Jakarta-Baru-baru ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui surat edarannya mengkategorikan obligasi Indonesia Eximbank dalam kelompok Surat Berharga Negara(SBN).Hal itu dipercaya akan menurunkan biaya dana Lembaga Pembiayan Eksport pelat merah itu.
Direktur Keuangan Indonesia Eximbank, Raharjo Adisusanto menyampaikan status baru obligasi tersebut akan menekan biaya bunga dan pada akhirnya menekan biaya dana secara keseluruhan.
“Karena masuk kategori SBN makam bunga obligasi Eximbank akan lebih bersaing,”ujar Rahardjo di Jakarta,Rabu(15/3/2017).
Selain itu, kata dia, untuk menurunkan biaya dana maka pihaknya melakukan strategi one and one business. Jadi, jangka waktu dana akan diseseuiakan dengan jangka waktu pembiayaan Eksport.
“Dana 3 bulan untuk membiayai Eksport 3 bulan juga,”ujar dia.
Tak hanya itu, manajemen Eximbank akan menerbitkan obligasi lebih awal. Hal itu untuk mengantisipasi gejolak suku bunga seiring dengan rencana kenaikan Fed Fund Rate.
“Frontloading obligasi dan itu kami sudah lakukan dengan menerbitkan obligasi Rp1 triliun pada Februari lalu,”ujar dia.
Ia menambahkan pada tahun ini, dibutuhkan Rp88,43 triliun untuk mendukung ekspansi pembiayaan tahun ini sebesar Rp105,09 triliun. Rincinya, Rp43,63 triliun berasal dari pinjaman perbankan dan Penyertaan Modal Negara, sementara Rp44,8 triliun berasal dari penerbitan efek di pasar modal.
Untuk diketahui, laba bersih Indonesia Eximbank tahun 2016 turun 1,2% menjadi Rp1,4 triliun. Penurunan itu, kata Rahardjo, disebabkan adanya peningkatan biaya dana.
“Misalnya, tadi kami mau menerbitkan obligasi Rp4 triliun namun realisasi Rp10 triliun sehingga pinjaman Valas turun,” ujar dia.
Jelasnya, bunga obligasi dalam bentuk rupiah berada pada kisaran 8 % sementara bunga pinjaman Valas berkisar 3%. Peningkatan biaya dana juga disebabkan adanya peningkatan bunga pinjaman Valas.
Namun peningkatan biaya dana tersebut tidak dibebankan kepada nasabah.
“Kami tidak bebankan kepada nasabah karena bagian pelayanan,”ujar(az)