Jakarta, TopBusiness – Perumda BPR Bank Gresik atau Bank Gresik menegaskan komitmennya dalam memperkuat pembangunan daerah melalui strategi bisnis yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat lokal.
Tidak sekadar mengejar pertumbuhan laba, bank milik Pemerintah Kabupaten Gresik ini memosisikan diri sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan dengan fokus pada segmen UMKM, mikro kecil, pasar tani, aparatur sipil negara (ASN), masyarakat desa, hingga sektor informal.
Komitmen tersebut disampaikan Kepala Bagian Marketing Bank Gresik, Adi Yuliyanto, dalam pemaparan strategi bisnis di hadapan Dewan Juri TOP BUMD Awards 2026 yang digelar secara daring di Jakarta, Jumat lalu.
Ia didampingi jajaran manajemen, antara lain Ratna Nirmalawati selaku Kabag Operasional), Siti Nurlailia (Kabag Kepatuhan, Manajemen Risiko, dan APU PPT), Retno Wulandari (Kabag Personalia Umum & IT), serta Sugiarti (Audit Internal).
Adi menegaskan, sinergi dengan pemerintah daerah menjadi pilar utama implementasi strategi bisnis Bank Gresik. Sepanjang 2025, salah satu program unggulan yang dijalankan adalah penyaluran kredit instalasi saluran air bersih bekerja sama dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
Program ini lahir dari kebutuhan riil masyarakat. Biaya persambungan air bersih di Kabupaten Gresik yang mencapai sekitar Rp750 ribu dinilai cukup memberatkan sebagian warga, terutama kelompok berpenghasilan rendah. Melalui skema kredit yang disiapkan Bank Gresik, masyarakat kini dapat memperoleh akses air bersih dengan cicilan yang lebih terjangkau.
“Program ini menjadi solusi konkret atas kendala biaya persambungan air. Dengan pembiayaan yang fleksibel, masyarakat tetap bisa menikmati layanan air bersih tanpa terbebani pembayaran di muka,” ujar Adi dalam ulasan materi presentasi berjudul ‘Membangun Masa Depan Daerah Melalui Inovasi BUMD’.
Langkah ini tidak hanya memperluas inklusi keuangan, tetapi juga mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui akses sanitasi dan air bersih yang layak.
Selain sektor utilitas dasar, Bank Gresik juga memperkuat perannya dalam penyediaan hunian bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Program ini dijalankan melalui kolaborasi lintas sektor bersama Dinas Cipta Karya, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (CKPKP), Dinas Pekerjaan Umum, serta Pemerintah Kabupaten Gresik.
Sasaran program berada di Desa Campurejo, wilayah Pancang, yang sebelumnya dihuni masyarakat dengan kondisi rumah tidak layak huni dan status kepemilikan tanah yang belum jelas secara hukum.
Melalui kerja sama tersebut, pemerintah daerah menyediakan lahan yang dapat digunakan untuk pembangunan rumah layak huni dengan status kepemilikan yang sah berupa sertifikat hak milik. Pembangunan fisik rumah didukung oleh Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Dinas CKPKP, sementara Bank Gresik membiayai penyediaan tanah senilai Rp60 juta per unit dengan tenor maksimal delapan tahun.
“Skema ini dirancang agar masyarakat, khususnya nelayan berpenghasilan rendah yang pendapatannya bergantung pada musim, dapat memiliki hunian yang layak sekaligus legal,” jelas Adi.
Model pembiayaan tersebut dinilai mampu menghadirkan solusi menyeluruh: tidak hanya membangun rumah, tetapi juga memastikan kepastian hukum atas aset yang dimiliki warga.
Komitmen Bank Gresik juga tercermin dalam dukungan terhadap program prioritas nasional, salah satunya melalui pembiayaan pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Program ini digulirkan pemerintah pusat hingga tingkat kabupaten untuk memperkuat layanan pemenuhan gizi masyarakat.
Pada awal 2025, jumlah titik SPPG yang terbangun masih terbatas sehingga diperlukan percepatan pembangunan secara serentak. Menyikapi hal tersebut, Bank Gresik bersama direksi dan Pemerintah Kabupaten Gresik mengambil peran aktif dengan membiayai pembangunan 14 titik SPPG.
“Dengan dukungan pembiayaan ini, kami berharap layanan pemenuhan gizi dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dan berjalan maksimal,” kata Adi.
Langkah tersebut memperlihatkan peran BUMD perbankan sebagai mitra strategis pemerintah dalam menyukseskan program sosial yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Di bidang edukasi, Bank Gresik juga mengintensifkan program literasi dan inklusi keuangan melalui gerakan gemar menabung di lingkungan sekolah. Program ini dijalankan bersinergi dengan Dinas Pendidikan dan didukung surat edaran resmi untuk mendorong partisipasi sekolah mulai dari jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA.
Melalui pendekatan ini, Bank Gresik berupaya menanamkan budaya menabung sejak usia dini serta memperkenalkan layanan perbankan secara bertahap kepada generasi muda.
Tidak hanya menyasar pelajar, Bank Gresik juga aktif menjangkau komunitas desa. Salah satunya melalui produk tabungan bagi komunitas “Pudak Ayu”, kelompok masyarakat seperti Dasa Wisma yang rutin berkumpul di balai desa bersama Dinas CKPKP. Komunitas ini memiliki fokus pada peningkatan sanitasi bersih, termasuk penyediaan jamban sehat.
Bank Gresik turut mendukung melalui fasilitas kredit bagi warga yang membutuhkan pembiayaan pembangunan jamban sehat, sekaligus mendorong penghimpunan tabungan komunitas sebagai bagian dari penguatan kemandirian finansial masyarakat desa.
Tumbuh Bersama Masyarakat
Melalui rangkaian program tersebut, Bank Gresik menunjukkan peran strategisnya sebagai BUMD yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga berkomitmen pada pembangunan berkelanjutan.
Fokus pada UMKM, pembiayaan perumahan MBR, dukungan program gizi, penyediaan akses air bersih, hingga edukasi keuangan menjadi cerminan strategi bisnis yang terintegrasi dengan agenda pembangunan daerah.
Dengan sinergi yang kuat bersama pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan, Bank Gresik menegaskan posisinya sebagai lembaga keuangan daerah yang tumbuh bersama masyarakat—menghadirkan solusi finansial yang inklusif sekaligus berdampak sosial nyata bagi Kabupaten Gresik.
