Jakarta, TopBusiness – PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) memaparkan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bertajuk Primadona Tuban dalam sesi wawancara penjurian TOP CSR Awards 2026 yang digelar secara daring oleh Majalah Top Business, Selasa (21/4/2026).
Program Primadona Tuban merupakan inisiatif pemberdayaan masyarakat pesisir yang berfokus pada penguatan ekonomi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Program ini dikembangkan berdasarkan hasil social mapping dan menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Latar belakang program ini tidak lepas dari berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat pesisir, seperti ketergantungan penghasilan nelayan terhadap musim, rendahnya nilai tambah hasil laut, serta risiko kerusakan lingkungan akibat perubahan iklim dan aktivitas pesisir. Selain itu, terdapat kebutuhan mitigasi terhadap dampak operasional perusahaan, termasuk potensi emisi dan limbah.
“Program Primadona Tuban kami rancang untuk mendorong kemandirian masyarakat pesisir melalui penguatan ekonomi, peningkatan kapasitas, dan pelestarian lingkungan secara berkelanjutan,” ujar Laelatul Azizah selaku CDO TPPI.
Dalam implementasinya, TPPI mengembangkan pemberdayaan berbasis kelompok masyarakat. Kelompok nelayan yang tergabung dalam KUB Tanjung Awar-Awar menjadi motor penggerak program, sementara kelompok perempuan melalui Poklahsar Mina Karang Padas berperan dalam pengolahan hasil laut. Program ini juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan, seperti pemerintah desa, kelompok tani hutan, posyandu, hingga kelompok sadar wisata.
Berbagai kegiatan dilakukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, antara lain pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bagi nelayan, pelatihan teknisi mesin perahu, serta pelatihan water rescue bekerja sama dengan BPBD Tuban. Selain itu, perusahaan juga membangun berbagai infrastruktur pendukung, seperti shelter nelayan, fasilitas air bersih, panel surya, tempat bilas, hingga rumah produksi untuk pengolahan hasil laut.
“Melalui pendekatan berbasis kelompok dan kolaborasi lintas stakeholder, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku utama dalam pengelolaan program,” lanjutnya.
Dari sisi ekonomi, program ini menunjukkan dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pendapatan keluarga nelayan tercatat meningkat hingga 36 persen per bulan melalui inovasi pengolahan hasil laut dengan metode *dry saving system*. Kelompok perempuan pengolah hasil laut juga mengalami peningkatan pendapatan yang signifikan melalui penguatan kapasitas dan dukungan fasilitas produksi.
Selain itu, program ini juga berkontribusi terhadap penciptaan nilai tambah produk hasil laut, sehingga meningkatkan daya saing produk lokal di pasar. Bahkan, beberapa kelompok binaan telah mampu mengelola rantai pasok pangan untuk mendukung kebutuhan gizi masyarakat melalui integrasi dengan program posyandu.
Di bidang lingkungan, TPPI menjalankan berbagai kegiatan konservasi pesisir, seperti penanaman vegetasi lokal berupa cemara udang, pandan berduri, waru, dan ketapang kencana. Upaya ini tidak hanya berfungsi untuk mencegah abrasi, tetapi juga berkontribusi terhadap penyerapan emisi karbon yang tercatat mencapai 24,47 ton CO2eq.
Perusahaan juga menerapkan konsep ekonomi sirkular melalui pemanfaatan limbah non-B3 menjadi produk bernilai guna, seperti pagar, meja, kursi, dan fasilitas pendukung lainnya. Limbah kertas dan plastik turut dimanfaatkan melalui pengelolaan bank sampah oleh masyarakat setempat.
“Inisiatif ini selaras dengan strategi keberlanjutan perusahaan, termasuk pengurangan emisi dan penguatan kesejahteraan masyarakat pesisir berbasis potensi lokal,” kata Laelatul Azizah.
Dalam aspek tata kelola, program ini dilaksanakan melalui perencanaan yang terstruktur, pelibatan masyarakat melalui forum diskusi, serta monitoring dan evaluasi secara berkala. Evaluasi dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan penerima manfaat untuk memastikan keberlanjutan program.
Hasilnya, tingkat kepuasan masyarakat terhadap program tergolong tinggi dengan nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) mencapai 81,43 atau kategori sangat baik. Hal ini menunjukkan keberhasilan program dalam membangun kepercayaan masyarakat serta memperkuat social license to operate perusahaan.
“Ke depan, kami menargetkan kemandirian kelompok binaan serta replikasi program ke wilayah pesisir lain agar dampaknya semakin luas,” ujar Laelatul Azizah.
TPPI juga mencatat berbagai capaian dan penghargaan atas implementasi program CSR, termasuk predikat PROPER Hijau dan penghargaan dalam ajang CSR nasional. Hal ini menjadi bukti komitmen perusahaan dalam menjalankan bisnis yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.
Partisipasi TPPI dalam TOP CSR Awards 2026 yang mengusung tema “Aligning CSR and ESG for Long-Term Corporate Value and Sustainable Development”, sejalan dengan upaya perusahaan dalam menciptakan nilai jangka panjang bagi masyarakat, lingkungan, dan perusahaan.
