Jakarta, TopBusiness—Direktur Utama Bank BTN, Nixon L.P. Napitupulu, mengatakan bahwa Bank BTN perlu ‘mendemokratisasikan’ pemilikan rumah di Indonesia. “Saat ini, ada 12,7 juta kepala keluarga di Indonesia yang belum punya rumah,” kata Nixon dalam presentasi untuk Dewan Juri Top GRC Awards 2023, yang digelar Majalah TopBusiness bekerja sama dengan sejumlah lembaga (6/7/2023).
Ia pun mengatakan bahwa Bank BTN harus bisa menjadi lembaga pembiayaan profesional yang mendukung banyak pihak. “Hal ini perlu, selain mendukung misi pemerintah Indonesia,” kata dia.
Pada saat ini, Bank BTN menguasai 83 persen pangsa pasar KPR subsidi.
Sekto perumahan punya ekosistem yang banyak. Di posisi tengah bagan ekosistem tersebut, ada Bank BTN sebagai enabler dan integrator. Kemudian, di sekeliling Bank BTN, ada kelompok supply, dan kelompok demand. “Dan masing-masing kelompok itu, ada sejumlah lapisan,” kata Nixon
Sementara, dalam kesempatan yang sama, Direktur Human Capital, Compliance and Legal, Bank BTN, Eko Waluyo, menjelaskan sejumlah hal perihal kelengkapan struktur, kebijakan, dan implementasi GRC.
Ia antara lain mengatakan bahwa Bank BTN selain mengadopsi konsep GRC yang berlaku secara umum di industri perbankan, juga melakukan sejumlah adaptasi. “Kami punya sistem 3,5 line model. Maka berbeda dengan 3 line model yang lazim digunakan,” kata Eko.
Dalam hal tersebut, di lini 1 adalah di fungsi bisnis, fungsi operasional, dan fungsi risiko. Di lini 1,5 adalah fungsi pengendalian di first line.
Sementara, di lini kedua, adalah fungsi pemantauan risiko, kepatuhan, dan pengelolaan kebijakan. Sedangkan di lini ketiga adalah fungsi audit internal.
“Kebijakan GRC, kami atur terstruktur,” kata Eko.
Untuk memerkuat budaya kepatuhan, Bank BTN pun mengembangkan compliance dashboard. “Fungsinya untuk mendeteksi dini kejanggalan-kejanggalan bisnis,” Eko menjelaskan.
Direktur Risk Management Bank BTN, Setiyo Wibowo, menjelaskan sejumlah indikator keberhasilan implementasi GRC di bank tersebut. Antara lain, Bank BTN menutup tahun 2022 dengan kinerja yang naik. Nilai aset telah melebihi Rp400 triliun; pertumbuhan kredit dan deposito bisa stabil; ada kenaikan profitabilitas; kualitas kredit pun naik.
