Jakarta – Bank Indonesia (BI) dinilai tidak akan melonggarkan kebijakan moneter dengan menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate 4,75% dalam waktu dekat ini. Pasalnya rencana The Fed yang akan kembali menaikkan suku bunganya sebanyak dua kali.
Pendapat itu disampaikan pengamat ekonomi dari Indef (Institute for Development of Economic and Finance), Aviliani di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa, (4/4l 2017). “Isu global di Amerika Serikat (AS) menjadi syarat penting untuk menimbang apakah suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate akan turun atau tidak di tahun ini,”kata dia.
Ia menjelaskan, isu yang datang dari paman sam itu mengalahkan keungulan domestik dan pada sisi sektor perbankan tidak mudah untuk menurunkan suku bunga kredit dan depositonya. Hal ini sejalan dengan isu masalah likuiditas perbankan, kendati beberapa bank khususnya kelompok bank BUKU IV mengklaim likuiditasnya masih cukup aman.
“Ini juga ada isu likuiditas. Itu juga gak mudah bagi bank penurunan suku bunga. Artinya kalau BI rate turun belum tentu diikuti perbankan yang memang punya persoalan dengan masalah likuiditas,” tugasnya.
Oleh sebab itu, kata dia, agar bisa sejalan dengan kebijkan moneter Bank Sentral, pemerintah harus tetap melakukan koordinasi untuk menjaga situasi pasar. Terutama, lanjut dia, pemerintah yang akan mengeluarkan surat utang (obligasi) dikhawatirkan akan berdampak pada likuiditas perbankan di tahun ini.
“Supaya bisa ditahan dan bisa sejalan makanya pemerintah harus koordinasi dengan bank terutama terkait obligasi supaya tidak saling menarik likuiditas. Kan pemerintah juga akan mengeluarkan obligasikan,” ucap Aviliani.
Sementara itu, risiko dari domestik yang tetap perlu dicermati terutama terkait dengan dampak penyesuaian administered prices terhadap inflasi. Untuk itu, Bank Sentral terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional.(az)