Jakarta, TopBusiness – PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatatkan terjadinya peningkatan investor pasar modal selama 2023 ini. Tercatat untuk investor pasar modal di tahun 2023 ini masih positif dengan menorehkan pertumbuhan hingga 17,06%.
Langkah ini tak lepas dari sederet program strategis yang sudah dilakukan oleh KSEI. Menurut Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat, KSEI menetapkan beberapa program strategis di tahun 2023 sebagai upaya untuk pendalaman dan perluasan layanan pada era digital, melalui penguatan infrastruktur, inovasi dan pengawasan yang terintegrasi, untuk mewujudkan KSEI sebagai information hub dan financial hub.
“Hal ini juga sejalan dengan visi dan misi manajemen, yang juga didukung oleh segenap insan KSEI,” ujar Samsul, dalam acara HUT KSEI di Jakarta, Rabu (27-12-2023).
Dengan kondisi demikian, KSEI pun menargetkan peningkatan investor pasar modal tahun depan sebanyak 2,5 juta. Target ini juga selaras dengan peta jalan dalam Strategi Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Indonesia (SNLKI) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk periode 2021-2025 dengan jumlah investor pasar modal mencapai 20 juta.
“Target ini masih optimistis karena kondisi makro ekonomi juga positif dan meski tahun depan tahun politik kita tetap optimis karena secara historis berjalan aman dan kinerja pasar modal juga positif. Intinya kita boleh saja worry untuk tahun depan karena kita masih menunggu susunan cabinet tahun depan, tapi tetap optimistis di tahun politik itu,” ungkap Samsul.
Bedasar data yang dikeluarkan KPEI, sebagai Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian (LPP), KSEI memperoleh mandat sebagai lembaga yang mencatatkan data investor pasar modal.
Jumlah investor pasar modal pada tahun 2023 mencatatkan pertumbuhan sebesar 17,6% dari 10,31 juta pada tahun 2022 meningkat menjadi 12,13 juta per 20 Desember 2023. Jumlah tersebut terdiri dari jumlah investor saham dan surat berharga lainnya (5,23 juta), reksa dana (11,37 juta), surat berharga negara atau SBN (999 ribu).
Sedangkan dari data demografi per 20 Desember 2023, investor pasar modal masih didominasi oleh 62,33% laki-laki, 56,47% usia di bawah 30 tahun, 32,99% pegawai (negeri, swasta dan guru), 64,73% lulusan SMA, 46,32% berpenghasilan 10-100 juta/bulan dan 68,14% berdomisili di pulau Jawa.
Direktur Penyelesaian, Kustodian dan Pengawasan Eqy Essiqy menambahkan, dominasi anak muda pada demografi investor juga ditandakan dengan tingginya jumlah kepemilikan reksa dana melalui agen penjual efek reksa dana (selling agent/SA) berbasis financial technology (fintech).
Data KSEI mencatat 9,39 juta rekening reksa dana ada di SA fintech atau sekitar 77,49%. “Ini membuktikan bahwa platform digital menjadi sarana yang paling banyak dimanfaatkan oleh investor untuk berinvestasi di pasar modal,” ungkap dia.
Peningkatan juga dicatatkan KSEI dari jumlah aset yang tercatat di KSEI, baik dari saham dan surat berharga lainnya, maupun reksa dana. Jumlah aset saham dan surat berharga lainnya yang tercatat di sistem C-BEST KSEI meningkat 14,86% menjadi 7.715 Triliun pada 20 Desember 2023.
Jumlah saham dan surat berharga lainnya juga mengalami peningkatan 16,73% dibandingkan tahun 2022, dengan jumlah yang mencapai 2.874 saham dan surat berharga lainnya.
Sedangkan dari kinerja reksa dana, jumlah Asset Under Management (AUM) yang tercatat di KSEI menurun 3,76% dari Rp797,31 triliun pada tahun 2022 menjadi Rp767,32 triliun pada 20 Desember 2023, dengan jumlah produk reksa dana yang menurun 6,84% menjadi 2.249 pada 20 Desember 2023. Penurunan data reksa dana merupakan bagian dari dinamika dan perkembangan industri reksa dana di Indonesia.
