Jakarta, BusinessNews Indonesia—Industri Bank Perkreditan Rakyat (BPR), per April 2017, mengalami pertumbuhan yang cukup positif. Dari total aset Rp 115,2 triliun mengalami peningkatan sebesar 10,18 % per tahun. Data Otoritas Jasa keuangan (OJK ) menyebutkan dari 1.621 BPR yang ada berhasil menyalurkan kredit yang mencapai Rp 95,5 triliun atau tumbuh sebesar 9,8 %.
Meski demikian, masih ada masalah internal di BPR yang membutuhkan pembenahan, mulai dari permodalan, tata kelola, peningkatan kualitas SDM, biaya yang mahal berdampak pada suku bunga, hingga produk dan layanan yang belum variatif.
Hal itu ditegaskan Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D. Hadad, dalam rilis resmi OJK saat membuka seminar strategi branding BPR, 10 Juli 2017, di Jakarta.
Selain masalah internal, BPR juga menghadapi masalah persaingan yang semakin ketat, seiring era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
Sebagai regulator, OJK telah mempersiapkan kajian bagaimana kesiapan BPR menghadapi persaingan yang kian ketat.
“Segmen mikro dan kecil memang menjadi target pasar BPR, yang juga menjadi perebutan lembaga keuangan mikro (LKM), koperasi simpan pinjam, kredit union, yang membuat persaingan kian ketat,” terang Muliaman.
Sumber Foto Muliaman Hadad: Aktual.com
