Jakarta, TopBusiness – Perusahaan Daerah Air Minum atau PDAM Mual Na Tio Kabupaten Tapanuli Utara memiliki rencana strategis guna melayani masyarakat dalam rangka pemenuhan kebutuhan air minum. Hal tersebut dapat dilakukan, bilamana manajemen dapat mengoptimalkan kompetensi dan integritas dari masing-masing karyawan, serta melaksanakan GCG dengan ditopang manajemen risiko.
Saat sesi pendalaman materi presentasi dalam penjurian TOP BUMD Awards 2023, yang berlangsung dalam jaringan alias online melalui aplikasi zoom meeting, di Jakarta, Senin (23/01/2023), Direktur PDAM Mual Na Tio, Lamtagon Manalu, menyatakan bahwa pihaknya bercita-cita dan target agar masyarakat mendapati layanan air layak minum.
“Target kami di pengujung tahun ini adalah bahwa seluruh masyarakat yang menjadi pelanggan PDAM bisa mendapatkan layanan air minum dengan kuantitas dan kualitas yang tercukupi, kalau memang sekarang itu belum. Tapi, target kami di Desember,” jelas dia, di hadapan Dewan Juri TOP BUMD Awards 2023.
Dalam konteks memenuhi kebutuhan air layak minum tersebut, manajemen mengupayakan agar sumber daya manusia dapat melakukan kinerja operasional dan layanan yang terbaik dengan melakukan pelatihan-pelatihan.
“Kemudian, strategi yang kami lakukan untuk mencapai itu adalah yang pertama menyiapkan sumber daya. Itu sudah kami siapkan, baik melalui formal maupun informal. Yang dimaksudkan dengan pelatihan formal itu adalah dilakukan oleh lembaga yang tersertifikasi, dan informal dilakukan secara magang-magang dengan mengunjungi PDAM-PDAM yang sudah lebih maju,” papar dia.
Lamtagon sudah mengerti benar, apabila meningkatkan kinerja pun harus dibarengi dengan pembiayaan yang mendukung. Pasalnya, sesuai dengan upaya untuk menciptakan produk-produk yang terbaik dan diterima di masyarakat.
Sehubungan hal tersebut, dirinya mengakui bahwa manajemen tengah melakukan diskusi untuk menyesuaikan tarif yang berlaku.
“Nah tentu yang berikutnya adalah berhubungan dengan pembiayaan. Di bulan-bulan ke depan ini, kami menyiapkan berbagai langkah antisipasi skema tarif yang akan dilakukan nanti. Jadi, dengan terpenuhi semua air dengan kualitas air yang sudah terpenuhi juga, maka kami harus memenuhi pembiayaannya yaitu melalui skema tarif, nanti akan dilakukan diskusi antara PDAM dengan pemerintah, skema mana yang mau dipilih dengan menyesuaikan atau menaikkan tarif, atau dengan subsidi,” jelas dia.
Dia menyatakan, karena dengan bertambahnya pipa tentu akan menambah biaya yang menurut perkiraan dapat mencapai Rp 120 juta per bulan, atau kalau 1 tahun kurang lebih sekitar Rp 1,5 miliar. “Harus ada upaya rancangan untuk mengantisipasi ini.,” ujarnya.
Kendati begitu, dalam penilaian Lamtagon, hal yang paling penting yang mesti dilakukan adalah mengurangi angka defisit dari pemenuhan akan debit air minum itu sendiri. “Kemudian langkah yang paling strategis adalah penambahan debit air dan tinggal menunggu kapan selesainya. Jadi mudah-mudahan di akhir tahun ini bisa tuntas,” harap dia.
Dia juga berharap, perusahaan dapat mengedepankan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG) dalam menjalankan roda layanan pemenuhan kebutuhan akan air minum tersebut.
“Semua termasuk dengan GCG yang sudah kami siapkan. GCG ini sebenarnya ada beberapa. tapi yang paling penting adalah bagaimana komitmen bersama direksi, dewan pengawas dan pemilik modal atau kepala daerah dalam meningkatkan kinerja PDAM ini,” urainya.
Tak terkecuali, Lamtagon mengatakan bahwa dalam GCG tersebut harus memuat juga terkait dengan pelaksanaan manajemen risiko dengan mencontohkannya. “Kemudian GCG itu juga memuat bagaimana nanti manajemen risiko. Contoh masih ada jaringan perpipaan yang dibangun tahun 70-an seharusnya tidak dipakai lagi. Apa langkah ke situ, sudahkah mengatur itu juga?. Dan seiring dengan terpenuhinya debit, dengan kualitas yang baik bisa juga mengarah ke situ selesai dengan waktu yang tepat,” dijelaskan dia.
