Jakarta, TopBusiness — Upaya mendorong ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat terus dilakukan oleh PT PLN (Persero), khususnya melalui Unit Induk Pembangunan (UIP) Maluku dan Papua. Lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PLN menghadirkan inovasi berbasis teknologi melalui program Electrifying Agriculture atau Smart Farming di Kampung Wibron, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura.
Program ini mengusung penerapan sistem irigasi sprinkler otomatis berbasis listrik untuk mendukung budidaya tanaman hortikultura yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan. Inisiatif ini sekaligus menjadi bagian dari pendekatan Creating Shared Value (CSV), yang mengintegrasikan kepentingan bisnis perusahaan dengan pemberdayaan masyarakat.
Asisten Manajer Komunikasi dan TJSL UIP Maluku dan Papua, Landi Simanjuntak, menjelaskan bahwa program ini dirancang berbasis kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar intervensi bantuan.
“Kami memulai dari social mapping untuk memastikan program yang dijalankan benar-benar menjawab persoalan di lapangan. Tujuannya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga membangun kemandirian masyarakat dalam jangka panjang,” ujarnya.
Tantangan Produktivitas dan Inflasi Pangan
Potensi pertanian hortikultura di Papua sejatinya cukup besar. Namun, praktik di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala klasik, mulai dari ketergantungan pada sistem irigasi manual hingga rendahnya efisiensi penggunaan air.
Kondisi ini berdampak langsung pada produktivitas pertanian yang belum optimal. Bahkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, inflasi bahan pangan di Papua mencapai 7,2%, yang dipicu oleh rendahnya produksi lokal serta tingginya ketergantungan pada pasokan dari luar daerah.
Komoditas seperti cabai merah, tomat, dan bawang merah menjadi penyumbang utama inflasi tersebut.
Melihat kondisi ini, PLN UIP Maluku dan Papua memilih Kampung Wibron sebagai lokasi intervensi. Di atas lahan seluas 500 meter persegi, dikembangkan learning farm yang berfungsi sebagai pusat pelatihan sekaligus demonstrasi pertanian modern.
“Jadi, masyarakat dapat mempelajari secara langsung penerapan sistem irigasi sprinkler otomatis yang hemat air, teknik pemupukan berimbang, manajemen tanaman, serta metode pengendalian hama dan penyakit yang ramah lingkungan. Sehingga terjadi efisiensi signifikan dan peningkatan produktivitas,” katanya.
Salah satu dampak paling nyata dari program ini adalah peningkatan efisiensi dalam proses budidaya.
Sebelum adanya teknologi sprinkler, proses penyiraman dilakukan secara manual dengan waktu yang cukup lama. Kini, dengan sistem otomatis, waktu penyiraman dapat ditekan secara drastis.
“Dari yang sebelumnya membutuhkan waktu hingga berjam-jam, kini hanya dalam hitungan menit. Ini tidak hanya menghemat tenaga kerja, tetapi juga meningkatkan efisiensi air dan energi,” jelas Landi.
Selain efisiensi, kualitas dan kuantitas hasil panen juga mengalami peningkatan. Tanaman seperti cabai, tomat, sawi, dan kangkung tumbuh lebih optimal karena distribusi air yang merata dan terkontrol.
Kondisi ini berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani. Dengan hasil panen yang lebih stabil, petani memiliki peluang untuk memperluas pasar dan meningkatkan skala usaha.
Pendekatan Partisipatif dan Pemberdayaan Masyarakat
Berbeda dari pendekatan CSR konvensional, program ini menempatkan masyarakat sebagai subjek utama, bukan sekadar penerima manfaat.
Sejak tahap perencanaan, masyarakat dilibatkan melalui mekanisme musyawarah desa. Mereka turut menentukan arah program, sekaligus berperan aktif dalam pelaksanaan dan pengelolaannya.
Kelompok Tani Pelita Jaya Makmur menjadi motor utama dalam operasional program, termasuk dalam pengelolaan sistem irigasi dan pemeliharaan fasilitas.
“Kami ingin memastikan bahwa masyarakat memiliki rasa kepemilikan terhadap program ini. Dengan begitu, keberlanjutan program dapat terjaga tanpa ketergantungan pada perusahaan,” tambah Landi.
Sebagai bagian dari strategi keberlanjutan, sebagian hasil panen disisihkan untuk dana kelompok yang digunakan dalam pemeliharaan alat dan pengembangan usaha.
Kata Landi, pelibatan aktif ini berupa masyarakat terlibat sebagai pelaku (gotong royong), bukan objek pasif atau karyawan dalam pengembangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
“Pelibatan aktif masyarakat menjadikan program TJSL PLN UIP MPA di Waibron bukan sekadar proyek bantuan, melainkan kolaborasi berbasis gotong royong. Dengan keterlibatan langsung dalam operasional, pemeliharaan, dan pengembangan K3, masyarakat menjadi pelaku utama yang memastikan program berjalan aman, sehat, dan berkelanjutan,” jelas dia.
Kunci Keberhasilan
Program ini tidak berjalan sendiri. PLN menggandeng berbagai pihak untuk memastikan implementasi berjalan optimal.
Kolaborasi dilakukan dengan Yayasan Bina Tani Sejahtera, Lembaga Kitorang, Universitas Cenderawasih (pendampingan akademik), dan Pemerintah daerah.
Pendekatan multipihak ini memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan sekaligus penguatan kapasitas masyarakat secara berkelanjutan.
Dan yang lebih penting, kata dia, Program Electrifying Agriculture ini tidak hanya memberikan dampak ekonomi, tetapi juga sosial dan lingkungan secara simultan. Dan keberhasilan program ini dapat dilihat dari beberapa aspek berikut:
Pencapaian Tujuan Program
- Produktivitas pertanian meningkat: sistem irigasi sprinkler otomatis terbukti menekan pemborosan air dan menjaga kelembaban tanah, sehingga hasil panen hortikultura lebih stabil.
- Efisiensi energi dan air: penggunaan listrik untuk menggerakkan sistem irigasi lebih hemat dibanding metode manual.
- Pemberdayaan masyarakat: kelompok tani Pelita Jaya Makmur mampu mengoperasikan dan merawat teknologi secara mandiri setelah mendapat pelatihan.
Dampak Sosial-Ekonomi
- Pendapatan petani naik karena hasil panen lebih konsisten.
- Kolaborasi komunitas meningkat melalui musyawarah desa dan kerja sama antarpetani.
- Kesadaran lingkungan tumbuh: masyarakat lebih peduli terhadap penggunaan air secara bijak dan praktik pertanian berkelanjutan
Dampak Lingkungan
- Pengurangan erosi tanah berkat distribusi air yang merata.
- Penghijauan lahan lebih terjaga karena kelembaban tanah stabil.
- Efisiensi sumber daya air mendukung keberlanjutan lingkungan sekitar Waibron.
Program ini juga mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.
CSR sebagai Strategi Bisnis Berkelanjutan
Dijelaskan Landi, PLN UIP Maluku dan Papua menilai program ini memiliki potensi besar untuk direplikasi di wilayah lain, khususnya di kawasan dengan karakteristik serupa.
Dengan pendekatan berbasis teknologi, partisipasi masyarakat, dan kolaborasi multipihak, model ini dinilai mampu menjadi solusi jangka panjang dalam meningkatkan ketahanan pangan daerah.
“Kami berharap program ini tidak berhenti di satu lokasi, tetapi bisa menjadi model inspiratif yang dikembangkan di berbagai wilayah lainnya,” ujar Landi.
Bagi kalangan pebisnis, program ini menunjukkan bagaimana CSR dapat bertransformasi menjadi strategi bisnis yang memberikan nilai tambah.
Pendekatan Creating Shared Value (CSV) yang diusung PLN membuktikan bahwa investasi sosial tidak hanya berdampak pada masyarakat, tetapi juga memperkuat reputasi perusahaan, mendukung stabilitas operasional, serta membuka peluang ekonomi baru.
Dengan mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan, PLN UIP Maluku dan Papua menghadirkan contoh nyata bagaimana perusahaan dapat berperan aktif dalam pembangunan berkelanjutan.
Saat ini, nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) untuk tingkat kinerja Program Electrifying Agriculture Kelompok Pelita Jaya Makmur oleh PLN UIP MPA adalah 3,57 (89,29). Sementara untuk tingkat kepentingan adalah sebesar 3,92 (97,96).
Mengacu kepada Permen PAN-RB No. 14 Tahun 2017 tentang Pedoman Penyusunan Survei Kepuasan Masyarakat Unit Penyelenggara Pelayanan Publik maka tingkat kinerja Program PLN UIP MPA dan Tingkat Kepentingan PLN UIP MPA pada Program Electrifying Agriculture Kelompok Pelita Jaya Makmur keduanya dapat dikategorikan sangat baik atau nilai A karena berada di antara nilai 3,5324 – 4,00.
“Jadi, berdasarkan dokumen IKM (Indeks Kepuasan Masyarakat) dan SROI (Social Return on Investment) itu. Dan menjadi acuan evaluasi dan efektivitas program kami. Untuk SROI sendiri suidah dihitung dan berada di level 1,07,” pungkas Landi.
