TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Penerapan GRC Terintegrasi di PBRX Sudah Berbasis IT

Busthomi
27 July 2023 | 10:01
rubrik: Event, GCG
Penerapan GRC Terintegrasi di PBRX Sudah Berbasis IT

FOTO: TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – PT Pan Brothers Tbk (IDX: PBRX) mengaku terus meningkatkan performa kualitas GRC-nya yakni Governance, Risk, and Compliance serta ESG (environmental, social, and govenace), hingga akhirnya bisa berdampak positif ke bisnis. Bahkan saat mengarungi badai pandemi beberapa waktu lalu.

Alhasil, produsen garmen terbesar di Indonesia dari sisi kapasitas ini yang memiliki lebih dari 50 negara tujuan ekspor ke Asia, Amerika, Eropa, Australia & Selandia Baru tersebut dapat meningkatkan kinerja bisnisnya. Dengan implementasi GRC ini, berdampak positif ke kinerja perusahaan.

“Kami bersyukur kinerja perusahaan terus mengalami peningkatan. Bahakan dalam empat tahun ini. Baik dari sisi penjualan, ekuitas, maupun total asset. Apalagi pasar Eropa kami meningkat di tahun lalu dari 12,3% di 2021 menjadi 16,2% di 2022. Ini karena implementasi GRC  di kami sudah lengkap dan terintegrasi,” tutur Corporate Secretary PBRX, Elysa Intan Permatasari, beberapa waktu lalu.

Pernyataan Elysa ini disampaikan dalam pemaparan penjurian TOP GRC Awards 2023 lalu yang dilakuan secara online. Dalam ajang TOP GRC Awards yang diselenggarakan Majalah TopBusiness ini, PBRX sudah terlibat beberapa kali. Dan tahun lalu berada di posisi Bintang 4. “Semoga ke depan pencapaian kami dalam GRC ini terus meningkat dan bisa Bintang 5,” harap dia.

Secara kinerja keuangan, untuk penjualan sendiri hingga akhir 2022 sudah mencapai US$ 690,0 juta naik dari 2021 di angka US$ 689,4 juta. Lalu ekuitas pera 31 Desember 2022 sudah sebesar US$ 341,0 juta melonjak tinggi dari sebelumnya di angka US$ 291,2 juta. Pun demikian dengan total asset yang juga melambung dari US$ 696,6 juta di akhir 2021 menjadi US$ 724,6 juta per 31 Desember 2023.    

Saat presentasi, tim dari PBX cukup lengkap seperti Boedi Satrio selaku GM Business Development & Investor Relation, Nurdin Setiawan sebagai GM HRM, Rizal Tanzil Rakhman sebagai Manager Sustainability, Firman Silahudin Mahendra selaku Manager HRM Operation, dan Trisia Indrayani sebagai Manager HRM Development.

BACA JUGA:   Ini Aplikasi TI yang Dukung GRC di Asuransi Sinar Mas

Dilanjutkan Elysa, sejauh ini implementasi GRC PBRC sudah terintegrasi. Bahkan, PBRX sudah menerapkannya melalui system digital. Tentu saja digitalisasi dalam penerapan GRC terintegrasi ini sebuah langkah yang positif.

“Dalam penerapan GRC terintegrasi ini kami sudah melakukan maturity of technology advancement. Integrasi ini melalui penerapan teknologi industry 4.0 yang berarti melalui digitalisasi dan otomasi,” ujarnya.

Beberapa contoh dalam penerapan GRC terintegrasi yang berbasisi Informasi Teknologi (IT) ini adalah penerapan digitalisasi sistem di semua proses bisnis, line produksi, HRM, dan System (SOP). Serta menerapkan ISO terintegrasi ISO 9001, 14001, 45001, SA 8000, CTPAT, AEO dan DLH PROPER.

Untuk TI dalam mendukung pengelolaan bisnis dan implementasi GRC tersebut dalam dua aspek yakni, pertama, penggunaan sistem pengelolaan bisnis yang meliputi bidang operasional adalah ERP dan SAP, di bidang HR ada Human Resource Information System (HRIS), di bidang ESG adanya Sustainability System (SUSY), dan GCG ada MGT Report.

Dan kedua, di aspek optimasi proses produksi yakni Prototype/Sampel ada V Sticher/CLO, di pengelolaan material melalui IT Intelocut dan Intelobuy, untuk perencanaan produksi yaitu General Sewing Data (GSD) dan Fast React, lalu Prod Monitoring ada Manufacturing Execution System (MES).  

Lebih rinci terkait GRC ini, kata dia, untuk praktek Good Corporate Governance (GCG) ini, PBRX menerapkan prinsip GCG yang meliputi Transparansi, Akuntabilitas, Tanggung Jawab, Independensi, dan Kewajaran & Kesetaraan.

Adapun untuk implementasi whistleblower system (WBS) dan pengadaan barang sendiri yang merupakan bagiand ari GCG ini juga sudah berbasis digital. Mekanisme pelaporannya dilakukan melalui SMS dan Email, yang dijaga kerahasiaannya. Program Pelaporan Pelanggaran (whistleblower) juga telah disosialisasikan dan telah dipahami oleh karyawan.

BACA JUGA:   Rayakan 40 Tahun, MedcoEnergi Umumkan Pemenang Lomba

“Jadi, pelaporan pelanggaran ii merupakan bagian dari kode etik perusahaan dan karyawan, ruang lingkup yang saat ini diutamakan meliputi: informasi mengenai permasalahan pengendalian internal, akuntansi, auditing, pelanggaran peraturan, dugaan kecurangan dan/atau dugaan korupsi, dan pelanggaran kode etik,” katanya.

Nantinya, seluruh pelaporan yang masuk akan diperiksa oleh team Internal Audit, untuk ditindak lanjuti secara internal dan dilanjutkan ke Direksi dan Komite Audit jika diperlukan tindakan lebih lanjut. “Bagi pelapor internal, Direksi memberikan jaminan perlindungan tidak akan dikenai pemecatan; penurunan jabatan atau pangkat; pelecehan atau diskriminasi dalam segala bentuknya,” tandasnya.

Adapun untuk manajemen risiko sendiri, PBRX sduah mengidentifikasinya yakni untuk Risiko Operational mengacu kepada 3 hal yaitu People, Planet, dan Profit. Untuk People terdapat potensi resiko kecelakaan kerja, demonstrasi, dll. Untuk Planet, terdapat resiko penggunaan energi, pemanfaatan air dan limbah domestik maupun limbah industri. Dan untuk Profit, teridentikasi resiko kualitas pelayanan kepada pelanggan.

Lalu untuk Risiko Keuangan, ada empat risiko yang sudah diidentifikasi perusahaan garment yang Tbk ini, yaitu: Risiko nilai tukar mata uang asing, Perusahaan menghadapi risiko nilai tukar mata uang asing dari berbagai mata uang yang digunakannya, penghasilan Perusahaan mayoritas USD.

Kedua, ada Risiko tingkat bunga. Perusahaan memiliki pinjaman dengan tingkat bunga variabel. Untuk mengantisipasi kenaikan tingkat bunga Perusahaan memonitor pergerakan suku bunga dan memastikan bahwa Perusahaan mempunyai perhitungan margin yang memadai untuk pembayaran bunga.

Ketiga, Risiko kredit yaitu Perusahaan tidak memiliki konsentrasi risiko kredit yang signifikan. Perusahaan memiliki kebijakan untuk memastikan bahwa penjualan barang dan jasa hanya dilakukan kepada konsumen yang memiliki sejarah kredit yang baik. Selain itu, posisi piutang pelanggan dipantau secara terus menerus untuk mengurangi kemungkinan piutang yang tidak tertagih.

BACA JUGA:   TOP BUMD Awards 2026: Transformasi Digital Perumda Tirta Benteng, Inovasi Layanan Air Minum Berkelanjutan

Dan keempat, Risiko likuiditas, yakni perusahaan mempunyai pinjaman yang berupa pinjaman modal kerja jangka panjang. Perusahaan mengantisipasi risiko likuiditas ini dengan penggunaan sesuai order yang di terima, dan memastikan tersedianya kas dan setara kas dalam jumlah yang memadai untuk melunasi pinjaman yang jatuh tempo, juga mencadangkan dana untuk pembayaran bunga atas pinjaman.

Dan untu mengatasi risiko-risiko tersebut, pihaknya sudah memiliki regulasi untuk mengatasinya. Untuk eksternal ada Buyer Requirement yaitu Product, People, Safety, Environment (3P) & Goverment Regulation, UU No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, PP No 50 tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselataman dan Kesehatan Kerja (SMK3), Environment Risk: yaitu SK.31/PPKL/SET.6/WAS.7/4/2022 tentang Keputusan Dirjen Pengendalian Pencemaran Dan Kerusakan Lingkungan mengenai PROPER, dan Pasal 1 ayat 9 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian (UU Perindustrian).

“Beberapa system atau kebijakannya adalah PKB mengenai pelatihan evakuasi dan emergency plan. Lalu Adopsi ISO 45001 dan ISO 14001, ada SA 8000, C-TPAT, dan AEO. Ini dampak ke perusahaannya adalah untuk risiko People (berupa emergency, evakuasi, health) teratasi dengan baik, juga risiko safety teridentifikasi critical process SMK3 & follow up, utuk risiko lingkungan juga identifiasi critical process lingkungan & follow up, dan lainnya,” papar dia.

Adapun unuk system kepatuhan sendiri relative sudah berjalan sukses. Hal ini dibuktikan dengan beberapa pencapaian yaitu tidak ada buyer compliance findings & zero accident, juga tidak ada teguran instansi pemerintah & buyer, adanya pemenuhan Standar Sertifikasi Kepatuhan, contoh: AEO, SA 8000, dsb, dan juga perizinan TKA terpenuhi (imigrasi).

Tags: PBRXPT Pan Brothers TbkTOP GRC Awards 2023
Previous Post

IHSG di Sesi Pembukaan Turun Sedikit

Next Post

Upaya Berkelanjutan Percepatan Energi Surya

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR