Jakarta, TopBusiness—Platform digital telah menjadi solusi bagi UMKM di Asia Tenggara untuk bertahan dari pandemi. Layanan keuangan digital muncul sebagai pendukung penting.
“Pedagang yang telah onboarding pun saat ini telah merasakan dampak digitalisasi. Lebih dari 90 persen pedagang daring akan terus menggunakan teknologi digital dari sisi pembayaran, pemasaran, dan hal-hal penunjang perdagangan lainnya,” kata Wakil Menteri Perdagangan RI (Wamendag) Jerry Sambuaga, hari ini.
Bank Indonesia mencatat, pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dari sisi perdagangan tercermin dari pertumbuhan niaga-el yang signifikan. Sepanjang semester I 2022, transaksi niaga-el meningkat secara nominal sebesar 22,1 persen (year-on-year) hingga mencapai Rp227,8 triliun. Dan secara volume meningkat sebesar 39,9 persen (yoy) hingga mencapai 1,74 juta transaksi.
Wamendag mengatakan secara tertulis hari ini bahwa pada 2030, niaga-el business-to-business (B2B) dan business-to-consumer (B2C) lokapasar diproyeksikan dapat menyumbang nilai tertinggi dalam ekosistem ekonomi digital Indonesia, yaitu sebesar Rp1.908 triliun atau 34 persen.
Wamendag mengemukakan, tingginya potensi ekonomi digital tersebut juga tak lepas dari terus meningkatnya jumlah pengguna internet di Indonesia. Saat ini, sekitar 202,6 juta penduduk Indonesia telah memiliki akses terhadap internet dan pandemi Covid-19 juga menjadi momentum akselerasi transformasi perdagangan digital di Indonesia.
“Harapannya, perdagangan digital juga akan memperbaiki pertumbuhan ekonomi Indonesia. Misalnya, melalui peningkatan efisiensi sektor logistik dan industri,” tandas wamendag.
