Jakarta, TopBusiness – Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal memprediksi, perekonomian Indonesia diperkirakan akan terdampak perlambatan ekonomi yang saat ini terjadi di Amerika Serikat (AS) dan China.
Dampaknya akan signifikan terhadap laju perekonomian Indonesia, karena AS dan China merupakan mitra dagang utama Indonesia secara global.
“Resesi ekonomi di Jepang dan Inggris, justru relatif lebih lemah pengaruhnya terhadap perekonomian di Indonesia. Dibandingkan dengan China dan Amerika, terutama China,” ujarnya dalam diskusi daring bertema Pemilu 2024 dan Masa Depan Perekonomian Indonesia yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, yang dikutip Kamis (22/2/204).
Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya memprediksi pertumbuhan ekonomi China tahun 2024 ini akan melemah sekitar 1 persen.
IMF juga memprediksi perekonomian AS akan mengalami penurunan yang awalnya 2,1 persen menjadi 1,5 persen. “Hal tersebut memberi dampak yang besar kepada Indonesia,” tuturnya.
Sebab, secara kumulatif China dan AS masing-masing menyumbang 41 dan 22 persen terhadap pertumbuhan ekonomi dunia dalam 10 tahun terakhir.
Faisal menerangkan, perlunya strategi untuk mengantisipasi perlambatan laju ekonomi yang dialami oleh AS dan China, yang merupakan mitra dagang Indonesia. Strategi itu, dirasa perlu demi mencapai visi Indonesia Emas 2045.
“Ke depan China ini akan terus diperkirakan tumbuh lebih lambat, sehingga dalam kondisi ini perlu waspada, meski Indonesia lebih resilient,” terang Faisal.
Sementara itu, CEO SAIAC, Shanti Shamdasani mengungkapkan dampak ekonomi global yang melemah juga sudah mengimbas ke negara-negara Asean. Thailand, misalnya, sudah tidak mencapai pertumbuhan GDP yang ditargetkan.
Ekonomi global, menurut Shanti, sangat dipengaruhi oleh aspek perubahan iklim dan krisis geopolitik di sejumlah kawasan.
Shanti menilai, perekonomian Indonesia harus mampu tumbuh 6-7 persen untuk mengantisipasi gejolak pada ekonomi global, dampak perubahan iklim, dan potensi bencana alam.
Dia menyarankan, Indonesia fokus pada pengembangan domestik dalam upaya mendorong laju perekonomian, serta stabilitas harga komoditas harus mampu dijaga dengan pendekatan yang tepat.
