Lewat Pasar Rakyat Eco Bahari dan pembangunan jalan desa, IGIP dorong konektivitas, efisiensi logistik, dan kebangkitan ekonomi masyarakat pesisir
Jakarta, TopBusiness — Pagi di Desa Sambalagi, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, kini terasa berbeda. Jalan desa yang dulu berlumpur dan sulit dilalui, perlahan berubah menjadi jalur penghubung yang lebih layak. Di sisi lain, sebuah pasar rakyat berdiri, memberi harapan baru bagi aktivitas ekonomi warga pesisir.
Transformasi ini tidak datang begitu saja. Ia merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT International Green Industrial Park (IGIP) yang diusung dalam tajuk “Connecting Access, Driving Economic Growth” pada ajang TOP CSR Awards 2026.
Dalam sesi penjurian yang digelar secara daring pada Jumat (24/4/2026), IGIP memaparkan bagaimana pembangunan Pasar Rakyat Eco Bahari dan program Rural Road Connectivity menjadi dua pilar utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat.
Indriani, Wakil SPV ESG IGIP, menekankan bahwa program ini lahir dari kebutuhan riil masyarakat.
“Seluruh program kami dirancang berbasis pemetaan sosial, melibatkan masyarakat, dan dievaluasi melalui tingkat kepuasan mereka. Fokusnya bukan hanya membangun, tetapi memastikan dampak nyata,” ujarnya.
Kawasan Industri Hijau dan Tantangan Sosial
IGIP merupakan pengelola kawasan industri pengolahan nikel berbasis ramah lingkungan yang berlokasi di Desa Sambalagi. Perusahaan ini baru memasuki tahap awal operasional dengan dimulainya produksi pada 2025.
Dengan visi menciptakan kawasan industri kelas dunia yang rendah karbon, IGIP mengembangkan ekosistem industri hijau yang mengintegrasikan teknologi, energi, dan sumber daya manusia. Namun, kehadiran industri di wilayah pesisir juga membawa tantangan tersendiri.
Aktivitas konstruksi dan peningkatan mobilitas berdampak pada kebutuhan infrastruktur dasar, termasuk jalan desa, akses layanan publik, hingga fasilitas ekonomi masyarakat. Kondisi awal menunjukkan keterbatasan aksesibilitas yang berdampak langsung pada kehidupan warga.
Jalan desa yang rusak menyebabkan waktu tempuh panjang, biaya transportasi tinggi, serta distribusi hasil tangkapan nelayan menjadi terhambat. Selain itu, akses ke layanan kesehatan dan pendidikan juga tidak optimal.
Kondisi ini mendorong IGIP untuk tidak hanya berfokus pada pembangunan industri, tetapi juga memastikan masyarakat sekitar turut merasakan manfaat kehadiran perusahaan.
Dari Perencanaan hingga Implementasi
Program CSR IGIP dirancang menggunakan pendekatan terintegrasi berbasis standar ISO 26000 dan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Act). Proses ini dimulai dari pemetaan sosial yang melibatkan ratusan responden, diskusi kelompok terarah (FGD), hingga musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) bersama pemerintah desa.
Perusahaan kemudian menyusun program dengan target yang terukur, termasuk indikator kepuasan masyarakat. Implementasi dilakukan dengan melibatkan tim ESG, pemerintah daerah, serta masyarakat setempat.
“Pendekatan kami berbasis kolaborasi. Kami memastikan setiap program tidak hanya sesuai kebutuhan, tetapi juga dapat dipelihara dan dimanfaatkan secara berkelanjutan,” kata Indriani.
Membangun Jalan, Membuka Akses
Salah satu intervensi paling signifikan adalah pembangunan dan perbaikan jalan desa melalui program Rural Road Connectivity. Jalan yang sebelumnya sulit dilalui kini diperkeras dan dirawat secara berkala.
Dampaknya terasa langsung. Waktu tempuh masyarakat berkurang hingga 50 persen, dari sekitar 30 menit menjadi 15 menit. Konsumsi bahan bakar juga menurun, sehingga biaya transportasi harian menjadi lebih hemat.
Bagi nelayan, perubahan ini sangat berarti. Distribusi hasil tangkapan menjadi lebih cepat dan efisien, sehingga kualitas produk tetap terjaga saat sampai ke pasar.
Tidak hanya itu, akses menuju sekolah dan fasilitas kesehatan juga menjadi lebih mudah, meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.
Pasar Eco Bahari: Ekonomi Tumbuh dari Pesisir
Selain infrastruktur jalan, IGIP juga membangun Pasar Rakyat Eco Bahari sebagai pusat aktivitas ekonomi baru. Pasar ini dirancang dengan konsep ramah lingkungan, termasuk pengelolaan sampah terpadu dan fasilitas yang bersih.
Pasar tersebut disesuaikan dengan karakteristik masyarakat pesisir yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Meja-meja tambahan disediakan untuk memudahkan penjualan hasil tangkapan secara langsung.
Kehadiran pasar ini membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha, meningkatkan pendapatan, serta memperluas jaringan distribusi.
“Pasar ini bukan sekadar tempat transaksi, tetapi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan,” ujar Indriani.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Program ini telah memberikan dampak nyata bagi sedikitnya 303 kepala keluarga di Desa Sambalagi dan Desa Were’ea. Peningkatan aksesibilitas mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta membuka lapangan kerja baru.
Distribusi barang menjadi lebih lancar, biaya logistik menurun, dan aktivitas ekonomi meningkat. Nilai lahan di sekitar kawasan juga mengalami kenaikan seiring membaiknya infrastruktur.
Dari sisi sosial, program ini memperkuat hubungan antara perusahaan dan masyarakat. Kepercayaan meningkat, konflik sosial dapat diminimalkan, dan perusahaan dipandang sebagai bagian dari solusi pembangunan.
Lingkungan dan Keberlanjutan
IGIP juga memastikan bahwa setiap program CSR tetap memperhatikan aspek lingkungan. Jalan yang dibangun dirancang untuk mengurangi debu dan genangan, sementara pasar dilengkapi fasilitas pengelolaan sampah.
Perusahaan bahkan melakukan tindak lanjut berupa penyiraman jalan secara rutin, pembangunan tempat pembuangan sampah sementara (TPS), serta dukungan terhadap UMKM melalui penyediaan sarana promosi.
Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen IGIP dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
Kepuasan Masyarakat sebagai Indikator
Keberhasilan program diukur melalui Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM). Hasil survei menunjukkan nilai di atas 82 untuk infrastruktur jalan dan 83 untuk pasar, yang masuk dalam kategori “baik”.
Hal ini menunjukkan bahwa program tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Menuju Pembangunan Berkelanjutan
Program CSR IGIP sejalan dengan agenda pembangunan nasional, khususnya dalam mendorong pemerataan ekonomi dari desa. Peningkatan aksesibilitas dan penyediaan fasilitas ekonomi menjadi kunci dalam mengurangi kesenjangan wilayah.
TOP CSR Awards 2026, yang diselenggarakan oleh Majalah Top Business bersama berbagai pemangku kepentingan, menjadi wadah untuk mengapresiasi praktik CSR yang berdampak nyata.
Dengan tema “Aligning CSR and ESG for Long-Term Corporate Value and Sustainable Development”, ajang ini menekankan pentingnya integrasi antara tanggung jawab sosial dan strategi bisnis.
Masa Depan Kawasan Pesisir
Ke depan, IGIP berencana mereplikasi program ini ke wilayah lain di sekitar kawasan industri. Perusahaan juga akan terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan program agar manfaatnya semakin luas.
Dengan pendekatan yang sistematis dan berbasis kebutuhan masyarakat, IGIP menunjukkan bahwa pembangunan industri tidak harus bertentangan dengan kesejahteraan sosial.
Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan, menciptakan ekosistem yang saling mendukung.
Di Desa Sambalagi, perubahan itu kini mulai terasa. Jalan yang lebih baik dan pasar yang tertata menjadi simbol harapan baru—bahwa dari pesisir, pertumbuhan ekonomi dapat tumbuh dan berkelanjutan.
