Jakarta, TopBusiness – PT Asuransi Sinar Mas atau ASM memiliki strategi bisnis melalui pengembangan produk inovatif yang berawal dari implementasi kepedulian sosial perusahaan atau CSR dan gilirannya menjadi creating shared value (CSV) sebagai dampak situasi dan kondisi ketika itu.
Saat melakukan pemaparan materi presentasi Dumasi M M Samosir, sebagai Direktur Asuransi Sinar Mas, menyatakan beberapa strategi bisnis secara umum dalam mendukung tema Embracing Change & Innovation, To Grow, dalam sesi penjurian TOP CSR Awards 2023 yang berlangsung secara dalam jaringan melalui aplikasi rapat zoom, yang berlangsung di Jakarta, Jumat (14/04/2023).
Menurut dia, strategi bisnis yang pertama adalah pengembangan produk yang inovatif. “Jadi memang kita selalu inovasi terus dalam produk. Mungkin kalau masih ingat tahun 1996, kita pertama kali membentuk Simas Mobil. Itu yang ada jaminan huru-hara karena waktu ada terjadi huru-hara di Indonesia. Jadi di setiap kali ada sesuatu, kita selalu mengutamakan produk. Contohnya di masa pandemi, itu kita datang dengan asuransi Simas Covid-19 yang berawal dari CSR sebenarnya. Dari mula CSR, terus orang-orang bilang kami mau juga dong yang seperti itu. Akhirnya kita menjadikan produk yang namanya Simas Covid-19 yang menjadi CSV kita juga,” kata Dumasi, di hadapan Dewan Juri TOP CSR Awards 2023.
Yang kedua, lanjut Dumasi, mengedepankan underwriting yang prudent dan back up asuransi yang mumpuni. “Mungkin sebagai informasi, saat ini dunia reasuransi di Indonesia memang sedang mengalami masa yang agak sulit dan kita bisa stand up karena kita punya back up reasuransi bukan hanya dalam negeri, tapi juga di luar negeri yang bisa mendukung kita. Memang sih reasuransi di luar negeri juga banyak kendala di masa-masa ini, terutama di masa pandemi. Tapi inilah yang kita lakukan bahwa di depan kita harus prudent dan di belakang kita juga harus ada yang mem-back up, supaya apa-pun yang dihadapi bisa tetap berkelanjutan usahanya,” kata dia.
Ketiga, perluasan kerja sama dengan badan usaha, selain bank serta pengembangan keagenan asuransi. “Jadi kalau kita lihat mungkin kita adalah bagian dari Sinar Mas yang besar, tapi bisnis kita dengan Sinar Mas itu tidak sampai 30 persen, bisnis kita yang terbanyak justru dari non Sinar Mas. Itu sebabnya kami selalu memperluas kerja sama kami dari sisi marketing dengan seluruh badan usaha selain bank. Bank sudah pasti ada, tapi di luar itu ada leasing company, atau multifinance, bahkan BPR dan lain sebagainya melalui broker dan sebagainya,” papar Dumasi.
“Keempat, kami mengoptimalkan penggunaan platform digital untuk pemasaran, maupun untuk memberikan layanan-layanan dan bahkan untuk edukasi keuangan dan asuransi,” ujar Dumasi.
Lanjut, menurut dia, perusahaan harus didukung oleh karyawan yang bagus. Peningkatan kompetensi karyawan sesuai standar SKKNI. Kebetulan pihaknya menginisiasi pembentukan LSPPI, sebuah Lembaga Sertifikasi Profesi Perasuransian Indonesia, agar semua karyawan tersertifikasi.
Keenam, perusahaan juga meningkatkan kompetensi sistem dan penetrasi pasar melalui produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI). “Jadi kalau dulu produk yang berkaitan dengan investasi itu hanya dilakukan pada asuransi jiwa, namun kemudian dibolehkan OJK untuk dijual di asuransi umum dan kami telah mendapatkan izinnya. Dan kita pun membuat sistem yang mumpuni untuk menghindari hal-hal yang terjadi di dalam penjualan yang terkait investasi yang menjadi masalah,” jelas dia.
Ketujuh, ada juga perlindungan konsumen. Terakhir, tambah Dumasi adalah komitmen membangun good corporate citizenship melalui pelaksanaan good corporate governance (GCG), corporate social responsibility (CSR) yang baik dan literasi keuangan.
