Jakarta, TopBusiness – PT BPD Bank Kalteng menargetkan langkah strategis untuk memperkuat permodalan melalui rencana penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) pada tahun 2030. Rencana tersebut disampaikan Direktur Utama PT BPD Bank Kalteng, Maslipansyah, dalam sesi penjurian TOP BUMD Awards 2026 yang diselenggarakan secara daring, Senin (31/3/2026).
Maslipansyah menjelaskan, langkah menuju IPO merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kapasitas permodalan sekaligus memperkuat posisi Bank Kalteng di industri perbankan nasional.
“Rencana kami tahun 2030 Bank Kalteng akan IPO untuk menjadikan bank ini dari KBMI 1 dengan modal inti di atas Rp3 triliun menjadi bank dengan modal inti di atas Rp6 triliun,” ujar Maslipansyah dalam sesi presentasi di hadapan dewan juri.
Menurut dia, perseroan telah melakukan berbagai persiapan awal, termasuk menunjuk konsultan untuk mendampingi proses menuju perusahaan terbuka. Pengalaman manajemen dalam industri perbankan dan pasar modal juga menjadi modal penting dalam menyiapkan langkah tersebut.
Maslipansyah mengungkapkan, pengalaman dirinya yang pernah berkarier di Bank Negara Indonesia (BNI) turut menjadi bekal dalam menyiapkan transformasi Bank Kalteng. Selain itu, jajaran manajemen juga diperkuat oleh direktur yang memiliki pengalaman mengelola perusahaan yang telah tercatat di bursa.
“Secara internal kami sudah menghitung dan menyiapkan berbagai tahapan menuju IPO. Kami juga telah menunjuk konsultan untuk mendampingi proses tersebut,” katanya.
Ia menambahkan, IPO bukan sekadar target finansial, melainkan bagian dari visi besar untuk memperkuat peran Bank Kalteng sebagai motor penggerak ekonomi daerah.
Maslipansyah menegaskan bahwa dalam jangka menengah Bank Kalteng ingin menjadi pemain utama di daerahnya, sekaligus meningkatkan kontribusi pada perekonomian regional Kalimantan dan nasional.
“Pertama kami ingin menjadi raja di Kalimantan Tengah. Setelah itu menjadi kekuatan baru di regional Kalimantan dan memiliki kontribusi di tingkat nasional,” ujarnya.
Selain rencana IPO, Bank Kalteng juga menargetkan pertumbuhan kinerja dalam jangka pendek. Perseroan menargetkan pertumbuhan aset sekitar 15 persen, peningkatan laba 20 persen, serta penyaluran kredit tumbuh sekitar 11 persen.
Di sisi lain, bank pembangunan daerah tersebut juga tengah menyiapkan transformasi bisnis dengan memperluas layanan, termasuk rencana pengembangan menjadi bank devisa. Langkah ini dipandang relevan mengingat Kalimantan Tengah memiliki potensi ekspor besar dari sektor komoditas seperti batu bara dan kelapa sawit.
Dengan status bank devisa, Bank Kalteng diharapkan dapat menjadi mitra transaksi bagi perusahaan-perusahaan eksportir di daerah tersebut.
Dalam sesi penjurian yang sama, juri dari Sinergi Daya Prima (SDP), Eri Sumiarso, memberikan tanggapan positif terhadap rencana IPO Bank Kalteng tersebut.
Ia menilai potensi ekonomi Kalimantan Tengah yang ditopang sektor perkebunan sawit dan pertambangan batu bara dapat menjadi peluang besar bagi pengembangan bisnis perbankan daerah.
“Insyaallah doanya Bapak terkabul, Pak. Karena tempatnya Bapak ini kan banyak kebun sawit dan batu bara. Karena sawit atau CPO sama batu bara lagi naik kan, gara-gara Selat Hormuz. Nah, Insyaallah itu akan bisa tercapai.,” kata Eri.
