Jakarta, TopBusiness – PT Asuransi Sinar Mas (ASM) terus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu perusahaan asuransi umum terbesar di Indonesia dengan menerapkan tata kelola perusahaan yang baik, manajemen risiko, dan kepatuhan (Governance, Risk, Compliance/GRC) secara terintegrasi.
Berdiri sejak 1985, ASM kini memiliki 177 kantor cabang dan pemasaran di seluruh Indonesia. Perusahaan asuransi ini menawarkan 122 produk asuransi mulai dari asuransi Kebakaran, Rekayasa, Penjaminan, Pengangkutan, Kecelakaan Dan Kesehatan, Kesehatan, Kendaraan Bermotor, Minyak dan Gas Bumi, PAYDI (Produk Asuransi yang Dikaitkan dengan Investasi), Personal Accident & Health, Asuransi Mikro, Aneka dan Asuransi Tanggung Gugat. ASM juga memiliki 26 produk asuransi syariah.
“Visi kami adalah menjadi perusahaan asuransi yang profesional dan terpercaya dengan memberikan nilai berarti bagi para pemangku kepentingan,” ujar Ragil Bagus Pribadi dari tim Enterprise Risk Management (ERM) ASM dalam penjurian TOP GRC Awards 2025 yang dilakukan secara daring, Selasa (12/8/2025).
Hadir dalam penjurian ini antara lain I Ketut Pasek Swastika selaku direktur kepatuhan ASM, Dumasi MM Samosir selaku Direktur sekaligus Corporate Secretary ASM, Gabriela Davina dari tim GCG, serta Purwandari dari tim CRM.
Memasuki 2025, ASM menunjukkan tren pertumbuhan kinerja keuangan yang positif, baik dari sisi total aset, total ekuitas, premi bruto, laba, serta rasio-rasio yang terus meningkat. Per Juni 2025, total aset ASM mencapai Rp 14,44 triliun, naik dibandingkan Juni 2024 sebesar Rp 13,67 triliun.
Demikian pula total ekuitas per Juni 2025 melonjak jadi Rp 14,48 triliun, dibandingkan periode yang sama 2024 sebesar Rp 5,95 triliun. Sedangkan premi bruto meningkat jadi Rp 5,8 triliun, ketimbangkan periode Juni 2024 sebesar Rp 5,6 triliun. ASM juga membukukan kenaikan laba tahun berjalan menjadi Rp 604,45 triliun, ketimbang Rp500,82 triliun pada Juni 2024.
Untuk rasio RBC meningkat dari 336,13 persen pada Juni 2024 menjadi Rp 376,06 persen. Sedangkan rasio kecukupan investasi meningkat dari 256,18 persen pada Juni 2024 menjadi 263,25 persen.
Dari sisi inovasi, sepanjang 2024 ASM memperoleh izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk enam produk baru, yakni Movable All Risk, Port & Terminal Liability, Siber Enterprise, Tanggung Jawab Profesi, Super Cover (penyesuaian premi dan USD), dan Pet insurance (Perubahan).
“Di tahun 2025 ada empat produk yang sudah diberikan izin oleh OJK yaitu Asuransi Simas Super Cover Syariah, Asuransi Simas Santunan Kerugian Total Kendaraan/Total Loss, Asuransi Simas Mobil Bonus dan Asuransi Simas Umrah Syariah,” ujar Ragil.
Dengan kompleksitas usaha tersebut, menurut Gabriela Davina, implementasi GRC menjadi hal yang sangat penting bagi perusahaan. Saat ini, ASM mengelola GRC secara terstruktur. Ada pedoman tata kelola (GCG) perusahaan yang diatur dalam SE ASM No. 028-SE.ASM/MGT-GCG-VI/2020 yang meliputi Struktur Tata Kelola, Kebijakan Tata Kelola Perusahaan, Kebijakan-Kebijakan Relevan dengan Penerapan Tata Kelola Perusahaan, Pedoman Tata Kerja Organ Perusahaan, Hubungan dengan Stakeholder.
“Terakhir penerapan GCG pada kegiatan operasional masing-masing divisi. Jadi ada job description yang jelas untuk mencegah benturan kepentingan,” ujar Gabriela.
ASM juga melakukan penilaian GCG Terintegrasi yang dilakukan setiap tahun sejak 2025 melalui self-assessment, dengan skor tetap stabil di angka 2 (baik) hingga semester I 2025.
Sejak 2014, kata Ragil, ASM sudah menerapkan manajemen risiko berbasis ISO 31000 yang mencakup identifikasi, pengukuran, kontrol, dan pemantauan risiko. Implementasi Enterprise Risk Management (ERM) berbasis ISO 31000 ini dioperasikan oleh seluruh tingkatan organisasi.
ASM melakukan penilaian profil risiko (kelembagaan) yang mulai dilakukan pada 2014/ 2015 seiring terbentuknya POJK dan SEOJK terkait Penerapan Manajemen Risiko termasuk SE internal perusahaan. Penilaian profil risiko kelembagaan atau tingkat kesehatan perusahaan 2021–2024 konsisten di skor 2 (Low to Moderate).
Dalam penerapan manajemen risiko, kata Ragil, setiap karyawan di seluruh elemen organisasi harus memiliki kesadaran dan kepedulian yang melekat (inherent) terhadap risiko yang ada dalam setiap aktivitas bisnis dan operasionalnya sesuai dengan wewenang, tugas, dan tanggung-jawabnya (risk owner).
Dalam implementasinya, seluruh karyawan menjalankan proses manajemen risiko sesuai dengan job description, mulai tahap identifikasi hingga tahap pemantauan. Proses manajemen risiko dicatat dalam format Risk Control Self Assessment (RCSA) dan Loss Event Database (LED) yang ada dalam sistem.
Selain RCSA dan LED, karyawan juga diwajibkan untuk mengisi GRC quiz & Happines Index Scale setiap 3 bulan sekali yang dikaitkan dengan sistem KPI digunakan sebagai faktor penambah nilai.
Nilai maturitas manajemen risiko d ASM meningkat dari 3,96 menjadi 3,97 pada 2024.
Dalam aspek kepatuhan, ASM mengacu pada ISO 19600 (manajemen kepatuhan), ISO 37001 (anti-penyuapan), serta Program pengendalian dan pencegahan fraud sesuai amanat OJK. ASM juga memiliki Whistleblowing system untuk laporan pengaduan.
“Kriteria keberhasilan kepatuhan meliputi pelaksanaan sesuai SOP, hasil uji kepatuhan, tindak lanjut ketidakpatuhan, pelaporan tepat waktu, serta monitoring rutin yang dilakukan secara berjenjang,” ujar Gabriela.
ASM juga mendorong sertifikasi profesi karyawan di bidang ahli asuransi (AAIK, AAAIK, AIIS, AAK), manajemen risiko (CRGP, CRMP, CRMO), advokat, Underwriter, dan keahlian pemasaran.
Penerapan GRC ASM dilakukan dengan prinsip ESG (Environmental, Social, Governance). Untuk bidang lingkungan, ASM sudah menerapkan green office, panel surya, lampu LED, penghijauan kantor, charging station kendaraan listrik, hingga daur ulang air yang menghemat biaya 6 persen per bulan.
Sedangkan di bidang sosial, ASM memliki program wakaf Al-Qur’an, bantuan sembako, pelatihan masyarakat, literasi keuangan, dan program UMKM naik kelas melalui pemanfaatan limbah restoran menjadi pewarna alami.
Berkat kinerjanya tersebut, Lembaga Pemeringkat (FITCH rating) menilai ASM sebagai National Insurer Financial Strength (IFS) yang konsisten sejak 2010 dengan peringkat “AA+(idn)” dan outlook “Stable” hingga tahun 2024. Pada tahun 2025, Fitch Ratings Indonesia telah merevisi outlook menjadi “Positif” dengan peringkat “AA+(idn)”.
Selain itu, ASM juga Kembali menjadi kandidat peraih TOP GRC Awards 2025. Di ajang TOP GRC Awards 2024, ASM meraih Golden Star Trophy karena tiga tahun berturut-turut meraih TOP GRC Awards bintang 5.
Terobosan Manajemen
Sementara itu, Dumasi M M Samosir selaku Direktur sekaligus Corporate Secretary PT Asuransi Sinar Mas dalam sesi tanya jawab dengan dewan juri menyampaikan soal perjalanan ASM melewati masa-masa sulit pandemi, sekaligus membangun fondasi bisnis untuk masa depan perusahan.
“Dulu kami paling menghindari bisnis dengan pemerintah. Takutnya ada titip sana, titip sini. Tapi pandemi mengubah semuanya. Tender pemerintah jadi online, transparan, clean. Ternyata ini bisa menjadi channel bisnis baru yang menghidupkan seluruh cabang,” ujar dia.
Ketika penjualan mobil yang menjadi salah satu tulang punggung asuransi kendaraan anjlok, bisnis ASM tetap berkibar berkat peluang baru ini. “Sekarang tender pemerintah jadi salah satu penyelamat kami,” ucap dia.
Menurut Dumasi, kunci bertahan bagi perusahaan bukan hanya merawat pasar lama, tetapi menciptakan kebutuhan baru. Ia menyebut beberapa terobosan yang dilakukan manajemen ASM, mulai dari memasarkan customs bond untuk pembebasan bea masuk barang impor, hingga kembali menggarap produk-produk yang dulu kurang diminati. “Kami meng-encourage seluruh cabang untuk masuk ke area yang selama ini belum disentuh,” jelasnya.
ASM juga tengah memoles unit asuransi syariah Sinarmas. Setelah menikmati lonjakan di masa uang muka atau DP kredit mobil syariah lebih murah, penjualan produk asuransi ini menurun saat DP disamakan.
“Setelah masa honeymon itu selesai, akhirnya orang tidak beli syariah lagi karena harus membayar DP yang sama. Jadi artinya kita harus do something else nggak bisa kita mengandalkan cara-cara lama yang sudah ada. Jadi kami sudah mempersiapkan tim kami, termasuk anak-anak usaha kita yang berencana untuk spin off pada 2026,” kata Dumasi.
Bagi Dumasi, inovasi tanpa tata kelola akan rapuh. “Without GRC, kita pasti terseok-seok. Dengan GRC, kita bisa sustain,” ujarnya.
Ia mengakui, banyak pengetahuan soal standar manajemen seperti ISO diperoleh dari ajang penjurian TOP GRC Awards yang diadakan oleh TopBusiness. “We really want to be banyak insight dari penjurian ini untuk kami bisa pakai dalam mengembangkan perusahaan ke depan,” kata Dumasi.
