Jakarta, TopBusiness—Setelah dua tahun mengambil kebijakan fiskal yang akomodatif untuk menghadapi dampak negatif Covid terhadap kesehatan penduduk, pendapatan, dan lapangan kerja, pemerintah Asean-6 (RI, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam) kembali ke sikap konsolidasi tahun ini.
“Kami memerkirakan defisit fiskal menyempit lebih lanjut pada 2023,”kata ekonom Bank DBS, Radhika Rao, dalam analisis terbaru yang diterima hari ini oleh Majalah TopBusiness.
Hal itu diperlukan karena tiga alasan. Yakni untuk menjaga kebijakan fiskal selaras dengan perubahan kebijakan moneter (kebijakan suku bunga acuan rendah); melengkapi upaya untuk menekan inflasi dan ekspektasi inflasi; menjaga agar kondisi fiskal dan posisi utang tidak memburuk seiring dengan kenaikan bunga pinjaman.
Pembukaan kembali serta kenaikan harga komoditas yang membantu kinerja, menjadi penopang pendapatan sebagian besar negara Asean-6 tahun ini, selain tingkat pertumbuhan nominal yang tinggi. Hal ini membantu mengurangi pengeluaran paket bantuan pada masa pandemi secara bertahap dan kondisi keuangan negara. Dinamika akan berbeda pada tahun depan.
“Walau dibenarkan dan diperlukan, pemerintah menghadapi masalah pelik tahun depan terkait kecepatan penurunan defisit karena pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat. Defisit diperkirakan tetap lebih tinggi jika dibandingkan dengan masa sebelum pandemi,” kata dia.
