Jakarta, TopBusiness – PT Bank Tabungan Negara Tbk alias BTN saat ini menjadi bank nasional yang fokus pada program pembiayaan perumahan. Sekitar 85 persen portofolio kredit bank ‘pelat merah’ ini di industri perumahan, baik di hulu atau pembiayaan kepada pengembang maupun hilir atau kepada end user.
“Secara konsisten jika diakumulasi jumlah pembiayaan yang telah disalurkan kepada masyarakat di Indonesia sejak tahun 1976 sudah mencapai 5,2 juta nasabah,” ujar Eko Waluyo, Direktur Human Capital, Compliance & Legal BTN dalam presentasi penjurian TOP GRC Awards 2024 yang dilakukan secara daring, Kamis (25/7/2024).
Hadir pula dalam penjurian ini, Setiyo Wibowo (Direktur Risk Management BTN), Andi Nirwoto (Direktur IT BTN), Nofry R Poetra (Direktur Finance BTN), serta para kepala divisi dari berbagai divisi terkait seperti Divisi Compliance, Risk, Corporate Strategy, Corporate Secretary, dan IT Planning. Tim dari BTN ini membawakan materi presentasi berjudul Leadership For Sustainable Impact: GRC, ESG, and SDGs.
Eko optimistis ke depan pembiayaan rumah yang disalurkan ke masyarakat bisa naik dua hingga tiga kali lipat dari yang ada saat ini, karena pemerintah sedang menggencarkan program sejuta rumah. Tantangan besar di bisnis perumahaan ke depan adalah membangun ekosistem, baik ekosistem di properti maupun ekosistem di user. “Jadi kami kelola dari hulu ke hilir baik dari sisi lending maupun funding-nya,” ucapnya
Menurut Eko, ada beberapa inisiatif strategis yang bersifat fundamental yang dilakukan manajemen untuk pengembangan bisnis BTN ke depan agar berkelanjutan atau sustainable. Pertama adalah transformasi proses bisnis untuk kredit consumer, commercial dan SME atau UMKM.
“Ini dampaknya adalah portofolio yang lebih bagus dengan proses yang lebih terstandardisasi, risk management yang lebih kuat dan tentunya sustainability-nya yang kita harapkan,” kata dia.
Sejalan dengan itu, BTN juga melakukan transformasi di kantor-kantor cabang dan sentralisasi proses operasional. “Kita ubah yang tadinya fully branch, mengelola semuanya di cabang, sekarang kita sentralisasi, kreditnya di sentralisasi, prosesnya disentralisasi. Kantor cabang hanya fokus pada aktivitas sales,” tutur dia.
Hal lain adalah penguatan dari sisi manajemen risiko atau risk management. BTN membangun budaya sadar risiko bagi keberlanjutan transformasi. Penguatan strategi pengelolaan manajemen risiko kredit secara komprehensif dilakukan pada setiap lini bisnis bank.
Manajemen BTN juga melakukan peningkatan kemampuan pengelolaan risiko IT, digital dan siber untuk mencapai tujuan bisnis yang secure, resilience dan sustain. BTN juga menjaga komitmen pengembangan inisiatif ESG dalam rangka mendukung penerapan prinsip keuangan berkelanjutan (SDGs).
Yang tak kalah pentingnya, kata Eko, BTN melakukan transformasi budaya dan human capital. Ini terutama menyangkut kompetensi dan corporate culture. Transformasi budaya ini dilakukan dengan tema utama execution, focus dan performance driven.
Penguatan GRC
Menurut Eko, salah satu penguatan yang dilakukan manajemen BTN adalah dari sisi GRC, khususnya manajemen risiko. Jika perusahaan umumnya menggunakan three line defence, BTN melakukan penguatan terkait risk management dengan menyisipkan satu lini pertahanan di antara lini pertama (first line) dan lini kedua (second line), yang disebut lini 1,5. Lini 1,5 ini memiliki fungsi pengendalian pada lini pertama.
“Ini dilakukan karena di lapangan melihat perlu adanya penguatan-penguatan tertentu khususnya untuk mencegah atau memperbaiki operational risk,” kata Eko.
Terkait lini 1,5 ini, BTN membentuk unit Regional Business Control sebagai fungsi pengendalian di first line yang menjadi organ monoline Kantor Wilayah untuk pengawasan dan independensi. Selain itu, BTN juga membentuk Unit Regional Business Control yang membawahi jabatan Regional Business Officer (pada Kantor Wilayah), Branch Business Control dan CBC Business Control pada Kantor Cabang).
Untuk lini pertama di BTN memiliki Fungsi Bisnis, Fungsi Operasional, dan Fungsi Risiko. Lini kedua untuk Fungsi Pemantauan Risiko, Kepatuhan, dan Pengelolaan Kebijakan. Sedangkan lini ketiga adalah Fungsi Internal Audit.
Perbaikan lainnya adalah dari sisi kebijakan. Manajemen melakukan deregulasi terhadap peraturan-peraturan yang ada. Peraturan itu dibuat lebih simple dengan hanya ada tiga tier peraturan di bawah AD/ART perusahaan, yaitu Kebijakan Umum, Kebijakan Khusus dan Petunjuk Teknis.
BTN sekarang hanya memiliki 10 jenis kebijakan yaitu Kebijakan Perkreditan; Kebijakan Treasury, Funding & Services; Kebijakan Human Capital; Kebijakan Pengelolaan Perusahaan Anak dan Unit Syariah; Kebijakan Informasi & Teknologi,Management Data dan Digital; Kebijakan Hukum, Kepatuhan dan APU PPT; Kebijakan Sistem Pengendalian Internal; Kebijakan Manajemen Risiko; dan Kebijakan Operasional.
“Ini memudahkan pengguna dalam operasional karena peraturan menjadi simple. Kedua integrasinya juga menjadi lebih mudah,” tutur Eko.
Roadmap GRC dan Implementasi ESG
Sementara itu, Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo menambahkan, pihaknya saat ini dalam proses penyusunan Corporate Plan 2025-2029 yang di dalamnya juga memuat tentang Roadmap GRC 2025-2029 dan Roadmap IT Strategic Plan 2025-2029.
“Roadmap ini dimulai tahun 2025 karena sejalan dengan rencana jangka panjang dan jangka menengah perusahaan,” tutur Bowo.
Selain GRC, kata dia, BTN juga berupaya mengimplementasikan ESG (Environmental, Social & Governance) di industri perumahan. BTN saat ini adalah bank pertama yang menjadi pioner pengembangan rumah rendah karbon.
“Konsep rumah rendah karbon adalan rumah yang bisa di-scale up secara besar. Kita dorong penggunaan recycle material untuk material konstruksi rumah sebagai syarat kredit kita. Jadi kita memberikan financing kepada kontraktor atau developer, tapi syaratnya adalah 10 persen dari material yang digunakan adalah dari recycle material seperti dari sampah plastik,” kata dia.
Tahun 2024 ini, BTN menargetkan pembangunan 1.000 rumah rendah karbon yang dibiayai oleh perusahaan. Sampai 2029, BTN menargetkan ada 120 ribu rumah dengan konsep low carbon.
Komplek rumah yang dibangun pengembang juga disyarakatan ada waste management dan setiap rumah ada satu pohon. “Harapannya dengan itu, kita sudah bisa kuantifikasi kalau dalam lima tahun membangun 120 ribu rumah rendah karbon, kita bisa mereduksi 52 ribu Kg karbon atau setara dengan 52 hektare hutan tropis. Itu salah satu yang ada di roadmap,” ujar Bowo.
Terkait pembiayaan, BTN juga sudah memiliki portofolio guideline bahwa perseroan tidak akan masuk ke sektor-sektor yang merusak lingkungan atau sektor yang menghasilkan emisi karbon tinggi. Ada 15 sektor yang sejalan dengan taksonomi hijau Indonesia, antara lain properti, agribisnis, health services, transportasi dan logistic, infrastucture, utilities education, dan lainnya.
“Kami sudah masukkan ESG screening dalam policy product maupun policy credit,” tuturnya. Perseroan menargetkan 20 persen porotolio kredit BTN pada 2028 untuk sektor berkelanjutan.
Sedangkan Andi Nirwoto, direktur IT BTN dalam presentasinya memaparkan soal penguatan tata kelola IT yang sudah dilakukan BTN, di antaranya dengan menyusun IT Strategic Planning untuk mendukung bisnis perusahaan. Dalam rencana strategis itu terdapat Enterprise IT Architecture yang menentukan prioritas IT yang akan dibangun perusahaan.
“Di Enterprise Architecture akan berisi minimal pertama terkait application architecture, data architecture, infrastructure architecture dan terakhir security architecture,” tuturnya.
Implementasi IT di BTN sudah mengacu ketentuan serta best practice ISO 27001:2013 tentang Sistem Manajemen Keamanan Informasi.
Selain itu, menurut Andi, BTN mengembangkan inovasi TI untuk mewujudkan agility dalam digitalisasi bisnis bank serta GRC. Beberapa inovasi tersebut antara lain Biometric Fingerprint, SSO (Single Sign On), RPA (Robot Processing Application), AI (Artificial Intelligence), Digital Signature, API (Application Programming Interface), Metaverse, dan Cloud.
Pengembangan digital berdampak positif terhadap kinerja bisnis dan operasional BTN. Misalnya terkait implementasi aplikasi btn mobile dan Digital Mortgage Ecosystem, per Desember 2023, btn mobile sudah memiliki lebih dari 1,3 juta users, 85 ribu akuisisi per bulan, 40 juta transaksi per bulan dengan nilai penjualan (SV) Rp 53,6 triliun.
Indikator Keberhasilan GRC
Dengan implementasi GRC yang dijalankan, menurut Eko, BTN berhasil memperkuat fundamental bisnis dan mencatatkan kinerja yang berkelanjutan. Dari sisi kinerja keuangan, aset BTN terus tumbuh dengan posisi tahun 2023 di atas Rp 439 triliun. Nilai aset ini jauh meningkat dibandingkan tahun 2019 yang masih Rp 312 triliun, tahun 2020 Rp 361 triliun, tahun 2021 sebesar Rp 372 triliun dan 2022 sebesar Rp 402 triliun.
Kredit juga tumbuh sustain, dengan posisi kredit di atas Rp334 tiliun pada tahun 2023, naik 11,9 persen dibandingkan 2022 yang sebesar Rp 298 triliun. Tahun 2019, total kredit BTN masih sebesar Rp 256 triliun, kemudian naik menjadi Rp 260 triliun pada 2020, dan Rp 275triliun pada 2021.
Dana Pihak Ketiga (DPK) terus tumbuh dengan posisi DPK sebesar Rp 350 triliun di tahun 2023 atau naik 8,7 persen dibandingkan 2022 yang sebesar Rp 322 triliun. Tahun 2019, DPK BTN masih sebesar Rp 225 triliun, selanjutnya 2020 naik menjadi Rp 279 triliun, dan tahun 2021 sebesar Rp 296 triliun.
Selanjutnya laba perusahaan terus meningkat dengan nilai perolehan di tahun 2023 di atas Rp 3,5 triliun, atau naik 15 persen dibandingkan 2022 sebesar Rp 3 triliun. Tahun 2019, laba BTN masih sebesar Rp 200 miliar, kemudian naik menjadi Rp 1,6 triliun pada 2020 dan Rp 2,4 triliun pada 2021.
Kredit macet atau NPL secara gradual membaik dalam lima tahun terakhir dengan rasio sebesar 3,0 persen pada 2023 atau turun 37 basis poins (bps) dibandingkan 2022 yang sebesar 3,4 persen. Pada 2019, NPL BTN masih di angka 4,8 persen, selanjutnya turun jadii 4,4 persen pada 2020, dan pada 2021 sebesar Rp 3,7 persen.
Sedangkan dari sisi kinerja nonfinansial, keberhasilan GRC di BTN ditandai dengan hasil penilaian Integrated GRC 2023. Penilaian iGRC terdiri dari Tata Kelola (Peta Kepatuhan) Profil Risiko (Risiko Kredit, Likuiditas, Operasional, Hukum, Stratejik,Kepatuhan dan Reputasi), serta Rentabilitas (NIM, BOPO dan ROA). Penilaian yang dilakukan setiap kuartal itu menghasilkan skor GRC berkisar 1,70-1,84tiap kuartalnya atau kategori Baik.
Demikian penilaian Kepatuhan 2023 yang dilakukan setiap bulan mencatat skor yang bervariasi dari 1,01 hingga tertinggi 1,36 atau kriteria Baik.
Tahun 2023, BTN jug melakukan penilaian Maturitas Manajemen Risiko 2023 dan Penilaian Risk Maturity Index (RMI). Dari analisis independen eksternal, penilaian atas RMI terhadap BTN untuk tahun 2023 atas implementasi 2022 adalah 3.23 – Defined.
“Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dan rekomendasi yang telah disusun, jika aktivitas rekomendasi dilakukan dengan konsisten maka berdasarkan perhitungan, skor RMI akan meningkat menjadi 3.5 dalam 1 tahun mendatang. Sedangkan untuk 3 tahun mendatang, akan menjadi 4.0-Managed,”
Sementara itu, hasil penilaian ESG 2023 yag dilakukan CSR HUB, nilai ESG BTN sebesar 89 persen. Sedangkan Refinitiv menilai kinerja ESG Bank BTN berada di peringkat 176 dari 1.097 perusahaan jasa perbankan yang dinilai. BTN juga masuk dalam IDX LQ45 Low Carbon Leaders serta masuk dalam ESG Sector Leaders dan ESG Quality 45 menurut SRI Kehati Index.
