- Sepanjang 2025, realisasi investasi lebih besar mengalir ke luar Jawa (51,3%) dibandingkan Jawa (48,7%). Sulawesi Tengah menjadi contoh paling menonjol, dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 8% berkat kuatnya investasi hilirisasi mineral di Morowali dan Morowali Utara.
- Investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun atau 30,2% dari total investasi nasional, tumbuh 43,3% secara tahunan. Hilirisasi tidak hanya mencakup mineral logam seperti nikel dan bauksit, tetapi mulai diperluas ke sektor pertanian, perkebunan, perikanan, migas, dan batu bara, dengan dominasi lokasi di luar Jawa (71,1%).
- Pada 2026, pemerintah memproyeksikan peningkatan investasi di perumahan, kawasan industri, energi terbarukan, serta hilirisasi bauksit dan sawit. Stabilitas regulasi dan kepastian kebijakan menjadi kunci menjaga minat investor asing, dengan Singapura tetap menjadi sumber investasi terbesar.
Jakarta, TopBusiness – Pemerintah berhasil melampaui target realisasi investasi nasional sepanjang 2025 di tengah tekanan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P Roeslani mengungkapkan, total realisasi investasi Januari–Desember 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun atau 101,3% dari target Rp1.905,6 triliun.
“Alhamdulillah, target realisasi investasi 2025 tercapai bahkan sedikit melampaui. Ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap Indonesia tetap terjaga meski kondisi global tidak mudah,” ujar Rosan dalam Konferensi Pers Capaian Realisasi Investasi Triwulan IV 2025, di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Secara tahunan, realisasi investasi 2025 tumbuh 12,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian tersebut juga memberikan dampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja dengan penyerapan sekitar 2,71 juta tenaga kerja, meningkat 10,4% secara year on year.
Rosan menegaskan, penciptaan lapangan kerja tetap menjadi indikator utama keberhasilan investasi. “Ini adalah tugas paling esensial pemerintah, memastikan investasi yang masuk menciptakan pekerjaan yang baik dan berkualitas bagi masyarakat,” katanya.
Pada kuartal IV 2025, realisasi investasi tercatat Rp496,9 triliun atau setara 26,1% dari total target tahunan. Angka tersebut tumbuh 9,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penyerapan tenaga kerja pada periode ini mencapai 754.186 orang.
Dari sisi sumber investasi, penanaman modal asing (PMA) masih sedikit lebih tinggi dibandingkan penanaman modal dalam negeri (PMDN). PMA pada kuartal IV 2025 mencapai Rp296,3 triliun atau 51,6%, sementara PMDN sebesar Rp240,6 triliun atau 48,4%.
Meski demikian, Rosan mencatat pertumbuhan PMDN secara tahunan lebih tinggi, yakni 16,2%, dibandingkan PMA yang tumbuh 4,3%. “Ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha domestik terhadap iklim investasi di dalam negeri,” ujarnya.

Penyebaran Investasi Makin Merata
Berdasarkan wilayah, realisasi investasi kuartal IV 2025 relatif seimbang antara Jawa dan luar Jawa. Investasi di luar Jawa mencapai Rp249,4 triliun, sedikit lebih tinggi dibandingkan Jawa sebesar Rp247,5 triliun.
Untuk tingkat provinsi, Jawa Barat masih menjadi tujuan utama investasi nasional, disusul DKI Jakarta, Jawa Timur, Banten, dan Sulawesi Tengah. Menurut Rosan, konsistensi Sulawesi Tengah di lima besar mencerminkan keberlanjutan investasi berbasis hilirisasi sumber daya alam.
“Ini membuktikan investasi tidak lagi terpusat di Jawa, tetapi mulai bergerak lebih merata dari barat hingga timur Indonesia,” kata Rosan.
Hilirisasi dan Sektor Strategis
Dari sisi sektor usaha, industri logam dasar dan barang logam masih menjadi kontributor terbesar realisasi investasi. Sepanjang 2025, sektor hilirisasi sumber daya alam menyumbang sekitar 30,2% dari total investasi, dengan pertumbuhan signifikan pada kuartal IV yang mencapai 42,6% dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain mineral, pemerintah mulai mendorong perluasan hilirisasi ke sektor lain seperti pertanian, perikanan, dan kelautan. “Investasi di sektor kelautan dan perikanan mulai tumbuh, termasuk pengolahan tuna, cakalang, dan tongkol,” ujar Rosan.
Ia menilai sektor-sektor berbasis agrikultur dan jasa memiliki daya serap tenaga kerja lebih besar, meski nilai investasinya tidak sebesar sektor mineral.
Singapura Masih Terbesar
Untuk asal negara investor, Singapura masih menjadi kontributor terbesar dengan nilai investasi sekitar US$4,8 miliar atau 30,1% dari total PMA. Disusul Hong Kong dan Tiongkok, Malaysia, serta Jepang yang kembali masuk lima besar pada 2025.
Rosan menyebut, kepercayaan investor asing ditopang oleh stabilitas politik dan ekonomi nasional, serta reformasi perizinan yang terus dilakukan pemerintah, termasuk penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2024 dan mekanisme perizinan otomatis (PP positif).
“Reformasi regulasi ini meningkatkan kepastian, mempercepat waktu perizinan, dan memperbaiki kepercayaan investor,” tegasnya.
Optimisme di 2026
Menghadapi 2026, pemerintah optimistis realisasi investasi akan terus meningkat, terutama dari penanaman modal dalam negeri. Fokus ke depan mencakup pengembangan energi terbarukan, industri berbasis teknologi, serta perluasan investasi di luar Jawa.
“Kami ingin investasi tidak hanya besar dari sisi nilai, tetapi juga berdampak luas bagi pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja,” kata Rosan.
Dengan capaian 2025 tersebut, pemerintah berharap investasi tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang masih penuh tantangan. (AI)
