Jakarta, TopBusiness – Di tengah meningkatnya tuntutan global terhadap praktik bisnis berkelanjutan, perusahaan sektor pertambangan dan logistik dituntut tidak hanya mengejar pertumbuhan produksi, tetapi juga memastikan kontribusi sosial dan lingkungan yang terukur. Sejalan dengan tren tersebut, PT Tempopress Internasional Delivery (PT TID) mulai melakukan transformasi strategis dengan menempatkan ESG dan CSR sebagai bagian inti dari model bisnisnya.
Melalui partisipasi perdana dalam kegiatan wawancara penjurian TOP CSR Awards 2026 yang diselenggarakan oleh Majalah Top Business, perusahaan memaparkan arah baru kebijakan CSR yang tidak lagi bersifat administratif, melainkan terintegrasi dalam strategi pertumbuhan jangka panjang.
Muhammad Asrafil, Business Development Assistant Manager PT TID, menegaskan bahwa momentum ini menjadi titik awal transformasi perusahaan dalam membangun fondasi keberlanjutan yang kuat.
“Partisipasi kami dalam TOP CSR Awards 2026 ini merupakan yang pertama kali. Ajang ini tidak hanya menjadi bentuk apresiasi, tetapi juga sarana pembelajaran bagi kami untuk memperoleh insight dari Dewan Juri, khususnya dalam melihat serta menyempurnakan strategi CSR perusahaan ke depan. Kami memulai dari fondasi inti perusahaan untuk kemudian diimplementasikan secara komprehensif di seluruh lini,” ujar Asrafil mengawali presentasinya kepada dewan juri secara daring, Jumat (17/4/2026).
Transformasi Strategi: CSR Terintegrasi dalam Bisnis
Dalam beberapa tahun terakhir, PT TID mengalami pertumbuhan signifikan seiring ekspansi bisnis dari transportasi nikel ke sektor pertambangan. Produksi perusahaan bahkan mencapai sekitar 8 juta ton pada 2025, mencerminkan peningkatan kapasitas operasional yang pesat.
Namun, di balik pertumbuhan tersebut, perusahaan menyadari pentingnya integrasi sustainability ke dalam proses bisnis.
“Pada tahun-tahun sebelumnya, implementasi CSR di perusahaan kami masih belum terinternalisasi secara menyeluruh dalam proses bisnis. Memasuki periode 2025 hingga 2026, kami mengusung tema Core Foundation and Forward sebagai bentuk restrukturisasi dan reinternalisasi nilai-nilai sustainability ke dalam seluruh aktivitas perusahaan,” jelas Asrafil.
Langkah ini diwujudkan melalui adopsi standar global seperti Global Reporting Initiative (GRI), ISO 9001, serta ISO 26000 sebagai pedoman pelaksanaan CSR. Tidak hanya itu, perusahaan juga membentuk komite ESG internal yang dipimpin langsung oleh manajemen puncak guna memastikan implementasi berjalan efektif.
Sebagai bagian dari penguatan tata kelola, PT TID menetapkan tiga pilar utama ESG—environmental, social, dan governance—yang diturunkan ke dalam 12 topik material strategis.
Fokus tersebut mencakup pengelolaan emisi, efisiensi energi, keselamatan kerja, pemberdayaan masyarakat, hingga tata kelola perusahaan.
“Seluruh strategi CSR perusahaan telah terintegrasi dalam Rencana Strategis 2026, di mana sustainability menjadi bagian dari sistem pengukuran kinerja dan tidak lagi sekadar menjadi pelaporan administratif. Ini memastikan bahwa setiap program memiliki kontribusi langsung terhadap tujuan bisnis perusahaan,” ungkap Asrafil.
Perusahaan juga mulai melakukan digitalisasi operasional, termasuk penghitungan jejak karbon serta pengembangan sistem energi berbasis nanogrid untuk mendukung efisiensi energi dan transisi menuju energi bersih.
Creating Shared Value: Program CSR Unggulan Berbasis Ekosistem
Salah satu kekuatan utama strategi CSR PT TID terletak pada pendekatan Creating Shared Value (CSV) yang mengintegrasikan nilai sosial dan bisnis secara simultan.
Perusahaan membagi implementasi CSR ke dalam tiga ekosistem utama:
1. Academic Ecosystem: Kolaborasi Pendidikan dan Industri
PT TID menjalin kemitraan strategis dengan Sekolah Vokasi UGM untuk menciptakan talenta industri yang siap kerja.
“Melalui kolaborasi ini, mahasiswa memperoleh akses langsung ke dunia industri, khususnya dalam pengoperasian alat berat. Program ini tidak hanya meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan problem solving, tetapi juga membuka peluang bagi perusahaan untuk mendapatkan talent pool teknisi dan engineer yang telah siap kerja,” kata Asrafil.
Program ini juga membuka peluang riset dan pengembangan (R&D), sekaligus memperkuat pipeline SDM berkualitas di sektor pertambangan.
2. Operational Ecosystem: Pemberdayaan Tenaga Kerja Lokal
Di wilayah operasional seperti Maluku Utara, perusahaan bekerja sama dengan lembaga pelatihan kerja untuk menciptakan tenaga kerja terampil dari masyarakat lokal.
“Kemitraan dengan LPK difokuskan pada penciptaan tenaga kerja terampil yang tidak hanya meningkatkan keahlian mekanik, tetapi juga berdampak langsung pada peningkatan taraf hidup masyarakat. Dari sisi bisnis, ini memperkuat kepercayaan masyarakat dan pemerintah daerah serta menekan biaya rekrutmen,” jelasnya.
Program ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana CSR dapat memberikan dampak sosial sekaligus efisiensi operasional.
3. Societal Ecosystem: Upskilling dan Rekrutmen Lokal
PT TID juga menjalankan program rekrutmen berbasis komunitas dengan skema peningkatan keterampilan (upskilling) berkelanjutan.
“Tenaga kerja direkrut dari masyarakat sekitar dan diberikan pelatihan hingga mampu naik jenjang dari helper menjadi mekanik. Pendekatan ini menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan antara perusahaan dan masyarakat, sekaligus mengurangi kesenjangan ekonomi di wilayah tambang,” ungkap Asrafil.
Dampak dari program ini terlihat pada peningkatan retensi karyawan, efisiensi biaya, serta terciptanya hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar.
Implementasi CSR Berbasis SDGs dan ISO 26000
Dalam implementasinya, program CSR PT TID difokuskan pada empat sektor utama: pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan ekonomi.
Pada sektor pendidikan, perusahaan menjalankan program penguatan literasi, peningkatan kapasitas tenaga pendidik, hingga penghargaan bagi guru dedikatif. Di bidang kesehatan, perusahaan aktif dalam program preventif, edukasi pola hidup sehat, hingga kegiatan kemanusiaan seperti donor darah.
Sementara pada sektor lingkungan, perusahaan mengembangkan sistem pengelolaan sampah terpadu serta program penghijauan dan rehabilitasi lahan.
“Seluruh program tersebut dirancang untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat posisi perusahaan sebagai entitas bisnis yang bertanggung jawab dan berorientasi pada pembangunan berkelanjutan,” kata Asrafil.
PT TID juga telah menyusun roadmap ESG jangka panjang yang dimulai dari fase Core Foundation & Forward pada 2026, dilanjutkan dengan tahap Driving Value Creation, Continuous Improvement, hingga Sustainability Excellence.
“Langkah yang kami ambil tidak hanya bertujuan memenuhi persyaratan regulasi, tetapi juga untuk menjadi entitas bisnis yang sepenuhnya berorientasi pada keberlanjutan. Kami menargetkan integrasi penuh ESG di seluruh lini bisnis untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” tegas Asrafil.
Sebagai penguat implementasi, perusahaan mengembangkan core values PRIDE yang mencakup Performance Excellence, Responsibility, Innovation, dan Durable Sustainability.
Nilai ini diinternalisasikan ke seluruh karyawan melalui sosialisasi ESG dan menjadi dasar dalam pengambilan keputusan operasional.
Ke depan, PT TID menargetkan penguatan program CSR dengan fokus utama pada sektor pendidikan sebagai upaya menciptakan alternatif kesejahteraan masyarakat di luar sektor pertambangan.
“Seluruh langkah ini merupakan fondasi awal kami dalam membangun sistem CSR yang terintegrasi dengan prinsip sustainability dan ESG. Kami berharap dapat terus menyempurnakan strategi ini agar memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan,” tutup Asrafil.
