
Jakarta, businessnews.id — PT Bank Central Asia, Tbk. (BCA) mencatat pertumbuhan kredit selama 2013 di semua segmen meningkat 21,6 persen menjadi Rp312,3 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Di tahun 2013, BCA menerapkan prinsip kehati-hatian dengan memerketat kebijakan dan kriteria pemberian kredit di tengah kondisi perekonomian yang tidak menentu. “Jika melihat kondisi ekonomi saat ini, BCA lebih berhati-hati dalam memberikan penyaluran kredit,” kata Direktur Utama BCA, Jahja Setiaatmadja kepada wartawan di Jakarta (5/3/14).
Begitupun di tahun 2014, BCA pun akan menerapkan prinsip kehati-hatian tersebut, sehingga BCA hanya menargetkan pertumbuhan kreditnya di kisaran 13 persen sampai 15 persen.
“Awal tahun ini, kredit kita proyeksikan tidak terlalu fantastis. Pertumbuhan kredit di 2014 kita hanya targetkan 13-15 persen,” imbuh Jahja.
Namun pihaknya akan kembali mengevaluasi pertumbuhan kredit pada kuartal kedua dan ketiga, di mana jika perekonomian membaik, likuiditas mendukung, serta NPL (non performing loan) masih batasan wajar, maka pihaknya akan kembali menaikkan target kredit
BCA mencatat Rasio kredit bermasalah (NPL) tetap berada pada level yang cukup rendah di 0,4 persen dengan rasio cadangan yang memadai sebesar 408,7 persen per Desember 2013.
Portofolio kredit BCA terdiversifikasi. Itu dengan komposisi kredit korporasi sebesar 33,0 persen. Sedangkan komposisi kredit komersial-UKM dan kredit konsumer, masing-masing sebesar 39,2 persen dan 27,8 persen.
Rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) meningkat menjadi 75,4 persen di tahun 2013 dari 68,6 persen di 2012.
Kredit korporasi tercatat sebesar Rp 103,1 triliun, naik 21,5 persen year on year. Sedangkan kredit komersial dan UKM meningkat 18,8 persen menjadi Rp122,3 triliun. Kredit konsumer mencapai Rp87,0 triliun di 2013: meningkat 26,2 persen dari 2012.
“Ditopang pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB). Portofolio KPR tumbuh 26,7 persen dari Rp41,8 triliun menjadi Rp52,9 triliun, sementara KKB naik 28 persen dari Rp20,7 triliun jadi Rp26,6 triliun,” tutur Jahja.
NPL Masih Terjaga
Jahja pun mengatakan, pihaknya telah menyiapkan diri dalam menghadapi aturan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) terkait dengan penurunan besaran maksimal NPL pada bank Buku III yakni tingkat kesehatan NPL normal dari 5 persen menjadi 2,5 persen.
Hal itu telah di bicarakan oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan). “Mereka minta bank-bank dengan kategori Buku III agar segera merelaksasi cabangnya yang telah membukukan NPL di atas 2,5 persen,” kata dia.
Ia mengaku, pada lingkungan BCA di beberapa kota cabang BCA, angka NPL telah menyentuh angka 2,5 persen. Sehingga pihaknya melakukan pembinaan dan menggiatkan penagihan. Namun angka NPL di beberapa kota tersebut tidak memengaruhi angka NPL BCA secara keseluruhan.
Kemudian, ia menjelaskan bahwa sepanjang tahun 2013, BCA mencatatkan laba bersih sebesar Rp14,3 triliun, laba itu tumbuh 21,6 persen dibandingkan tahun 2012 sebesar Rp 11,7 triliun.
Hal itu ditopang oleh pendapatan bunga bersih sebesar Rp26,4 triliun atau tumbuh 24,4 persen, yang ditopang oleh yield asset produktif lebih tinggi dan pertumbuhan kredit berkelanjutan.
“Margin bunga bersih (NIM) naik sebesar 60 basis points (bps) menjadi 6,2 persen di tahun 2013 dari 5,6 persen di tahun 2012,” kata dia.
Ia melanjutkan, di saat yang sama, pendapatan operasional lainnya tumbuh 14,4 persen menjadi Rp7,3 triliun. Itu didukung oleh kenaikan pendapatan provisi dan komisi sebesar 15,7 persen.
Sedangkan pendapatan operasional meningkat 22,1 persen menjadi Rp 33,7 triliun di tahun 2013 dari Rp 27,6 triliun di tahun sebelumnya.
“Dengan kuatnya profitabilitas, telah mendukung pertumbuhan modal yang kokoh, sehingga rasio kecukupan modal atau CAR meningkat menjadi 15,7 persen di tahun 2013 sedangkan tahun 2012 di kisaran 14,2 persen,” paparnya. (ABDUL AZIZ)