Jakarta, TopBusiness – Pemerintah optimistis defisit APBN akan berada di bawah 3 persen atau sekitar 2,8 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Angka defisit tersebut lebih rendah dibandingkan pagu yang ditetapkan dalam APBN 2022 sebesar Rp 840,2 triliun atau 4,5 persen dari PDB serta lebih rendah dari perkiraan pemerintah pada Juli 2022 sebesar 3,92 persen dari PDB.
Sementara itu realisasi defisit per Oktober 2022 baru sebesar Rp169,5 triliun atau 0,91 persen dari PDB.
“Nanti kita lihat, ini (defisit APBN) bisa di 2,8 persen atau lebih rendah lagi,” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu seperti dikutip, Jumat (9/12/2022).
Menurutnya, kinerja pertumbuhan ekonomi yang moncer sepanjang tahun berjalan menjadi salah satu alasan kuat defisit akan di bawah 3 persen. Selain itu, kinerja penerimaan negara pun memiliki prospek yang baik, terutama pajak.
Target penerimaan pajak pun telah melampaui target Rp 1.485 triliun yaitu sebesar Rp 1.580 triliun per Selasa (6/12/2022) dan belanja negara hingga Oktober 2022 terserap Rp 2.351,1 triliun atau 75,7 persen dari target sebesar Rp 3.106,4 triliun.
Ia berharap realisasi belanja tahun ini bisa seperti rata-rata penyerapan belanja negara pada tahun-tahun sebelumnya yakni di atas 95 persen sehingga berdampak terhadap indikator dan pertumbuhan ekonomi.
Untuk pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2022, Febrio memperkirakan akan sedikit di bawah 5 persen hingga 5 persen karena dipenuhi dengan lebih banyak tantangan dibanding kuartal III.
Meski demikian, Febrio optimistis pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2022 masih mampu menyentuh 5,2 persen bahkan sedikit lebih tinggi.
