TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Ini Syarat RI Keluar dari Middle Income Trap

Nurdian Akhmad
19 May 2023 | 14:31
rubrik: Ekonomi
FOTO – Kualitas Udara di Jakarta Membaik

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi dengan berjalannya aktivitas perekonomian di DKI Jakarta. Foto: Rendy MR/TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – Ekonomi Indonesia pada 2022 tumbuh 5,31 persen, jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekomo global yang menurut IMF di angkat 3,4 persen.  Namun, capaian tersebut belum bisa membawa Indonesia keluar dari pengkap negara berpenghasilan menengah (middle income trap).

Middle income trap merupakan suatu keadaan ketika negara berhasil mencapai tingkat pendapatan menengah tetapi tidak dapat keluar dari tingkatan tersebut untuk menjadi negara maju.

“Jika bisa mencapai rata-rata 6 persen (pertumbuhan ekonomi), Indonesia bisa keluar dari middle income trap pada 2041. Jika mencapai 7 persen, bisa lebih cepat keluar dari middle income trap tahun 2038,” kata Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas, Amalia Adiniggar Widyasanti dalam konsultasi publik dalam rangka penyusunan RPJPN 2025-2045 yang disiarkan virtual pada Jumat (19/5/2023).

Menurut Indonesia dapat keluar dari middle income trap jika mampu meningkatkan produktivitas. Pertumbuhan produktivitas berpengaruh signifikan pada pertumbuhan ekonomi nasional.

“Poduktivitas ini menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari 5 persen menjadi 6 hingga 7 persen. Tanpa peningkatan produktivitas, kita akan stuck di rata-rata 5 persen,” ujar Amalia.

Untuk menjawab tantangan tersebut, kata Amalia, pekerjaan rumah atau PR terbesar Indonesia adalah meningkatkan produktivitas ekonomi Indonesia, yang belakangan terus menurun. Bahkan, produktivitas tenaga kerja Indonesia saat ini hanya sedikit di atas India tetapi di bawah Cina, Brazil, dan negara maju lainnya.

PR lainnya adalah menyelesaikan masalah deindustrialisasi dini. Menurut Amalia, kontribusi manufaktur terhadap PDB yang dulu pada 2005 mencapai 27,4 persen, sekarang hanya 18,3 persen pada 2022. Para tenaga kerja sektor pertanian pun berpindah ke sektor jasa karena sektor industri tidak berkembang. Meskipun, produktivitas sektor jasa juga rendah.

BACA JUGA:   PDB Kuartal II Capai 7,07%, OJK Teruskan Langkah Jaga Momentum Pertumbuhan

Untuk itu, kata Amalia, transformasi ekonomi menjadi kunci untuk mewujudkan Indonesia bisa keluar dari middle income trap. Pertumbuhan ekonomi Indonesia harus lebih dari 5 persen.  “Kita harus tumbuh 6 sampai 7 persen sebelum tahun 2045,” kata dia.

Untuk mewujudkan cita-cita menjadi negara berpendapatan tinggi, pemerintah memiliki lima agenda transformasi ekonomi. Pertama, meningkatkan peran Iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), inovasi, dan produktivitas ekonomi. Kedua, menerapkan ekonomi hijau di berbagai sektor. Ketiga, memastikan tranformasi digital terjadi masif dan dirasakan seluruh masyarakat.

Selanjutnya, memastikan dan menciptakan integrasi ekonomi domestik dan konektiktivas ekonomi global. Terakhir, menjadikan perkotaan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.

Tags: Bappenasmiddle income trappertumbuhan ekonomi
Previous Post

Kekacauan Data Dikeluhkan Presiden, DPR Minta K/L Jangan Punya Data Sendiri-sendiri

Next Post

Melalui Nabuang Sarok, Semen Padang Gandeng Kementerian KKP Atasi Sampah Laut

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR