Jakarta- Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menyetujui penggunaan laba bersih 2016 sebagai dividen sebesar 35% dari laba bersih tahun buku 2016 sebesar Rp11,33 Triliun. Dengan demikian, rasio dividen pay rasio tahun buku 2016 lebih besar 10% dibanding tahun buku 2015 sebesar 25% atau Rp2,26 triliun.
Wakil Direktur Utama BBNI, Herry Sidharta menyampaikan nilai total dividen tahun tahun 2016 sebesar Rp3,96 triliun. Dan akan dibagikan 30 hari setelah RUPST ini berlangsung.“Setiap pemegang saham akan mendapatkan Rp610 perlembar sahamnya,” terang dia di gedung BNI, Jakarta, Kamis(17/3/2017).
Herry merinci pemegang saham diatas 60% kepemilikan dalam hal ini pemerintah akan mendapatkan Rp2,3 triliun dan akan disetor ke kas negara. Sementara Sebesar 65 persen dari laba bersih 2016 atau sebesar 7,37 triliun akan digunakan sebagai saldo ditahan,” kata Herry
Dengan peningkatan dividen pay out rasio tersebut, cukup berdampak terhadap rencana kinerja dan rasio kinerja bank pelat merha itu. Direktur Utama BBNI, Achmad Baiquni menyampaikan dengan besaran rasio dividen tersebut akan mengerus rasio permodalan.
“Telah kami perhitungkan rasio pemodalan atau CAR (Capital Adequacy Ratio) akan turun menjadi 18,5% daro 19,5% pada akhir tahun 2016,” terang dia.
Namum Baiquni memastikan rasio permodalan itu masih jauh diatas ambang batas minimum ketentuan CAR. Hanya saja dia mengakui bahwa harus mengerem rencana pertumbuhan kredit tahun 2017. Sebab sebelumnya dia merencanakan pertumbuhan kredit pada kisaran 15%-17%.
“Sekarang kami mengikuti arahan regulator (OJK)… pertumbuhan kredit tahun ini 11%-13%,”terang dia.(az)