Jakarta-Thebusinessnews.Tingkat kredibilitas pembayaran utang Indonesia terus menurun, hal itu terlihat dari peningkatan DSR ( Debt Service Ratio) baik tier satu maupun dua. Pada kuartal II 2016 menurut tier besaran DSR 37,3 persen naik dari kaurtal I 2016 sebesar 34,1 persen, sementara tier 2 pada kuartal II 2016 sebesar 67,7 persen.
Menurut Direktur Eksekutif Departemen Statistik Bank Indonesia Hendy Sulistiowati bahwa kenaikan DSR karena Bank Indonesia menghitung rasio tersebut dengan perhitungan yang sangat konservatif, “Kita pakai perhitungan itu untuk tindak kehati-hatian,“ ujar dia di Jakarta, Selasa(23/8/2016).
Untuk diketahui, DSR Tier 1 merupakan pembayaran total ULN ( Utang Luar Negeri ) baik pokok dan bunga ) terhadap peneriman perdagangan luar negeri. Total pembayaran ULN pada Tier-1 meliputi pembayaran pokok dan bunga atas ULN jangka panjang dan pembayaran bunga atas ULN jangka pendek.
Sementara Tier-2 merupakan rasio pembayaran total ULN baik bunga dan pokok terhadap penerimaan dari perdagangan luar negeri. Sedangkan komponen Tier-2 meliputi pembayaran pokok ULN atas bunga dan pokok dalam rangka investasi langsung selain dari anak perusahaan di luar negeri serta pinjaman dan utang dagang kepada non-afiliasi.
Walaupun DSR meningkat, kata dia, angka tersebut belum mengkhawatirkan sebab Tier 1 masih dibawah 51 persen sebagai batas aman, sementara Tier 2 sebesar 67,7 persen lebih disebabkan besarnya kredit eksport import.” Tier 2 didominasi pembiayaan eksport yang dibiayai sendiri,”terang dia.
Namum demikian ia berharap pemerintah meningkatkan penerimaan pajak untuk mengurangi kebutuhan akan penerbitan surat utang. Sampai Kuartal II 2016 posisi ULN Indonesia mencapai USD 323,8 miliar atau naik USD 6,9 miliar.
Sementara Ekonom Bank Permata, Josua Pardede bahwa perlu mewaspadai naiknya DSR merupakan jumlah pembayaran bunga dan cicilan pokok utang luar negeri jangka panjang dibagi dengan jumlah penerimaan ekspor. “Peningkatan DSR ini perlu diwaspadai karena kondisinya memburuk seiring dengan terus menurunnya penerimaan ekspor,” terang dia. (az)