Jakarta, TopBusiness – Indeks harga saham gabungan atau IHSG di Bursa Efek Indonesia hingga penutupan perdagangan Selasa (01/11/2022), diperkirakan bergerak melemah.
Dalam riset harian Samuel Sekuritas Indonesia melalui samuel.co.id, di Jakarta, memperlihatkan judul IHSG Berpotensi Bergerak Melemah.
Bursa AS semalam ditutup melemah, yang ditandai dengan DJIA -0,39%, S&P500 0,75%, dan Nasdaq 1,03%. Kemungkinan karena pasar masih akan memperhatikan keputusan the Fed atas suku bunga. Selain itu, DJIA juga telah membukukan performa bulanan terbaik sejak Januari 1976 seiring rotasi sektor dari teknologi ke sektor lain seperti perbankan. Stock futures terpantau stagnant.
Rilis data ekonomi yang menjadi perhatian malam ini. ISM Manufacturing PMI (Cons: 50,9; Prev: 50), JOLTs Job Openings bulan September (Cons: 10mn; Prev: 10,053mn).
Beberapa harga komoditas mayoritas melemah. Contoh, batu bara turun 7,6% menjadi USD356,3/ton, Brent 1,3% menjadi USD92,6/bbl, nikel 0,9%, emas 0,5%, namun CPO agak naik (1,6%) ke RM4.054/ton.
Pada akhir perdagangan kemarin, IHSG ditutup naik 0,61% ke level 7,098.9. Top leading movers emiten BMRI, ASII, BBCA, sementara top lagging movers emiten TLKM, GOTO, UNVR. Investor asing kemarin mencatatkan keseluruhan net buy sebesar Rp 963 miliar. Pasar reguler asing mencatatkan net buy Rp 916,3 miliar, dan pada pasar negosiasi tercatat net buy Rp 46,7 miliar. Net buy asing tertinggi di pasar reguler dicatatkan oleh BBCA (Rp 205,9 miliar), BBRI (Rp 138,1 miliar), dan ADRO (Rp 90,6 miliar). Net sell asing tertinggi di pasar reguler dicetak oleh UNVR (Rp 105,1 miliar), KLBF (Rp 31,9 miliar), dan MIKA (Rp 16,6 miliar). Adapun top sector gainer kemarin adalah sektor IDXENER, sementara yang menjadi top sector loser kemarin adalah sektor IDXINDUS.
“Kami perkirakan IHSG hari ini bergerak melemah seiring sentimen beragam di pasar global, regional dan komoditas,” demikian tertulis.
