Jakarta, TopBusiness—Asuransi Sinar Mas intensif menanamkan kultur manajemen risiko ke seluruh karyawan. Dalam hal ini, karyawan di perusahaan asuransi tersebut merupakan risk owner. Maka mereka harus punya kesadaran-kepedulian yang melekat terhadap risiko yang ada dalam setiap aktivitas bisnis. Walau begitu, perusahaan tersebut tetap menyediakan ruang untuk inisiatif/inovasi.
Demikianlah rangkuman dari sebagian tanya-jawab antara jajaran direksi Asuransi Sinar Mas, dengan Dewan Juri Top GRC Awards 2024, yang digelar Majalah TopBusiness berkolaborasi dengan sejumlah lembaga (31/7/2024).
Direktur/Corporate Secretary Asuransi Sinar Mas, Dumasi M.M. Samosir, mengatakan bahwa tetap adanya ruang inisiatif/inovasi tersebut telah terlihat di masa Covid-19. Di situ, ada sebuah terobosan yang berlangsung sekalipun aktivitas tatap muka sangat terbatas sebagai akibat pandemi tersebut.
“Kami menambah jumlah tenaga pemasar saat itu, untuk [pemasaran] online. Mereka berasal dari unit lain yang dirumahkan akibat pandemi,” papar Dumasi.
Saat itu, pelatihan pemasaran produk asuransi diberikan ke tenaga baru tersebut. Dan terobosan tersebut ternyata mampu menaikkan pendapatan Asuransi Sinar Mas saat masa pandemi.
“Jadi, hal itu merupakan contoh sebuah terobosan yang dilakukan dengan tetap minimbang risiko bisnis,” Dumasi menegaskan.
Di kesempatan yang sama, Direktur Asuransi Sinar Mas, I Ketut Pasek Swastika, mengatakan bahwa perusahaan tersebut mengadakan literasi ke karyawan sebagai risk owner. Di sini, para karyawan sudah dibekali pemahaman bahwa risiko bisnis yang terdepan sejatinya ada di tangan mereka. “Maka, para karyawan perlu memahami hal ini dengan sebaik-baiknya,” kata dia.
Asuransi Sinar Mas pun, I Ketut Pasek Swastika mengatakan, punya tim pemasaran [asuransi] cyber risk. “Cyber risk ini kan sekarang sedang ramai. Dan bagi kami, menjadi sebuah peluang untuk meng-cover risiko siber tersebut,” kata dia.
Adapun Ragil B.P. dari Tim Risk Management Asuransi Sinar Mas menjelaskan sejumlah hal tentang praktik ESG di perusahaan tersebut. Dalam hal tersebut, ia menyebut beberapa contoh nyata praktik peduli lingkungan.
Itu adalah sistem panel surya di kantor pusat perusahan tersebut. Penghematan yang muncul dari situ berkisar 2,2% dari total biaya listrik. “Total luas panel surya tersebut mencapai 60% dari total luas atap kantor pusat kami,” kata dia.
Contoh berikutnya adalah sistem daur ulang air. Di sini, air hasil daur ulang digunakan menyiram tanaman dan lain-lain sejenis. “Penghematan dari sini mencapai 7% dari total biaya air per bulan,” Ragil menjelaskan.
