Jakarta, TopBusiness – Indeks harga saham gabungan atau IHSG di PT Bursa Efek Indonesia hingga penutupan perdagangan hari ini berpotensi melemah.
Daily Research Report oleh Samuel Research Team yang dipublikasikan PT Samuel Sekuritas Indonesia melalui website samuel.co.id, menyatakan bahwa IHSG Berpotensi Bergerak Melemah.
Bursa AS semalam ditutup melemah. DJIA -2,25%, S&P500 2,49%, dan Nasdaq 3,23%. Hal ini terjadi seiring kekhawatiran atas melemahnya belanja konsumen, yang menjadi tanda adanya pelemahan ekonomi. Berdasarkan data penjulan retail AS bulan November yang rilis hari Kamis (15/12) malam. Penjulan retail turun-0,6%MoM (Cons: -0,1%MoM; Prev: +1,3%MoM). Dow berjangka terpantau stagnan.
Pasar komoditas mayoritas menurun, harga Brent turun 1,45% menjadi USD81,5/bbl, batu bara turun 0,25% ke level USD403/ton, emas 1,72%, CPO 1,82% ke RM3.878/ton, dan nikel agak stagnan (-0,24%) menjadi USD28,296/ton.
Pada akhir perdagangan kemarin, IHSG ditutup turun 0,73% ke level 6.751,9. Investor asing kemarin mencatatkan keseluruhan net buy sebesar Rp 671,1 miliar. Di pasar reguler, investor asing mencatatkan net sell Rp 1.066,3 miliar, dan pada negosiasi pasar tercatat net buy asing Rp 1.737,4 miliar. Net buy asing tertinggi di pasar reguler dicatatkan oleh CPIN (Rp 15 miliar), BUKA (Rp 11,7 miliar), dan BBYB (Rp 11,6 miliar). Net sell asing tertinggi di pasar reguler dicetak oleh BBCA (Rp 288,5 miliar), TLKM (Rp 167,4 miliar), dan ASII (Rp 149,9 miliar). Penggerak terkemuka teratas menghasilkan GOTO, DCII, SMGR, sementara penggerak tertinggal teratas menghasilkan BBRI, TLKM, BBCA.
Terdapat penambahan 1.785 kasus baru COVID-19 di hari Kamis (16/12) dengan positivity rate sebesar 9,18% (total kasus aktif: 33.424). Sebanyak 3.779 pasien telah sembuh dengan tingkat kesembuhan sebesar 97,1%.
“IHSG kami perkirakan akan bergerak melemah seiring tren pelemahan di bursa global dan pasar komoditas,” demikian tertulis.
