Jakarta, TopBusiness – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) akhirnya resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Jumat (24/2/2023). Meski sempat merosot usai listing perdana, namun pemerintah enggan menyebut proses IPO ini dibilang tidak sukses. Sebab, harus dilihat secara komprehensif, termasuk fundamental perusahaan yang sangat kuat.
“Saya rasa kalau dibilang tidak sukses tidak juga. Kita harus melihat bagaimana IPO itu dari sisi fundamental. (Karena) hasil dana yang dihimpun besar, Rp9 triliun, itu kalau menurut saya dari jumlah yang ditawarkan dengan kebutuhan dana kita ternyata oversubscribe dengan angka yang cukup baik,” kilah Wakil Menteri BUMN (Wamen BUMN) I Pahala Nugraha Mansury dalam konferensi pers, di Gedung BEI, Jumat (24/3/2023).
Untuk diketahui, IPO Perseroan sendiri mengalami kelebihan permintaan alias oversubscribed hingga 3,81 kali dari porsi pooling, melampaui target yang telah ditetapkan sebelumnya. Hal ini merupakan pencapaian yang sangat cerah bagi Perseroan dan sebagai indikator positif tingkat kepercayaan investor kepada PGE.
PGE sendiri telah menyelesaikan roadshow ke sejumlah negara selain Indonesia, di antaranya Singapura, Hong Kong, London, dan New York untuk mengundang investor domestik maupun investor asing untuk ikut berpartisipasi dalam penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) Pertamina Geothermal Energy.
PGE berhasil menarik minat investor domestik maupun investor multinasional yang berkualitas untuk berpartisipasi dalam IPO PGE. Adapun beberapa investor domestik dan multinasional yang turut berpartisipasi dalam IPO PGE antara lain adalah Indonesia Investment Authority (INA) dan Masdar, perusahaan clean energy yang berkantor pusat di United Arab Emirates (UAE).
Kata Pahala, dirinya mengaku kurang setuju jika IPO Pertamina Geothermal Energy disebut tidak sukses. Dia bilang, masyarakat maupun investor harus melihat kinerja secara menyeluruh. Ia juga berharap dengan pencatatan saham di BEI ini, investor akan melihat dari sisi kinerja fundamental serta kinerja perusahaan dalam jangka menengah atau jangka panjang.
“Dilihat saja kinerja perusahaan ke depan, karena harapan kami pasar modal melihat bagaimana fundamental,” jelas Pahala.
“Saat ini EBITDA sekitar US$ 244 juta dolar. Jadi bukan merupakan perusahaan kecil akan tetapi kian establish dan ada kesempatan bertumbuh lebih besar sebagai salah satu inisiatif Kementerian BUMN dan Pertamna untuk melakukan akuntabilitas dan mendorong pertumbuha ke depannya,” imbuh Pahala.
Mengutip data RTI, saham PGEO dibuka naik Rp 50 ke posisi Rp 925 per saham dari harga awal Rp 875. Harga saham PGEO berada di posisi Rp 815 atau turun 6,86 persen pada pukul 11.40 WIB.
Saham PGEO berada di level tertinggi Rp 925 dan terendah Rp 815 per saham. Total frekuensi perdagangan 38.032 kali dengan volume perdagangan 448,56 juta saham. Nilai transaksi harian Rp 373,12 miliar.
