Jakarta, TopBusiness – Salah satu perusahaan milik bos Maktour, Fuad Hasan Masyhur yakni PT Menthobi Karyatama Raya Tbk (MKTR) siap melantai ke Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui skema penawaran umum perdana saham atau Initial Public offering (IPO).
Momen IPO ini dirasa pas lantaran ektor komoditas Indonesia yang terus tumbuh positif. Salash atuya sector kelapa sawit (CPO). Diperkirakan, dalam empat tahun mendatang atau pada 2026, pasar global minyak sawit diperkirakan akan mencapai USD 106 miliar, tumbuh hampir dua kali lipat dibanding 2020 yang USD 54,8 miliar.
Selain itu, potensi kenaikan harga CPO juga sangat terbuka untuk terus mengalami kenaikan. Seperti pada April 2022 kemarin, harga CPO sempat menyentuh harga all time high di level MYR 7.104/ton.
“Saat ini merupakan momentum yang baik bagi perusahaan untuk melakukan pengembangan dan ekspansi bisnis dengan mencari sumber pendanaan melalui IPO. Hal itu dikarenakan kondisi industri yang tengah positif, dimana permintaan komoditas CPO di dalam negeri dan global terus meningkat,” kata Direktur Utama MKTR, Harry M. Nadir, dalam Paparan Publik (Public Expose) rencana IPO PT Menthobi Karyatama Raya Tbk di Financial Hall, Graha CIMB Niaga, Jakarta, Jumat (21/10/2022).
Di tempat yang sama, bos Maktour, Fuad Hasan mengatakan, “Kemarin-kemarin kita fokus dalam dunia ibadah umroh (melalui Maktour Indonesia), dan hari ini kita fokus dalam dunia usaha melalui IPO ini yakni Menthobi Karyatama Raya.”
Sementara itu, ketika ditanya terkait dengan rencana IPO Maktour Travel ini, Fuad Hasan Masyhur mengaku tak berniat melakukan IPO biro jasa haji dan umrah tersebut. Kata Fuad, ia ingin lebih mengedapankan urusan ibadah dan tidak ingin terlalu mencampurkan dengan urusan komersial.
“Kalau Maktour-nya jangan lah, begitu dari dulu orang berharap, dari kalangan pimpinan-pimpinan dari bursa (BEI) yang lalu juga meminta untuk bisa Maktour, tapi karena saya lebih kedepankan dari aspek peribadatannya jangan kita campurkan dengan segi terlalu komersial, saya nggak inginkan itu,” tutur Fuad.
IPO MKTR
Dalam proses IPO ini, MKTR menawarkan sebanyak 2,5 miliar lembar saham atau 20,83% dari modal ditempatkan dan disetor kepada publik. Harga yang ditawarkan antara Rp 100 per saham hingga Rp 150 per saham. Dari nilai penawaran tersebut, perusahaan menargetkan dapat memperoleh dana sebanyak-banyaknya Rp 375 miliar.
Harry M. Nadir menambahkan, sumber dana dari IPO diharapkan dapat mendukung rencana pengembangan dan ekspansi bisnis yang dilakukan perusahaan. Hal itu dilihat dari mayoritas dana IPO atau sebesar 95,01% yang akan digunakan untuk pengembangan usaha dan ekspansi bisnis melalui sejumlah entitas anak usaha yang dimiliki.
Di antaranya yaitu pembangunan fasilitas pengelolaan limbah menjadi pupuk yang akan dilakukan melalui PT Menthobi Hijau Lestari (MHL). Kemudian pembelian sarana transportasi dan alat berat melalui Menthobi Transtitian Raya (MTR), dan pembelian bibit sawit melalui PT Menthobi Agro Raya (MAR).
MKTR akan melakukan pembebasan lahan perkebunan dan perluasan lahan tanaman baru 1.200 hektar (Ha) melalui PT Menthobi Makmur Lestari (MMAL). Melalui MMAL, perseroan juga akan membangun fasilitas water management untuk mendukung perluasan lahan yang dilakukan.
“Sejalan dengan meningkatnya produksi Tandan Buah Segar (TBS) dari MMAL maupun dari pihak ketiga, maka dana IPO juga akan digunakan untuk penyempurnaan pembangunan pabrik kelapa sawit seperti maintenance, perbaikan stasiun utama, dan stasiun pendukung beserta sarana penunjangnya,” kata Harry M Nadir.
Selain untuk ekspansi usaha, lanjut Harry, MKTR juga akan menggunakan dana IPO sebanyak 4,99% sebagai modal kerja. “Selain melalui pengembangan usaha, kenaikan harga CPO diharapkan juga dapat berkontribusi positif bagi kenaikan pendapatan MKTR,” ujar Harry.
Dalam beberapa tahun terakhir, pengembangan usaha yang dilakukan MKTR sudah terlihat dari konsistensi pertumbuhan pendapatan. Seperti di tahun 2019, MKTR membukukan pendapatan Rp 154 miliar, dan tahun 2020 memperoleh pendapatan Rp 228 miliar.
Lalu di tahun 2021, pendapatan MKTR kembali tumbuh secara signifikan, yaitu mencapai Rp 512 miliar. “Dan sampai dengan Kuartal III 2022 kemarin, pendapatan MKTR sudah tercatat Rp 490 miliar, dari target akhir tahun 2022 yang sebesar Rp565 miliar,” kata Harry.
Menurut Harry, peningkatan pendapatan MKTR kedepan akan ditopang oleh pertumbuhan produksi yang didukung oleh profil tanaman yang masih muda yang dimiliki perusahaan. Kemudian, luas lahan yang belum tertanam akan turut mendukung penanaman baru dan pertumbuhan produksi TBS di masa yang akan datang.
“Dengan tim manajemen yang telah berpengalaman lebih dari 20 tahun dibidang ini, MKTR berkomitmen untuk membangun agrobisnis dengan Inovasi Best Practice Agronomi yang berkelanjutan serta ramah lingkungan untuk menghasilkan nilai tambah optimal kepada seluruh pemangku kepentingan,” pungkas Harry.
