Jakarta, TopBusiness – PT BPR Syariah Kab. Ngawi (Perseroda) atau Bank Syariah Ngawi terus menunjukkan peran strategisnya dalam mendorong pembangunan ekonomi daerah.
Dalam dua tahun terakhir, bank milik Pemerintah Kabupaten Ngawi itu dinilai berhasil menekan praktik rentenir yang selama ini membelit masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil dan sektor pertanian.
Upaya pemberantasan rentenir tersebut mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Ngawi selaku pemegang saham. Pemerintah daerah mendorong agar ruang gerak praktik pinjaman ilegal terus dipersempit, sehingga masyarakat dapat terbebas dari jeratan bunga tinggi yang mencekik.
Seiring dengan itu, Bank Syariah Ngawi juga mendapat amanah besar dari Pemkab Ngawi untuk berperan aktif dalam mendukung program ketahanan pangan daerah. Amanah tersebut diwujudkan melalui penguatan pembiayaan sektor pertanian serta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berbasis prinsip syariah.
Direktur Utama PT BPR Syariah Kabupaten Ngawi (Perseroda), Parjiyanto, menegaskan bahwa bank menghimpun dana masyarakat melalui produk tabungan dan deposito. Dana tersebut kemudian disalurkan kembali dalam bentuk pembiayaan yang sesuai dengan prinsip syariah.
“Pembiayaan kami fokuskan pada sektor usaha ultra mikro, UMKM, pertanian, serta pembiayaan fix income. Ini merupakan bentuk komitmen kami dalam mendukung perekonomian masyarakat Ngawi,” ujar Parjiyanto saat memaparkan kinerja perusahaan kepada Dewan Juri TOP BUMD Awards, Jumat (23/1/2026) akhir pekan lalu.
Menurutnya, Bank Syariah Ngawi berkomitmen meningkatkan akses keuangan yang inklusif sekaligus berperan aktif dalam pembangunan ekonomi dan sosial di Kabupaten Ngawi.
Dalam menjalankan usahanya, Bank Syariah Ngawi menerapkan sejumlah strategi bisnis utama. Di antaranya adalah bersinergi dengan Pemerintah Daerah dalam mendukung program ketahanan pangan berkelanjutan melalui fasilitasi pembiayaan pertanian syariah.
Selain itu, bank juga bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk meningkatkan penghimpunan dana pelajar, serta menambah unit mobil kas keliling guna memperluas jangkauan layanan perbankan ke wilayah-wilayah yang belum terlayani di Kabupaten Ngawi.
Inovasi Layanan dan Digitalisasi
Parjiyanto menambahkan, Bank Syariah Ngawi terus melakukan terobosan dan inovasi dalam bidang pemasaran serta layanan kepada nasabah.
Beberapa produk unggulan yang dikembangkan antara lain Tabungan Ukhuwah, Pembiayaan Ultra Mikro Berantas Rentenir, dan Pembiayaan Pertanian.
Untuk menjangkau masyarakat hingga pelosok desa, bank juga mengoperasikan dua unit mobil kas keliling yang memberikan layanan langsung ke wilayah terpencil.
Di sisi digitalisasi, Bank Syariah Ngawi mengembangkan aplikasi ASSIST.NET, sebuah solusi bisnis yang memudahkan proses pengajuan pembiayaan hingga pembuatan akad secara online. Aplikasi ini memungkinkan seluruh proses terdokumentasi dengan baik serta mempercepat layanan pembiayaan.
Selain itu, bank juga meluncurkan KLUNTINK APP, aplikasi digital banking yang memberikan kemudahan bagi nasabah untuk melakukan cek saldo dan mutasi rekening. Ke depan, aplikasi ini direncanakan akan terus dikembangkan dengan fitur-fitur tambahan. Kehadiran aplikasi ini dinilai mampu meningkatkan citra dan branding positif bank di mata nasabah.
Tidak hanya fokus pada bisnis, Bank Syariah Ngawi pun menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Bentuk kepedulian tersebut antara lain melalui dukungan program pelestarian lingkungan pada perayaan Hari Jadi Ngawi serta penyediaan fasilitas sanitasi yang layak di lingkungan sekolah.
Dalam bidang tanggung jawab sosial dan pemberdayaan masyarakat, bank menjalankan berbagai program, seperti pembiayaan ultra mikro untuk memberantas rentenir, penyelenggaraan lomba minat dan bakat bagi anak berkebutuhan khusus di Sekolah Luar Biasa (SLB), pembagian sembako dalam kegiatan Safari Ramadan di Kecamatan Mantingan, dukungan program balik gratis bekerja sama dengan Dinas Perhubungan Kabupaten Ngawi, serta dukungan terhadap tim sepak bola kebanggaan daerah, PERSINGA Ngawi.
Lebih lanjut, Parjiyanto mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengajukan usulan kepada Pemerintah Kabupaten Ngawi terkait pemberian subsidi margin pembiayaan bagi petani dan UMKM. Dalam skema tersebut, nasabah diharapkan hanya menanggung beban margin sebesar 2 persen, sementara sisanya sebesar 6 persen ditanggung oleh pemerintah daerah.
“Hingga saat ini pengajuan tersebut belum mendapatkan jawaban. Padahal, jika subsidi pembiayaan ini dapat direalisasikan, sektor pertanian dan UMKM di Ngawi akan terdongkrak dan tumbuh lebih pesat. Terlebih lagi, pertanian Ngawi juga menjadi tolok ukur di tingkat nasional,” tegas Parjiyanto.
Dengan berbagai program, inovasi, serta komitmen sosial yang dijalankan, Bank Syariah Ngawi optimistis dapat terus berkontribusi dalam mewujudkan perekonomian daerah yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
