Jakarta, TopBusiness – Ekonomi Indonesia pada 2022 tumbuh 5,31 persen, jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekomo global yang menurut IMF di angkat 3,4 persen. Namun, capaian tersebut belum bisa membawa Indonesia keluar dari pengkap negara berpenghasilan menengah (middle income trap).
Middle income trap merupakan suatu keadaan ketika negara berhasil mencapai tingkat pendapatan menengah tetapi tidak dapat keluar dari tingkatan tersebut untuk menjadi negara maju.
“Jika bisa mencapai rata-rata 6 persen (pertumbuhan ekonomi), Indonesia bisa keluar dari middle income trap pada 2041. Jika mencapai 7 persen, bisa lebih cepat keluar dari middle income trap tahun 2038,” kata Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas, Amalia Adiniggar Widyasanti dalam konsultasi publik dalam rangka penyusunan RPJPN 2025-2045 yang disiarkan virtual pada Jumat (19/5/2023).
Menurut Indonesia dapat keluar dari middle income trap jika mampu meningkatkan produktivitas. Pertumbuhan produktivitas berpengaruh signifikan pada pertumbuhan ekonomi nasional.
“Poduktivitas ini menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari 5 persen menjadi 6 hingga 7 persen. Tanpa peningkatan produktivitas, kita akan stuck di rata-rata 5 persen,” ujar Amalia.
Untuk menjawab tantangan tersebut, kata Amalia, pekerjaan rumah atau PR terbesar Indonesia adalah meningkatkan produktivitas ekonomi Indonesia, yang belakangan terus menurun. Bahkan, produktivitas tenaga kerja Indonesia saat ini hanya sedikit di atas India tetapi di bawah Cina, Brazil, dan negara maju lainnya.
PR lainnya adalah menyelesaikan masalah deindustrialisasi dini. Menurut Amalia, kontribusi manufaktur terhadap PDB yang dulu pada 2005 mencapai 27,4 persen, sekarang hanya 18,3 persen pada 2022. Para tenaga kerja sektor pertanian pun berpindah ke sektor jasa karena sektor industri tidak berkembang. Meskipun, produktivitas sektor jasa juga rendah.
Untuk itu, kata Amalia, transformasi ekonomi menjadi kunci untuk mewujudkan Indonesia bisa keluar dari middle income trap. Pertumbuhan ekonomi Indonesia harus lebih dari 5 persen. “Kita harus tumbuh 6 sampai 7 persen sebelum tahun 2045,” kata dia.
Untuk mewujudkan cita-cita menjadi negara berpendapatan tinggi, pemerintah memiliki lima agenda transformasi ekonomi. Pertama, meningkatkan peran Iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), inovasi, dan produktivitas ekonomi. Kedua, menerapkan ekonomi hijau di berbagai sektor. Ketiga, memastikan tranformasi digital terjadi masif dan dirasakan seluruh masyarakat.
Selanjutnya, memastikan dan menciptakan integrasi ekonomi domestik dan konektiktivas ekonomi global. Terakhir, menjadikan perkotaan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.
