Jakarta-Thebusinessnews. Sudah menjadi rahasia umum jika pada saat ini peperangan yang berlangsung di dunia, terjadi karena perebutan sumber daya alam. Umumnya ‘peperangan’ atau kompetisi internasional seperti perebutan pasar melalui sistem trans national corporation. Untuk mengatasi perlu kebangkitan tersebut, maka dikawatirkan bangsa Indonesia dikalahkan oleh negara lain.
Menurut Pengajar Lemhanas, A. Yani Antariksa, bahwa berdasarkan data Labkurtannas-Lemhannas RI (2015) Sosial Budaya menduduki Indeks Ketahanan Nasional paling rendah. Urutan Indeks Ketahanan Nasional dari yang tertinggi dan terendah adalah sebagai berikut. Demografis (1), Hankam (2), SKA (3), Ekonomi (4), Geografis (5), Politik (6), Ideologi (7), Sosbud (8). Rendahnya Sosial Budaya di Indonesia tersebut, menyebabkan kurangnya kepatuhan pranata sosial/hukum, kurang keteladanan pemimpin, penegakan hukum belum maksimal, dan generasi muda kurang tertarik sejarah dan ideologi.
“Karena itu pada saat ini diperlukan pembangunan nasionalisme baru, memantapkan wawasan kebangsaan, penguatan pelayanan sosial, merawat keragaman masyarakat dan kebudayaan serta penguatan kualitas dan kompetensi pemuda, agar ia dapat menjadi driver dalam membangun kemandirian bangsa dan sebagai antisipasi terhadap pengaruh globalisasi,” kata dia dalam Diskusi Suluh Nusantara, akhir pekan lalu, Minggu(1/5/2016).
Sementara itu menurut Guru Besar UI, Bambang Wibawarta bahwa Human Capital Index Indonesia di Asean turun menjadi 69 di tahun 2015 dari sebelumnya ranking 53 di tahun 2013. Demikian pula Global Competitiveness Index Ranking Indonesia turun tahun 2015-2016 menjadi 37 dari sebelumnya ranking 34 tahun 2014-2015. Kenyataan ini menyebabkan bangsa Indonesia kehilangan daya saing dan akan lebih sulit menghadapi globalisasi. Untuk itu maka diperlukan strategi kebudayaan untuk dapat dijadikan benteng dalam menghadapi segala tantangan bangsa yang ada.
“Strategi kebudayaan bisa berarti ganda. Pertama, strategi pengembangan dan pelestarian kebudayaan. Kedua, strategi sebagai pendekatan untuk menyelesaikan masalah sosial, ekonomi, dan politik, untuk menghadapi proxy war dan neocortical war yaitu cara perang tanpa penggunaan kekerasan,” kata Bambang Wibawarta.
Di tempat yang sama Pengusaha nasional, Pontjo Sutowo mengharap agar salah satu cara yang harus dilakukan segera oleh bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan dari dalam maupun dari luar adalah membangkitkan kembali kebanggaan sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. “Hanya dengan itu, kita akan survive”, kata dia, (Ir)