Program “Bercerita Dalam Hening” dorong kemandirian ekonomi penyandang difabel tuli melalui pelatihan membatik, inovasi ramah lingkungan, dan penguatan inklusi sosial di Kabupaten Tangerang.
Jakarta, TopBusiness — Keterbatasan pendengaran tidak menjadi penghalang bagi sekelompok penyandang difabel tuli di Kabupaten Tangerang untuk berkarya. Melalui program “Bercerita Dalam Hening”, PT PLN Indonesia Power UBP Banten 3 Lontar menghadirkan ruang pemberdayaan yang tidak hanya membuka peluang ekonomi, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan inklusi sosial bagi para penyandang difabel.
Program tersebut dipaparkan dalam sesi penjurian TOP CSR Awards 2026 yang berlangsung secara daring, Rabu (6/5/2026). Dalam kesempatan itu, Manager Adm. PLN Indonesia Power UBP Banten 3 Lontar Suci Purnama Sari mempresentasikan inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan yang berfokus pada pemberdayaan penyandang difabel tuli melalui pelatihan dan produksi batik.

Kelompok penyandang difabel tuli NOSATA
Turut mendampingi dalam presentasi tersebut antara lain Ass. Manager Adm. Farid Setiawan, Officer CSR Humas Junita M. Butarbutar, Officer CSR Humas Muhammad Hafidz Fauzi, serta Community Development Officer Nabilah Dzakiroh.
Adapun jajaran dewan juri terdiri atas Benyamin De Haan dari MSI Group, Sentot Baskoro dari AGRKI, Ermon Idrus dari LKN Asta Cita, dan Teguh Imam Suyudi dari TopBusiness.
Ruang Ekspresi Penyandang Difabel
Suci menjelaskan, program “Bercerita Dalam Hening” lahir dari keprihatinan terhadap rendahnya penyerapan tenaga kerja penyandang difabel, khususnya difabel tuli, baik di sektor formal maupun informal.
Program tersebut dijalankan bersama Sekolah Khusus Negeri (SKH) 01 Balaraja, Kabupaten Tangerang, dengan melibatkan 12 alumni dan 29 peserta didik yang tergabung dalam kelompok NOSATA.
“Program ini bukan sekadar pelatihan membatik, tetapi menjadi ruang ekspresi dan ruang keberdayaan bagi penyandang difabel tuli agar mereka memiliki keterampilan, kemandirian ekonomi, sekaligus keberanian untuk tampil di ruang publik,” ujar Suci.
Menurut dia, melalui kegiatan membatik para peserta tidak hanya memperoleh kemampuan teknis, tetapi juga mengalami peningkatan rasa percaya diri dan kemampuan berinteraksi dengan masyarakat.
Program tersebut juga sejalan dengan prinsip social inclusion atau inklusi sosial yang kini menjadi perhatian penting dalam implementasi tanggung jawab sosial perusahaan.
Dari Batik hingga Energi Bersih
Menariknya, program pemberdayaan ini tidak berhenti pada aspek sosial. PLN Indonesia Power UBP Banten 3 Lontar juga mengintegrasikan prinsip keberlanjutan lingkungan melalui inovasi ramah lingkungan dalam proses produksi batik.
Salah satunya melalui pemanfaatan limbah FABA (fly ash dan bottom ash) sebagai media filtrasi instalasi pengolahan air limbah (IPAL) batik. Selain itu, kelompok binaan juga menggunakan teknologi pengering batik “Drytik” yang memanfaatkan energi surya melalui solar panel.
“Inovasi ini membantu kelompok binaan meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Kami ingin pemberdayaan masyarakat berjalan beriringan dengan praktik bisnis berkelanjutan,” kata Suci.
Teknologi pengering batik tersebut dinilai mampu mempercepat proses produksi. Jika sebelumnya pengeringan kain batik membutuhkan sekitar empat jam dengan sinar matahari, kini dapat dipangkas menjadi sekitar satu jam.
Selain meningkatkan efisiensi produksi, pemanfaatan solar panel juga membantu menekan penggunaan listrik konvensional dan mendukung upaya pengurangan emisi karbon.
Komitmen pada Pemberdayaan Masyarakat
PLN Indonesia Power UBP Banten 3 Lontar sendiri berlokasi di Jalan Ir. Sutami, Desa Lontar, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang, Banten. Unit pembangkit tersebut memiliki kapasitas 4 x 315 MW dan memasok sekitar 54 persen kebutuhan listrik pada subsistem 150 kV Ring 1 DKI Jakarta.
Suci mengatakan, perusahaan terus berupaya menjalankan program CSR berbasis kebutuhan masyarakat melalui pendekatan social mapping dan pemberdayaan berkelanjutan.
“Kami percaya bahwa keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari aspek bisnis, tetapi juga dari sejauh mana perusahaan mampu memberi dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar,” ujarnya.
Program CSR perusahaan mencakup berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, lingkungan, pengelolaan limbah FABA, ketahanan bencana, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ajang Pembelajaran CSR Nasional
TOP CSR Awards 2026 merupakan ajang apresiasi sekaligus pembelajaran bagi perusahaan-perusahaan yang dinilai berhasil menjalankan program CSR secara efektif, berkualitas, dan berdampak.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Majalah TopBusiness yang diterbitkan PT Madani Solusi Internasional (MSI Group) bersama berbagai asosiasi CSR, asosiasi bisnis, praktisi tata kelola perusahaan, akademisi, serta para pakar CSR.
Tahun ini, TOP CSR Awards mengangkat tema “Aligning CSR and ESG for Long-Term Corporate Value and Sustainable Development”, yakni penyelarasan CSR dan ESG dalam menciptakan nilai jangka panjang perusahaan sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.
Bagi PLN Indonesia Power UBP Banten 3 Lontar, partisipasi dalam ajang tersebut menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa program tanggung jawab sosial dapat menjadi medium pemberdayaan masyarakat yang inklusif, inovatif, dan berkelanjutan.
Di tengah keterbatasan yang kerap membungkam ruang gerak penyandang difabel, kelompok NOSATA justru membuktikan bahwa karya dapat menjadi bahasa yang melampaui suara.
