
Jakarta, businessnews.id — Menteri Perdagangan RI Muhammad Lufti telah memerkirakan, akan terjadi defisit neraca perdagangan pada Januari 2014 akibat kebijakan hilirisasi bahan tambang mineral.
“Defisit perdagangan memang sudah kami perkirakan karena Januari 2014 menjadi waktu Indonesia mulai tidak mengekspor mineral mentah,“ terangnya di Jakarta (4/3/14).
Namun demikian, besaran defisit yang terjadi masih lebih baik ketimbang perkiraan dia. Awalnya, dia memerkirakan bahwa defisit akan mencapai USD 700 juta sampai USD 800 juta. Namun ternyata hanya 50 persen dari itu atau di USD 430 juta.
Di samping karena penurunan nilai ekspor nonmigas terkait larangan eskpor biji mineral mentah itu, penurunan keseluruhan nilai ekspor juga akibat penurunan harga komoditas. Itu seperti batu bara yang turun 12 persen year on year; ikan sebesar 20,2 persen; karet di 29,5 persen; kopi 15,6 persen.
Lebih lanjut ia mengungkapkan, jika struktur perdagangan sehat di mana Indonesia lebih banyak mengekspor barang bernilai tambah tinggi seperti mesin-mesin, produk kimia, dan perhiasan, maka tidak perlu khawatir lagi dengan penurunan harga komoditas dunia. “Kita harus semakin siap dengan memproses komoditas mentah.”
Berdasarkan data empiris selama lima tahun terakhir, siklus pada triwulan I setiap tahun selalu lebih rendah dari triwulan IV sebelumnya. (ABDUL AZIZ)