Jakarta, BusinessNews Indonesia – Setelah menurun tajam pada pekan lalu, Bursa saham Asia pagi ini bergerak mixed. Senin (9/4) pukul 8.37 WIB, indeks Nikkei 225 menguat 0,15% ke 21.598. Indeks Hang Seng naik 0,60% ke 30.021.
Taiex menanjak 0,31% ke 10.854. Sedangkan Kospi menguat 2.436. Sementara penurunan terlihat di dua brusa Asia Tenggara, yakni Straits Times yang turun 0,42% ke 3.428 dan FTSE Malaysia dengan penurunan 0,14%.
Sekadar mengingatkan, Jumat (6/4), Wall Street tumbang akibat rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menaikkan tarif impor China sebesr US$ 100 miliar. Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 2,34% ke 23.932. Indeks S&P turun 2,19% ke 2.604 dan Nasdaq Composite turun 2,28%.
Dari data ekonomi, pada akhir pekan lalu China mengumumkan cadangan devisa per akhir Maret berada di level US$ 3,143 triliun, lebih rendah dibandingkan ekspektasi yang sebesar US$ 3,146 triliun. Namun, capaian tersebut naik cukup tinggi dari nilai per akhir Februari yang hanya sebesar US$ 3,134 triliun. Sementara itu, Hong Kong dijadwalkan merilis data cadangan devisa periode yang sama pada hari ini.
Pada perdagangan hari ini, investor masih mencermati perkembangan kebijakan perdagangan antara China dan AS, setelah aksi saling balas mengenakan bea masuk terjadi pada minggu lalu antar dua negara dengan nilai ekonomi jumbo tersebut.
Perkembangan terakhir, melalui media sosial Twitter Trump mengatakan bahwa China akan membatalkan kebijakan bea masuknya dikarenakan itu merupakan ‘hal yang tepat untuk dilakukan’. Investor kini menantikan kelanjutan dari kisah tersebut.
Kemudian, investor juga berusaha mencerna makna dari data tenaga kerja AS yang dirilis pada Jumat lalu (6/4/2018). Sepanjang bulan lalu, penciptaan lapangan kerja non-pertanian di AS tercatat sebesar 103.000, jauh lebih rendah dibandingkan konsensus yang sebesar 193.000.
