBCA Apps untuk nasabah maupun yang belum menjadi nasabah BCA.
“Dengan aplikasi baru ini, dulu jika nasabah sedang berada di luar negeri, karena tidak semua provider internasional bisa tersambung dengan Halo BCA meski sudah diaktifkan rooming, maka hanya bisa menghubungi lewat sosial media Halo BCA saja. Tapi dengan HaloBCA Apps itu jadi tidak masalah karena hanya butuh data internet,” tutur Angela.
Aplikasi HaloBCA juga menghapus biaya telekomunikasi untuk provider dan biaya subsidi interkoneksi per menit jika dihubungi dari luar Jabodetabek atau menggunakan handphone. “Aplikasi HaloBCA kini sudah didownload oleh 3 juta masyarakat Indonesia,” ujang Angela.
Menurut Adit, digitalisasi di BCA dilakukan dari sisi People, Process dan Technlogy. Dari sisi People, BCA meningkatkan security awareness untuk semua pegawai, management, dan customer. Itu karena 99% kasus banking fraud karena social engineering.
Upaya yang dilakukan antara lain digital media campaign Anti Fraud Awareness di banyak channel seperti sosial media. Selain itu, BCA juga memiliki acara BCA Talk yang memanfaatkan media televisi nasional dan media online.
“Kami juga kerja sama dengan Google Indonesia dan Facebook Indonesia serta dengan para provider telekomunikasi antara lain Telkom Indonesia, Telkomsel, Indosat dan XL Axiata,” ujar Adit.
Kerja sama yang baik juga dilakukan dengan Kementerian Kominfo, Divisi Cyber Polri, dan di internal BCA juga memiliki FBI Team (Fraud & Banking Investigation). Untuk proses pengembangan IT di BCA selalu mematuhi ketentuan baik regulasi BI, OJK, Kominfo, dan Polri. “Dari sisi teknologi kami juga selalu meningkatkan security baik dari sisi network, platform/server, aplikasi, dan data,” tutur Adit.
Pencapaian Membanggakan
Menurut Angela, salah satu pencapaian yang membanggakan dari digitalisasi ini adalah penambahan jumlah rekening yang naik di atas target yang ditetapkan. Ketika pertama kali payment online diluncurkan tahun 2019, jumlah rekening BCA ada 19 juta. Perusahaan menargetkan penambahan sebanyak 600 ribu rekening pada Januari 2019, kemudian naik menjadi 1,5 juta rekening pada 2020, 2 juta rekening pada Januari 2021, 3,5 juta rekening pada Januari 2022 dan 4 juta rekening pada 2023. Dengan demikian, total jumlah rekening BCA pada tahun Januari 2023 ditargetkan mencapai 30 juta rekening. Artinya selama enam tahun harus tercapai penambahan 4.200 rekening per hari.
Tak disangka, kata dia, pandemi covid-19 justru menjadi blessing indisguise bagi BCA karena ada pertumbuhan jumlah rekening 455 persen per hari. Pada Februari 2020, penambahan rekening rata-rata 1.700 rekening per hari. Kemudian naik menjadi 7 ribu rekening per hari pada Juli 2020. Pada Juli 2021 meningkat lagi menjadi 10 ribu rekening per hari dan pada Juli 2022 naik hingga menjadi 15 ribu rekening per hari. “Pencapaian tertinggi kami pada Juni 2022 dengan penambahan18.268 rekening per hari,” kata Angela.
Pada Januari 2022, total jumlah rekening BCA sudah mencapai 28 juta atau sudah sangat dekat dari target 30 juta pada 2023. Dengan pertumbuhan 5,6 kali dalam dua tahun terakhir, pada Juni 2022 sudah tercapai 31 juta rekening. Ini artinya target 2023 sudah terlampaui pada pertengahan tahun 2022 ini.
“Wajah baru bank saat ini adalah pembukaan rekening online. Jika dilakukan secara konvensional di cabang BCA per hari maksimal 90 rekening, dengan sentralisasi layanan digital, pembukaan rekening per hari bisa mencapai 15 ribu rekening. Bank-bank lain harus beralih ke pembukaan rekening online,” ujarnya.
Angela juga mengungkapkan pencapaian Halo BCA Apps yang mampu membuat efisiensi senilai Rp 39,67 miliar yang dihitung sejak Juli 2021 hingga saat ini. Efisiensi itu berasal dari pengurangan biaya interkoneksi dari setiap nasabah yang telepon. “Walaupun baru setahun rilis, sampai September 2022 yang menggunakan Voip Halo BCA Aps sudah 52 persen,” katanya.
Kesuksesan digitalisasi BCA melalui Digital KYC dan pembukaan rekening online ini terlihat jelas dari CASA (current account saving account) yang terus meningkat sejak Jun 2021. Juni 2022, angk CASA Ratio BCA mencapai 80,9 persen dan CASA CAGR mencapai 12 persen.
