Jakarta, TopBusiness – PT Logisticsplus International Tbk (LOPI) baru saja mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan melantai ke Bursa dengan melepas maksimal 300.000.000 saham baru atau sekitar 27,27% dari modal ditempatkan dan disetor penuh, sehingga Perseroan berhasil memperoleh dana segar sebesar Rp30 miliar. LOPI yang menjadi emiten ke-73 itu melepas dengan harga Rp100 per saham.
Namun sayangnya, saat memulai transaksi perdana pada perdagangan hari ini, harga saham PT Logisticsplus International Tbk (LOPI) langsung nyungsep ke level auto-rejection bawah (ARB) ke posisi Rp 90.
Saham LOPI yang dicatatkan di Papan Akselerasi terpantau tidak diminati investor di pasar sekunder, tercermin dari posisi saham yang langsung terjerembab ke level 90 atau anjlok 10 persen dari harga penawaran Rp100. Sebelumnya, emiten yang dikendalikan oleh Direktur Utama LOPI, Wahyu Dwi Jatmiko ini sudah meraup dana publik di pasar perdana sebesar Rp30 miliar tersebut.
Hingga pukul 9.12 WIB, volume transaksi LOPI hanya sebanyak 3,15 juta, sedangkan nilai transaksi cuma Rp283,1 juta. Dengan harga saham senilai Rp90 per lembar, maka saat ini market cap perseroan senilai Rp99 miliar.
Dalam rangkaian kegiatan aki korporasi ini Perseroan telah menunjuk PT Elit Sukses Sekuritas sebagai penjamin dan pelaksana emisi efek.
“Puji syukur kepada Tuhan, pada hari ini kami berhasil mencapai milestone baru melalui IPO yang merupakan aksi korporasi strategis. Melalui IPO ini kami ingin selalu memberi dampak positif, kami ingin secara konsisten memaksimalkan infrastruktur di Indonesia yang semakin agresif berkembang. Seiring dengan hal itu, kami berharap ke depan dapat menjadi Leading Company industri Logistik di dalam negeri,” kata Direktur Utama PT Logisticsplus International Tbk (LOPI) Wahyu Dwi Jatmiko dalam seremoni listing LOPI di Jakarta, Rabu (11/10/2023).
Wahyu menyebut, IPO ini menjadi momen penting bagi Perseroan pasalnya tahun ini perekonomian domestik diperkirakan tumbuh lebih tinggi. Prakiraan tersebut didukung oleh mobilitas yang terus meningkat sejalan dengan pasca dicabutnya status PPKM, pembukaan ekonomi yang semakin luas, konsumsi rumah tangga dan stimulus kebijakan yang berlanjut.
Sementara itu, selain menerbitkan saham baru Perseroan juga mengadakan program Employee Stock Allocation (ESA) dengan mengalokasikan saham sebanyak 1.500.000 saham atau sebanyak 0,50% dari saham yang ditawarkan dalam IPO.
Pada saat yang bersamaan, perseroan juga menerbitkan sebanyak-banyaknya 150.000.000 waran seri I atau sebesar 18,75% dari total jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh pada saat pernyataan pendaftaran, yang diberikan kepada setiap Pemegang Saham (DPS) baru yang namanya tercatat dalam DPS perseroan pada tanggal penjatahan secara cuma-cuma.
Ketentuannya, setiap pemegang 2 saham baru akan memperoleh 1 waran seri I dimana setiap 1 waran seri I memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli 1 saham baru yang dikeluarkan dalam portepel.
Waran seri I adalah efek yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli saham perseroan dengan nilai nominal Rp25 per saham dengan harga pelaksanaan Rp200 per saham.
Waran seri I dapat dilaksanakan setelah 6 bulan sejak tanggal penerbitan waran seri I di bursa efek, sampai dengan 1 hari kerja sebelum ulang tahun ke-1 pencatatan Waran, yaitu tanggal 11 April 2024. Masa berlaku Waran Seri I adalah sejak tanggal 11 Oktober 2023 sampai dengan 10 Oktober 2024. Total hasil pelaksanaan waran seri I adalah sebanyak-banyaknya Rp30.000.000.000.
Selanjutnya, dana hasil IPO setelah dikurangi biaya-biaya emisi, sekitar 60% rencananya akan digunakan untuk modal kerja operasional, sekitar 9% akan digunakan untuk pembelian software Cargo Wise dan alat-alat teknologi untuk mendukung operasional dan penjualan serta mengintegrasikan sistem operasional Perusahaan, keuangan, sales, marketing dan pengelolaan aset.
Sekitar 31% akan digunakan untuk pembelian armada truk baru melalui dealer resmi Isuzu yang tidak ada hubungan afiliasi dengan perseroan.
Adapun untuk dana hasil pelaksanaan waran seri I, seluruhnya akan digunakan sebagai modal kerja berupa pembayaran vendor jasa transportasi, sewa tongkang, biaya tenaga kerja, biaya bahan bakar, asuransi pengiriman, biaya marketing dan sales, biaya operasional kantor, biaya parkir inap armada darat, sewa alat pendukung operasional, biaya perjalanan proyek, biaya operasional kesehatan dan keselamatan kerja.
