Jakarta, TopBusiness – Desa Wisata Embung Senja menjadi salah satu program CSR unggulan PT Pertamina Gas Operation Central Sumatera Area (OCSA). Destinasi wisata berkonsep panorama alam dan permainan air ini terletak di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Pertagas OCSA menyebut program tanggung jawab sosial dan lingkungannya dengan sebutan ‘Tersaring’ yang merupakan akronim dari Tempat Wisata Ramah dan Sadar Lingkungan dengan tempat wisatanya yang dikenal sebagai Embung Senja.
Diinisiasi sejak tahun 2019, destinasi wisata Embung Senja dibangun di lokasi binaan Pertagas OCSA, yaitu itu di desa Gajah Mati. “Desa Gajah Mati kami pilih menjadi salah satu lokasi program binaan kami, karena pada waktu sebelumnya terdapat tingginya isu sosial yang berisiko mengganggu operasi OCSA, di mana terjadi beberapa pelanggaran keamanan yang memiliki risiko keselamatan yang sangat tinggi,” ungkap Maulana Rizky selaku Officer External Relation Pertagas OCSA.
Kemudian Pertagas OCSA melakukan pendekatan, mulai dari social mapping, hingga pendekatan ke pemerintah desa dan masyarakat di sekitar. “Dari situ muncullah inovasi bersama untuk memanfaatkan lahan tidur berupa rawa menjadi objek wisata,” ujar Maulana Rizky saat sesi penjurian TOP CSR Awards 2023 yang digelar Majalah TopBusiness beberapa waktu lalu.
Selain dilatarbelakangi permasalahan yang telah disebut tadi, Maulana juga mengungkap perihal dua masalah utama yang dihadapi masyarakat Desa Gajah Mati, yaitu kemiskinan dan kekeringan. Namun di balik masalah tersebut, ternyata Desa Gajah Mati memiliki potensi yang dapat dikembangkan lebih baik lagi, yaitu adanya modal sosial yang kuat di mana masyarakat Gajah Mati sangat guyub dan memiliki jiwa gotong royong yang tinggi. Kemudian adanya modal alam berupa lahan tidur seluas 2,5 hektar yang belum termanfaatkan sebelumnya.
“Dari situ perusahaan dan masyarakat sepakat untuk memanfaatkan lahan tidur tersebut menjadi objek wisata, yaitu wisata embung yang berbasis lingkungan. Pembuatan objek wisata ini menjadi kesempatan yang sangat baik bagi masyarakat Gajah Mati dikarenakan lokasi mereka strategis yang berada di dekat provinsi Sumatera Selatan dan Jambi dan juga karena tidak adanya destinasi wisata di dekat area tersebut,” papar Maulana.
Sekadar diketahui, setelah sempat diistirahatkan sementara pada tahun 2020 hingga 2021 karena adanya pandemi Covid-19, pada tahun 2022 etmpat ini kembali dibuka sambil dilakukan revitalisasi dan renovasi objek wisata setelah vakum selama kurang lebih 2 tahun.
“Dan pada tahun 2023 ini kami berfokus pada pengaktifan kembali sepenuhnya desa wisata, salah satunya dengan melakukan piloting object wisata Embung Senja agar masyarakat luas, khususnya yang ada di Musi Banyuasin terinformasi dan kembali kehadiran Desa Wisata Embung Senja. Dan pada tahun 2024 diharapkan kelompok Desa Wisata sudah dapat mandiri sehingga perusahaan dapat melakukan exit program,” kata Maulana yang membawakan tema presentasi ‘Program Synergy to Energize The Community’.
Bicara CSR, Pertagas OCSA bisa dibilang sangat concern dengan hal tersebut. Ini bisa dilihat dari perusahaan yang memiliki visi dan misi CSR sendiri yang merupakan turunan dari visi dan misi perusahaan.
“Visi CSR Pertagas adalah menjadi mitra yang bernilai tambah bagi kehidupan masyarakat dan selaras dengan bisnis perusahaan. Visi tersebut dituangkan ke dalam 5 misi yang berfokus pada pelaksanaan tanggung jawab sosial yang sesuai dengan SDGs dan menciptakan nilai bersama dengan masyarakat serta proaktif dan responsif dalam upaya penanggulangan bencana dan tentunya tetap memperhatikan aspek GCG dalam pelaksanaannya,” ungkap Maulana.
Adapun dalam pelaksanaannya Pertagas OCSA memiliki tiga pilar CSR prioritas di antara arahnya adalah lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Adopsi CSV
Digadang sebagai program CSR unggulan, aspek CSV (Create Shared Value) telah diadopsi pada program Desa Wisata Embung Senja. Misalnya, lokasi wisata tersebut dapat dijadikan sebagai lokasi bagi perusahaan untuk mengadakan event dengan stakeholder, seperti dengan dinas pemerintahan maupun stakeholder lainnya.
“Selain itu, Embung Senja juga sering dijadikan tempat transit bagi pekerja yang dalam perjalanan dinas dari Palembang ke Jambi maupun sebaliknya. Kelompok desa wisata juga diberikan pelatihan safety (keamanan) dan dapat menjadi support (pendukung) ketika terjadi keadaan emergency di sekitar lokasi,” ujar Maulana.
Selain aspek CSV, pada kesempatan ini Maulana juga mengungkap sejumlah capaian dari program CSR Desa Wisata Embung Senja. Dari sisi Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM), berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan program CSR Wisata Embung Senja disebut memiliki skor IKM di angka 3,28 atau dikategorikan sangat baik.
Tidak hanya itu, capaian lain yang ditoreh dari program ini juga dirasakan, baik dari aspek ekonomi dan sosial. ”Dan dari aspek ekonomi, adanya desa wisata telah meningkatkan omset kelompok sebesar lebih dari Rp204 juta per tahunnya, di mana terdapat 26 anggota yang memperoleh penghasilan tambahan sebesar Rp1,6 juta setiap bulannya,” ungkap Maulana.
Sementara dari aspek sosial, terjalinnya hubungan yang baik dengan stakeholder sebagai pengembangan desa wisata, baik itu dari pemerintah, kecamatan, hingga dinas dan perusahaan sekitar. Selain itu, adanya desa wisata memberikan dampak lebih terkait kegiatan sosial yang ada di sekitar Desa Gajah Mati. “Lalu sebanyak 62 KK (kepala keluarga) memperoleh manfaat dari adanya kegiatan wisata di desa tersebut dan tentunya kehadiran desa wisata meningkatkan partisipasi masyarakat di lingkungan sosial mereka,” lanjut Maulana.
Hebatnya lagi, Desa Wisata Embung Senja telah memperoleh pengakuan dari pemerintah provinsi Sumatera Selatan sebagai juara ketiga wisata yang memiliki daya Tarik se-Sumatera Selatan di tahun 2021.
Penulis: Fauzi
