TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

ESSA Siapkan Capex US$ 10–20 Juta di 2026, Fokus Operasional LPG dan Amonia

Nurdian Akhmad
3 December 2025 | 15:13
rubrik: Business Info
ESSA Siapkan Capex US$ 10–20 Juta di 2026, Fokus Operasional LPG dan Amonia

Jakarta, TopBusiness — PT ESSA Industries Indonesia Tbk (IDX: ESSA) menegaskan bahwa rencana ekspansi perusahaan pada 2026 akan difokuskan pada belanja modal (capex) untuk kebutuhan operasional eksisting, khususnya fasilitas LPG dan amonia.

Direktur ESSA Industries Prakash Bumb menyampaikan bahwa capex yang disiapkan tahun depan relatif kecil karena hanya bersifat maintenance.

“Untuk operasi LPG dan amonia, hanya protection capex yang diperlukan dan tidak terlalu tinggi. Kira-kira antara US$10 juta hingga US$20 juta yang bersifat esensial,” ujar Prakash dalam Public Expose ESSA secara daring, Rabu (3/12/2025).

Ia menambahkan, kebutuhan pendanaan untuk proyek-proyek baru tidak akan membebani capex 2026 karena sebagian besar masih dalam tahap pengembangan awal. “Untuk proyek yang sedang dalam tahap konstruksi, tidak banyak kebutuhan capex yang diharapkan pada 2026,” katanya.

ESSA, menurut Prakash, juga memiliki cash balance yang kuat sehingga mampu membiayai operasional dan beban belanja modal secara mandiri.

Saat ditanya mengenai target peningkatan pendapatan dan laba tahun depan, Prakash menegaskan bahwa ESSA tidak menetapkan proyeksi pendapatan maupun profit secara spesifik.

“Total revenue dan profit sangat bergantung pada harga jual di pasar internasional. Baik amonia maupun LPG adalah komoditas, sehingga harganya ditentukan oleh dinamika permintaan dan suplai dunia,” jelasnya.

Kendati demikian, perusahaan memastikan operasional akan dikelola secara lebih efisien. “Yang bisa kami kontrol adalah efisiensi operasional. Itu fokus utama kami pada 2026,” tambah Prakash.

Terkait rencana pembagian dividen tahun buku 2025, ESSA tidak memberikan angka pasti. “Dividen tergantung keputusan pemegang saham. Kami berharap dapat terus membagikan dividen seperti sebelumnya,” ujar Prakash.

Proyek SAF Berpotensi Tinggi

Pada kesempatan itu, Prakash juga memaparkan perkembangan proyek Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang tengah digarap ESSA. Menurutnya, saat ini perusahaan sedang menjalankan tahap front-end engineering design (FEED) dan kajian teknis.

BACA JUGA:   Bebas Utang, ESSA Siapkan Turnaround Pabrik Amonia pada Kuartal II-2026

“Ini adalah plant berskala besar dengan proses yang sangat kompleks. Konstruksinya diperkirakan memakan waktu sekitar 2,5 hingga 3,5 tahun setelah dimulai,” katanya.

Ia menekankan bahwa produk SAF memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan relevan dengan kebutuhan global pengurangan emisi. “Kami melihat proyek SAF sebagai proyek yang sangat prospektif dengan nilai produk yang premium.”

Menjawab pertanyaan investor terkait prospek permintaan amonia, Prakash menjelaskan bahwa kebutuhan global diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan kebutuhan pangan dunia.

“Kebutuhan amonia di pasar tradisional, terutama untuk pupuk, akan berkembang 2–3% per tahun. Penggunaannya sangat besar secara global,” ujarnya.

Selain pasar pupuk, amonia rendah karbon juga semakin dibutuhkan untuk aplikasi energi. Jepang, misalnya, berencana mengganti sebagian penggunaan batu bara di pembangkit listrik dengan amonia.

Prakash juga menilai pasar amonia rendah karbon (blue ammonia) akan terus berkembang menyusul regulasi baru terkait karbon di berbagai negara, termasuk Eropa, Jepang, dan Korea.

“Produk yang tidak memenuhi standar carbon footprint akan dikenakan biaya tambahan seperti CBAM di Eropa. Jadi ke depan, pasar akan sangat mendorong penggunaan amonia rendah karbon,” jelasnya.

Terbuka Ekspansi ke Metanol, Hidrogen, dan Fertilizer

ESSA menyatakan terbuka untuk menggarap peluang di sektor petrokimia dan energi lain yang relevan. “ESSA sangat terbuka untuk mempertimbangkan peluang ekspansi ke metanol, hidrogen, urea, maupun produk fertilizer lainnya. Kami memiliki kemampuan dan pengalaman membangun dan mengoperasikan plant sejenis secara efisien,” tegas Prakash.

Ia memastikan perusahaan akan mengkaji peluang baru secara selektif dan terukur. “Setiap ada peluang yang baik dan bisa menambah nilai bagi perusahaan, kami akan mengevaluasinya,” kata Prakash.

Tags: PT ESSA Industries Indonesia Tbk
Previous Post

BNI Raih Dua Penghargaan BI Awards 2025

Next Post

Derivatif Pasar Uang akan Diatur via Manajemen Risiko

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR