Jakarta, TopBusiness – Banyak cara yang perusahaan lakukan dalam menggelar program tanggung awab sosialnya atau Corporate Social Responsibility (CSR). Sebuah program CSR yang menguntungkan masyarakat di sekitar wilayah operasinya, sekaligus juga bermanfaat besar bagi perusahaan tersebut.
Hal ini yang dilakukan oleh PT Pertamina Hulu Energi Offshore South East Sumatera atau PHE OSES. Anak usaha PT Pertamina (Persero) itu melakukan program CSR-nya dengan nama-nama unik. Di situ ada Pelaut Tangguh, Palu Gada, dan Seru Lara. Meski begitu, tak hanya nama yang unik, tapi manfaatnya besar terhadap masyarakat, lingkungan, dan perusahaan.
“Pelaut Tangguh adalah program Peningkatan Manfaat Laut untuk Masyarakat yang Tanggap, Guyub, dan Harmonis. Palu Gada merupakan Panggang Lestari dan Mandiri Mendukung Pariwisata yang Berkelanjutan. Dan Seru Lara yaitu Konservasi Penyu Pulau, Rehabilitasi Mangrove, dan Terumbu Karang,” tutur Baskoro A. Pratomo selaku Comrel & CID Zona 6 PHE OSES saat mengikuti sesi wawancara penjurian TOP CSR Awards 2023 yang digelar Majalah TopBusiness, Senin (20/3/2023), secara daring.
Dalam sesi kali ini, Baskoro didampingi Norma A (Community Development Officer) dan Dibyo (Community Development Officer). Mereka memaparkan sederet program CSR yang sudah dilakukan di tahun lalu.
Profil Perusahaan
Sebagai informasi, PT Pertamina Hulu Energi OSES merupakan anak usaha PT Pertamina (Persero) yang melakukan usaha ekplorasi dan produksi minyak dan gas di wilayah offshore atau lepas pantai untuk wilayah Sumatera bagian tenggara atau tepatnya di Bangka Belitung dan Lampung Timur, kemudian di Serang, Banten, serta Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.
Di tahun 2022 lalu, produksi minyak PHE OSES sebanyak 19,64 MBOPD dengan produksi gasnya mencapai 39,46 MMSCFD di tahun lalu.
Perusahaan memiliki Visi, ‘Menjadi Perusahaan Eksplorasi dan Produksi Minyak dan Gas Bumi Kelas Dunia’ dan Misi ‘Melaksanakan pengelolaan operasi dan portofolio usaha sektor hulu minyak dan gas bumi secara professional dan berdaya laba tinggi serta memberikan nilai tambah bagi stakeholder.’
Dalam melakukan aktivitas usahanya, PHE OSES ini menjalankan bisnis eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi secara professional, aman, optimal, efisien, handal dan berwawasan lingkungan.
Baskoro kembali menjelaskan, sebagai perusahaan yang bertanggung jawab atas aktivitas usahanya, PHE OSES pun membuat rumusan strategi CSR untuk mengelola dampak yang ditimbulkannya. Yakni dengan melakukan dan menjaga keseimbangan bisnis secara efektif dan efisien antara operasi dan tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan mempertimbangkan peraturan perundang-undangan, tata nilai unggulan Perseroan serta prinsip-prinsip good corporate governance (GCG).
Kemudian, turut serta dalam upaya pengendalian perubahan iklim yang diwujudkan melalui kegiatan yang mendukung pengelolaan lingkungan, penghijauan dan pelestarian keanekaragaman hayati. Lalu, melaksanakan pemberdayaan masyarakat yang berkearifan lokal dengan mengangkat potensi unggulan di wilayah operasi perseroan yang disertai pembinaan hubungan baik dengan berbagai pemangku kepentingan terkait (SE).
Juga digelar peningkatan taraf hidup masyarakat di sekitar wilayah operasi dengan memberikan prioritas pada aspek lingkungan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial-budaya dan infrastruktur. Kemudian, memberikan manfaat dan inovasi sosial kepada masyarakat secara berkelanjutan berdasarkan prinsip kemandirian melalui aspek sumber daya, kelembagaan, dan jaringan. Serta terakhir, proaktif dan responsif terhadap upaya penanggulangan bencana.
Adapun untuk rumusan tujuan pengelolaan tanggung jawab sosial dalam mendukung strategi bisnis berkelanjutan adalah, mewujudkan social license to operate yang kondusif bagi kegiatan operasional perusahaan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah kerja perusahaan melalui pemberdayaan yang mandiri dan berkelanjutan sesuai dengan pedoman Sustainable Development Goals (SDGs).
Program Unggulan
Baskoro pun memaparkan tiga program CSR unggulan tadi yakni Pelaut Tanggung, Palu Gada, dan Seru Lara. Program Pelaut Tangguh ini berupa program pemberdayaan masyarakat sekitar sekaligus untuk menjaga Lingkungan-Kelautan.
“Inisiatif program ini adalah berupa inovasi Bubu Tutupan Goni (Bu Toni) yang didesain untuk memudahkan nelayan dalam melakukan praktek penangkapan ikan lebih efektif dan produktif tanpa merusak ekosistem terumbu karang,” katanya.
Porgam ini memiliki keunggulan yakni Based on research, sehingga lebih efektif secara metode pengoperasian (tidak perlu menyelam untuk meletakkan terumbu karang di atas bubu), dan murah (memanfaatkan limbah), serta efisiensi BBM saat melaut. Sementara manfaatnya adalah, adanya perubahan perilaku penangkapan ikan destruktif nelayan bubu menjadi ramah lingkungan, serta meningkatkan hasil tangkapan ikan.
“Program ini dilatarbelakangi adanya pandemi Covid-19, sehingga ada inisiasi program ini yang di-support oleh Pertamina melali program CSR ini. Dengan beberapa kondisi yang ada adalah, sebanyak 54% SDM masuk dalam kategori pendidikan rendah (SD-SMP), lalu pendapatan nelayan juga kurang dari Rp3,5 juta per bulan, sementara potensi usai produktif sampai 70% denggan otensi sumber daya perikanan mencapai 700 ton tahun 2022, serta kelompok nelayan ini rentan terhadap perubahan iklim dan cuaca. Sehingga dibentuklah program Pelaut Tangguh ini,” beber Baskoro.
Dan ternyata, lanjut dia, dengan adanya program ini, berdampak positif dengan beberapa indikatornya seperti, bertambahnya lapangan pekerjaan bagi masyarakt di tengah pandemic, bertambahnya pendapatan kelompok melalui pemasangn rumpon ramah lingkungan, perubahan perilaku nelayan bubu dari kebiasaan menggunakan tutupan terumbu karang menjadi karung goni ramah lingkungan, serta meningkatnya kepedulian masyarakat untuk ikut serta berperan menjaga ekosistem laut.
“Jadi, key massage-nya adalah pelaut Tangguh ini didesain untuk meningkatkan kesejahteraan dan kepedulian lingkungan masyarakat. Makanya secara ekonomi meningkat, seperti adanya penghematan biaya penangkapan dari pembuatan rumpon dari 30 liter per trip menjadi 10 liter per trip. Dan peningkatan pendapatan nnelayan sebesar 28% dari Rp39 juta (Juni-Agustus 2022) menjadi Rp51 juta (September-Desember 2022),” terang dia.
Program CSR selanjutnya adalah, Palu Gada. Program ini berupa Pemberdayaan Masyarakat sekaligus pelestarian Lingkungan-Perikanan. Dengan inovasinya pakan alternatif berbasis sumberdaya lokal dalam hal ini adalah limbah organik masyarakat yang dimanfaatkan menggunakan teknologi bio-konversi maggot dari lalat BSF (Black Soldier Fly), serta pengembangan formulasi pakan based on kearifan masyarakat.
Sementara program ini telah memberi manfaat yakni perubahan perilaku pengelolaan sampah masyarakat pulau panggang, berkontribusi menyelesaikan permasalahan sampah, menekan biaya produksi budidaya ikan sehingga keuntungan lebih banyak.
Program CSR ketiga adalah Seru Lara. Masih sama, program ini adalah dalam hal pemberdayaan masyarakat dan ekonomi sekaligus pelestarian lingkungan.
“Program ini berawal dari adanya kondisi bahwa penyu, mangrove, dan juga terumbu karang adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dari Kepulauan Seribu. Dengan adanya kondisi alam yang tidak baik-baik saja, global warming, penambahan penduduk di pulau, serta pencemaran yang diakibatkan oleh aktivitas manusia membuat jumlah penyu yang bertelur di pulau semakin sedikit, abrasi, dan juga jumlah ikan yang semakin menurun. Sehingga tujuan dari program ini adalah mendorong masyarakat untuk bersama-sama terlibat dalam konservasi penyu, rehabilitasi mangrove dan terumbu karang,” papar Baskoro.
Dengan keunggulannya adalah berupa pemberdayaan masyarakat yang dilakukan sekaligus memberikan dampak baik bagi perbaikan lingkungan. Di sisi lain program ini juga memberikan efek domino dalam hal peningkatan pendapatan masyarakat sekitar.
“Yaitu bermanfaat berupa spesies penyu yang sudah diselamatkan sebanyak 8,903 ekor (tahun 2021 & tahun 2022), serta mangrove yang sudah ditanam sebanyak 126,500 batang, dan terumbu karang 300 m2 dengan survival rate 76%,” pungkas dia memberi penjelasan manfaat program Seru Lara ini.
