Jakarta, TopBusiness—Sektor real estat bisa memberikan indikasi tentang tren ekonomi masa mendatang. Berbagai kajian menyebutkan adanya relasi yang cukup kuat antara krisis ekonomi dan real estat.
“Berdasarkan penelitian panjang di Amerika, disimpulkan bahwa setiap krisis ekonomi diawali oleh penurunan investasi dan penurunan penjualan di bidang properti,” kata President Center for Market Education, Chandra Rambey, dalam Prasetiya Mulya Economic and Business Outlook Seminar 2023: Insulation Against the Damaging Impacts of the Post-Pandemic Policy Reversal (18/4/2023).
Krisis ekonomi dihadapkan pada dua kebijakan pemerintah, yaitu kebijakan moneter dan fiskal. Kebijakan moneter yang jelek justru akan menambah housing bubble. Masyarakat akan tetap membeli rumah, padahal tidak punya kemampuan yang cukup. Sedangkan krisis terus berjalan, sehingga kemampuan mereka dalam menyelesaikan kewajiban juga menurun.
“Sementara itu, kebijakan fiskal memberi keleluasaan kepada masyarakat untuk menambah jumlah utang, yang pada akhirnya juga berdampak pada kemampuan mereka dalam menyelesaikan kewajiban,” kata dia.
Saat ini tingkat suku bunga cenderung naik, karena Bank Indonesia berusaha menahan laju inflasi. Namun, hal tersebut justru memukul para pengembang atau pelaku industri properti. Kenaikan suku bunga akan mengurangi tingkat pembelian dan investasi di sektor properti. Akibatnya, housing bubble kembali terjadi.
Ada kebijakan yang menguntungkan bagi pengembang, yaitu kemudahan bagi masyarakat untuk membayar uang muka rumah dan PPN DTP (Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah) yang 50 persennya ditanggung oleh pemerintah. Dua kebijakan ini mendorong masyarakat untuk berani membeli rumah. Kebijakan ini menguntungkan di jangka pendek dan menengah, namun bisa merugikan di masa mendatang, karena ekspektasi masyarakat terhadap properti akan terus seperti itu.
Di masa pandemi, produk properti yang paling terdampak adalah perumahan, apartemen, perkantoran, ritel, hotel, dan industrial estate. Usai pandemi, yang paling cepat pulih adalah hotel.
“Sementara itu, properti komersial, khususnya perkantoran, mendapat tekanan tinggi karena kebutuhan akan kantor berkurang, mengingat perusahaan multinasional dan besar cenderung menerapkan pola kerja hybrid,” kata dia.
Ia menambahkan, “Namun, perkantoran dengan konsep green building masih menarik bagi perusahaan multinasional.”
