Jakarta, TopBusiness – Program CSR atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) menjadi salah satu pilar penting dalam strategi keberlanjutan perusahaan, tidak terkecuali bagi PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat (PLN UIW NTB).
Hal ini disampaikan oleh Wido Kusumo, Manajer Komunikasi dan TJSL PLN UIW NTB, dalam kegiatan wawacara penjurian TOP CSR Awards 2026 yang diselenggarakan secara daring, Selasa (24/2/2026).
“Jadi, bagi kami memang TJSL ini merupakan sebuah strategi keberlanjutan yang menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat, lingkungan, dan pertumbuhan bisnis,” ujar Wido, yang juga ditemani oleh Rezan selaku Asman TJSL dan Yonaldi, Officer TJSL dalam sesi penjurian ini.
Selaraskan CSR dan ESG
Komitmen perusahaan terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) ditegaskan sebagai bagian dari strategi bisnis berkelanjutan oleh PLN UIW NTB.
Melalui tema “Aligning CSR and ESG for Long-Term Corporate Value and Sustainable Development”, perusahaan memastikan program TJSL tidak lagi sekadar bersifat charity belaka, tetapi terintegrasi dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta berorientasi pada dampak jangka panjang.
Rezan menjelaskan, pelaksanaan TJSL dilatarbelakangi oleh kewajiban regulasi, komitmen keberlanjutan, tuntutan global ESG, hingga kebutuhan mitigasi risiko dan kontribusi terhadap pembangunan nasional.
Dasar hukum pelaksanaan TJSL tersebut merujuk pada berbagai regulasi, antara lain Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007, Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2012, POJK Nomor 51 Tahun 2017, Peraturan Menteri BUMN PER-1/MBU/03/2023, serta ISO melalui pedoman ISO 26000 tentang tanggung jawab sosial.
Sebagai unit induk wilayah, PLN UIW NTB membawahi proses bisnis pembangkitan, transmisi, dan distribusi listrik di seluruh Nusa Tenggara Barat.
Struktur operasionalnya mencakup Unit Pembangkitan Lombok, Unit Pembangunan Tabora, Unit Pelaksana Transmisi Mataram, serta sembilan unit distribusi yang tersebar di kabupaten/kota.
Rezan menegaskan, perencanaan TJSL dilakukan secara sistematis dan berbasis risiko dengan mengacu pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs). Identifikasi kebutuhan masyarakat dilakukan melalui dokumen RPJMDes, social mapping, serta data potensi dan permasalahan wilayah.
Setiap program disusun melalui dokumen TOR (Term of Reference) dan LFA (Logical Framework Analysis), diverifikasi melalui forum diskusi kelompok (FGD) bersama calon penerima manfaat, hingga ditetapkan strategi keberlanjutannya.
“Jadi untuk saat ini TJSL PLN tidak sekadar charity saja, tetapi harus berkelanjutan atau sustain,” ujar Rezan.
Pelaksanaan program juga menekankan pelibatan aktif masyarakat sebagai pelaku utama melalui semangat gotong royong. Selain itu, kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah desa, LSM, koperasi lokal, dan mitra lainnya menjadi pendekatan utama.
“Jadi kita lebih mengedepankan kolaborasi stakeholder dan juga penerima manfaat,” katanya.
Dalam aspek pengawasan, PLN melakukan monitoring rutin melalui laporan daring dan kunjungan lapangan yang diperbarui minimal satu bulan sekali melalui dashboard internal. Evaluasi efektivitas dilakukan hingga satu tahun setelah program selesai untuk memastikan output menghasilkan outcome yang diharapkan.
Evaluasi tersebut menjadi dasar pengambilan keputusan, apakah program diperkuat, direplikasi, atau memasuki tahap exit program ketika masyarakat dinilai telah mandiri.
“Jadi ketika salah satu unit PLN memiliki program bagus, kemudian diadopt, itu bisa jadi di suatu daerah itu lebih bagus lagi,” ujarnya.
Strategi keberlanjutan menjadi kunci utama. Setiap program dirancang memiliki aspek penguatan ekonomi, termasuk pemberdayaan UMKM, desa berdaya, maupun pengembangan ekowisata, agar penerima manfaat tidak bergantung pada bantuan perusahaan.
“Jadi di PLN itu selalu menambahkan aspek ekonomi ataupun UMKM pada sisi program. Jadi setiap program itu harus memiliki aspek ekonomi untuk dia mempunyai kemandirian dan berkelanjutan,” tegas Rezan.
Sepanjang 2025, PLN UIW NTB menjalankan 22 program TJSL yang terdiri dari 5 program reguler, 8 program penugasan, dan 9 program penugasan pusat dengan total 32.194 penerima manfaat.
Dari sisi ekonomi, program tersebut menyerap 1.852 tenaga kerja dan melibatkan 2.828 UMKM, serta menghasilkan penghematan pengeluaran pelanggan sebesar Rp1,4 miliar.
Dampak sosial yang dicapai antara lain 724 pasang baru dan tambah daya listrik gratis, perbaikan tujuh fasilitas umum, elektrifikasi 57 fasilitas umum, penyaluran 1.000 paket sembako, serta 480 kegiatan partisipasi sosial dan pelatihan.
Sementara dari aspek lingkungan, tercatat 6.320 pohon ditanam, rehabilitasi mangrove seluas 7,76 hektare, potensi penyerapan karbon sebesar 1.565 ton CO₂ per tahun, serta pengelolaan sampah terakumulasi 22,86 ton.
Program TJSL tersebut tersebar di seluruh kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat, dengan sebaran terbanyak di Kota Mataram sebanyak sembilan program, disusul Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa, Kota Bima, dan Kabupaten Bima.
Program Unggulan
PLN UIW NTB menginisiasi lima program unggulan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari total 22 program yang dijalankan pada 2025. Program tersebut dirancang tidak hanya untuk menjawab kebutuhan sosial masyarakat, tetapi juga memperkuat keberlanjutan operasional perusahaan di wilayah Nusa Tenggara Barat.
Tyonaldi menjelaskan, lima program unggulan tersebut yakni Desa Berdaya Jerowaru, Desa Berdaya Medana, Rumah BUMN Sumbawa, Rumah BUMN Lombok Barat, serta Program Pengembangan Produk Inovasi Daun Kelor di Lombok Utara.
Program Desa Berdaya Jerowaru dilaksanakan pada 2024–2025 dengan fokus pemberdayaan masyarakat pesisir di wilayah Ring 1 operasional PLN. Program ini berkaitan langsung dengan keberadaan kabel bawah laut serta jalur bongkar muat batu bara untuk PLTU di Lombok Timur.
“Program ini dilaksanakan untuk memperkuat social license to operate PLN melalui pemberdayaan masyarakat pesisir, perlindungan aset ketenagalistrikan, serta peningkatan penerimaan sosial terhadap operasional perusahaan,” ujarnya.
Sementara itu, Desa Berdaya Medana menjadi salah satu program unggulan 2025 dengan pendekatan terintegrasi tiga pilar: ekonomi, sosial, dan lingkungan. Desa Medana di Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, dipilih berdasarkan kebutuhan riil masyarakat, termasuk tingginya angka pernikahan dini, pengangguran, serta kerentanan terhadap kekeringan.
Konsep Desa Berdaya mengintegrasikan penguatan ekonomi, pendidikan sosial, dan lingkungan dalam satu desain program. “Kalau biasanya satu program hanya satu pilar, di Desa Berdaya ini kita integrasikan tiga pilar agar lebih sustain dan berkelanjutan,” kata Tyonaldi.
Pada pilar ekonomi, PLN mengembangkan budidaya jamur, pengolahan kelapa menjadi produk turunan seperti PCO, serta produksi batik sasak oleh kelompok perempuan. Program ini melahirkan tiga UMK baru yang menyerap 15 tenaga kerja dengan total pendapatan sekitar Rp40,5 juta per bulan.
Di sisi sosial, dilakukan sosialisasi pencegahan pernikahan dini yang menjangkau 150 peserta, kampanye gemar membaca dengan 1.200 peserta lintas sekolah, serta penguatan kelompok literasi perempuan melalui kegiatan KANCA yang melibatkan 60 orang.
Untuk pilar lingkungan, program mencakup sosialisasi pelestarian mata air kepada 100 peserta, penanaman 1.000 bibit pohon, serta penyaluran air bersih kepada 100 kepala keluarga. Program ini juga memicu inisiatif mandiri kelompok berupa kegiatan sosial “asolansia”, yakni penyisihan keuntungan usaha untuk membantu kebutuhan pangan lansia.
“Ini sudah bukan dari PLN, tapi inisiatif dari kelompok karena mereka sudah mampu menghasilkan pendapatan,” ujarnya.
Selain Desa Berdaya, PLN UIW NTB juga menjalankan program Rumah BUMN di Sumbawa dan Lombok Barat untuk pelatihan serta pendampingan UMK guna meningkatkan kualitas produk dan akses pasar. Di Lombok Utara, program inovasi daun kelor mendorong kelompok perempuan mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai tambah.
Program lainnya meliputi pelatihan produksi kopi mangrove dan olahan kepiting di wilayah pesisir dekat pelabuhan bongkar batu bara, digitalisasi komunitas baca di NTB, pengembangan Eco School Lentera Intergeneration sebagai sekolah komunitas lintas generasi, pemanfaatan limbah FABA untuk pembangunan akses jalan desa, pengolahan limbah batang jagung menjadi biomassa co-firing PLTU di Sumbawa, serta penanaman mangrove di Pantai Niu, Kota Bima.
Ke depan, PLN UIW NTB merencanakan penguatan aspek pemasaran melalui penyediaan sentra UMKM dan pelatihan sertifikasi produk pada 2026 agar model Desa Berdaya semakin mandiri.
