Jakarta, TopBusness – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) siap mendukung dan bekerja sama dengan pemerintah dan stakeholders untuk mendukung program-program prioritas pemerintah.
OJK telah mengantisipasi dengan berbagai simulasi, piloting, serta skema-skema pembiayaan/kredit untuk program-program kredit ke program prioritas pemerintah.
Sejumlah simulasi dilakukan baik itu terkait ekonomi hijau (untuk) transisi energi, maupun untuk mendorong aktivitas di bursa karbon.
Termasuk juga upaya prioritas pemerintah untuk membangun perumahan bagi masyarakat berpendapatan rendah (MBR), langkah-langkah dalam mendorong ketahanan pangan (food security), rencana untuk melaksanakan Makan Bergizi Gratis (MBG), serta upaya meningkatkan kualitas dan cakupan dari program hilirisasi.
“Itu hal-hal yang sudah kami antisipasi dan komunikasikan kepada tim pemerintah bahwa OJK siap bekerja sama dan mendukung program-program prioritas tadi,” ujar Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB), Jumat (1/11/2024).
Pemerintah berkomitmen terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8% seperti yang diharapkan Presiden Prabowo Subianto.
Untuk itu, OJK sebagai pengawas sektor jasa keuangan (SJK) mendorong terjadi peningkatan penyaluran kredit dan pembiayaan. Secara spesifik, upaya yang dilakukan salah satunya yaitu mengembangkan ekosistem pelaporan kredit (credit reporting system).
Hal itu antara lain dilakukan dengan memperluas cakupan SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan) yang tidak hanya meliputi perbankan dan perusahaan pembiayaan, tetapi juga diperluas ke industri fintech p2p lending, asuransi, dan penjaminan.
Selain itu, kata dia, OJK mendorong pemanfaatan innovative credit scoring (ICS) untuk penilaian kelayakan kredit dan pembiayaan. Termasyk secara konsisten pengembangan pasar keuangan dengan mengakomodir jenis dan bentuk pembiayaan yang diperlukan.
OJK secara khusus juga meminta Perbankan dan pelaku di sektor Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) untuk menyusun strategi meningkatkan kuantitas dan kualitas penyaluran kredit/pembiayaan ke segmen UMKM. Seperti yang diketahui, sektor UMKM memegang peranan penting perihal kontribusinya ke perekonomian, khususnya dari aspek lapangan kerja.
“Kam akan memperluas jangkauan sumber dana pemanfaatan teknologi informasi, serta mengambil langkah strategi untuk mendukung kebijakan pemerintah. Sehingga peningkatan UMKM dapat dilakukan dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian, tata kelola, dan manajemen risiko,” tutur Mahendra.
Saat ini kata dia, kinerja dan stabilitas sektor keuangan terjaga baik. Tren positif yang relatif terkendali ini dapat dicapai sekalipun terjadi kondisi perlambatan perekonomian global maupun risiko geopolitik.
“Ini adalah modalitas yang kuat bagi sektor jasa keuangan yang didukung tentunya oleh tingkat risiko yang baik dan permodalan yang kuat. Sehingga mampu untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di dalam negeri,” ujarnya.
Di samping itu, Mahendra melihat meningkatnya risiko geopolitik dan melemahnya aktivitas perekonomian global. Perlambatan pertumbuhan di beberapa negara utama dan ketidakpastian geopolitik menjadi tantangan utama bagi ekonomi global saat ini.
“Perekonomian AS menunjukkan perkembangan yang lebih baik dari ekspektasi awal seiring solidnya pasar tenaga kerja serta membaiknya permintaan domestik. Di Eropa, aktivitas perekonomian mulai membaik yang terlihat dari naiknya penjualan ritel, namun dari sisi manufaktur masih relatif tertekan,” ujar dia.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi China pada kuartal III-2024 masih menunjukkan perlambatan baik dari sisi demand maupun supply. Hal itu mendorong pemerintah dan bank sentral China terus mengeluarkan stimulus untuk mendorong sektor riil dan kembali melonggarkan kebijakan moneter.
“Risiko geopolitik global yang meningkat turut menjadi tantangan bagi prospek perekonomian ke depan, terutama terkait eskalasi konflik di Timur Tengah, serta dinamika politik di AS menjelang Pemilihan Presiden di November 2024. Instabilitas yang terjadi di Timur Tengah menyebabkan harga komoditas safe haven seperti emas meningkat,” ucap Mahendra.
Menurut dia, perkembangan tersebut menyebabkan premi risiko meningkat dan kenaikan yield secara global. Hal ini mendorong aliran modal keluar (outflow) dari negara emerging markets, termasuk Indonesia, sehingga pasar keuangan emerging markets mayoritas melemah.
