TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Transformasikan CSR Jadi Strategi Bisnis, Aice Group Dorong Pola Konsumsi Sehat Masyarakat Lewat Kaluli

Nurdian Akhmad
18 May 2026 | 16:48
rubrik: Business Info, CSR, Event
Transformasikan CSR Jadi Strategi Bisnis, Aice Group Dorong Pola Konsumsi Sehat Masyarakat Lewat Kaluli

Jakarta, TopBusiness – Aice Group mulai mentransformasi pendekatan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari sekadar kegiatan sosial dan donasi menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan. Melalui inovasi produk rendah gula dan rendah kalori bernama Kaluli, produsen es krim tersebut ingin mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat menuju gaya hidup yang lebih sehat sekaligus menciptakan dampak sosial berkelanjutan.

Senior Brand Manager Aice Group, Sylvana Zhong, mengatakan perusahaan kini memandang CSR bukan lagi program terpisah dari aktivitas bisnis, melainkan bagian dari perilaku dan sistem perusahaan secara menyeluruh.

“CSR kami kali ini bukan berupa program, tapi perilaku perusahaan terhadap pola konsumsi masyarakat,” ujar Sylvana Zhong dalam presentasi penjurian TOP CSR Awards 2026 yang digelar secara daring, Senin (18/5/2026). Hadir pula dalam penjurian ini Aninditya, senior PR dan Media Staff Aice Group.

Menurut Sylvana, transformasi tersebut lahir dari perjalanan panjang Aice dalam mengikuti ajang TOP CSR Awards sejak 2021. Pada awalnya, perusahaan lebih banyak menjalankan kegiatan sosial berbasis donasi dan event. Namun dari berbagai masukan dewan juri, Aice mulai menyadari bahwa CSR harus terintegrasi langsung dengan model bisnis perusahaan agar dampaknya lebih luas dan berkelanjutan.

“Dulu kami lebih banyak sharing program donasi dan event. Sekarang kami menjadikan CSR sebagai bagian dari sistem bisnis kami, baik di R&D, stakeholder, SDM, cold chain, distribusi sampai SOP perusahaan,” katanya.

Aice sendiri merupakan produsen es krim yang kini berkembang pesat di pasar domestik dan internasional. Perusahaan telah memiliki empat pabrik, lebih dari 10 ribu karyawan, lebih dari 100 SKU produk, serta jaringan lebih dari 450 ribu reseller dan warung mitra di berbagai wilayah Indonesia. Produk Aice kini juga telah hadir di lebih dari 10 negara di Asia, Amerika dan Afrika.

Dalam implementasi CSR terbaru, Aice menjadikan isu kesehatan masyarakat sebagai fokus utama, khususnya terkait tingginya konsumsi gula di Indonesia. Menurut Sylvana, industri makanan dan minuman kini menghadapi tuntutan besar dari konsumen maupun regulator untuk menghadirkan produk yang lebih sehat dan transparan dari sisi kandungan gizi.

“Indonesia saat ini berada di peringkat kelima dunia untuk penderita diabetes usia 20 sampai 79 tahun dengan sekitar 20,4 juta penderita diabetes. Ini menjadi isu serius bagi pola konsumsi masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, tren masyarakat juga mulai berubah. Konsumen semakin sadar terhadap pola hidup sehat, termasuk lebih selektif dalam memilih makanan dan minuman. Survei internal perusahaan menunjukkan minat terhadap snack bebas gula meningkat signifikan dalam satu tahun terakhir, dari 16,4 persen menjadi sekitar 31 persen. Sementara sekitar 50 persen konsumen mulai membaca label nutrisi dan fakta gizi sebelum membeli produk makanan ringan.

BACA JUGA:   Program CSR Unggulan WANUA WAILAN PLN IP UP PLTP Lahendong Hadirkan Transformasi Desa Berbasis EBT

“Sekarang konsumen mulai mencari produk yang lebih rendah gula dan memperhatikan label nutrisi,” kata Sylvana.

Perubahan pola konsumsi global juga menjadi perhatian perusahaan. Berbagai negara mulai menerapkan label nutrisi seperti traffic light label hingga nutri-level untuk mengontrol konsumsi gula, garam dan lemak pada produk makanan.

Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Aice sebagai produsen es krim. Menurut Sylvana, perusahaan ingin mengubah paradigma bahwa es krim tidak hanya menjadi produk yang menyenangkan, tetapi juga lebih bertanggung jawab terhadap kesehatan masyarakat.

“Dulu kami menjual produk yang enak dan menyenangkan. Sekarang kami ingin menghadirkan produk yang tetap enak tetapi lebih bertanggung jawab,” ujarnya.

Dari situlah Aice kemudian meluncurkan lini produk Kaluli dengan konsep low calorie dan zero sucrose. Produk-produk tersebut dikembangkan melalui riset panjang karena tantangan utama industri es krim adalah menjaga rasa tetap lezat meski kandungan gula dikurangi.

“Secara industri, membuat es krim low sugar itu sangat sulit karena masyarakat Indonesia masih sangat menyukai rasa manis,” katanya.

Namun setelah melalui proses riset, survei pasar dan pengembangan formula, Aice akhirnya berhasil meluncurkan berbagai varian es krim rendah gula dan rendah kalori dengan kandungan sekitar 70–130 kalori per produk.

Sylvana menyebut, Aice menjadi salah satu perusahaan yang cukup agresif menghadirkan pilihan produk zero sucrose dan low calorie dengan banyak varian. Produk tersebut bahkan tercatat oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai es krim kemasan pertama di Indonesia yang bebas kandungan sukrosa.

Produk-produk Kaluli juga dilengkapi informasi kandungan gizi yang lebih jelas, label alergi pada kemasan, serta sertifikasi halal dan BPOM.

Tidak hanya berhenti di inovasi produk, Aice juga membangun sistem bisnis baru untuk mendukung program CSR berbasis kesehatan tersebut. Perusahaan membentuk tim operasional khusus, memperkuat rantai pendingin (cold chain), distribusi, gudang, SOP penyimpanan, hingga edukasi kepada distributor dan reseller.

“Ini bukan sekadar program coba-coba. Kami membangun sistem bisnis baru untuk mendukung produk sehat ini,” ujar Sylvana.

Perusahaan juga membangun investasi besar pada distribusi dan penyimpanan produk agar kualitas es krim tetap terjaga. Menurut Sylvana, kualitas rantai pendingin sangat penting karena kerusakan produk es krim dapat berdampak terhadap kualitas dan keamanan pangan.

Selain itu, Aice mulai mengganti sebagian produk di modern trade seperti minimarket dengan produk Kaluli agar akses masyarakat terhadap pilihan es krim sehat menjadi lebih luas.

Program tersebut mendapat respons positif dari pasar. Hingga pertengahan 2026, target distribusi produk Kaluli disebut telah mencapai sekitar 60 persen, meski program baru berjalan sejak pertengahan 2025.

BACA JUGA:   Merdeka Pendidikan Dengan Sekolah Rakyat, Kementerian PU Sosialisasikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Pengukuran SROI

Dalam implementasi program tersebut, Aice juga mulai menerapkan pengukuran dampak sosial melalui pendekatan Social Return on Investment (SROI). Menurut Sylvana, perusahaan mulai menghitung nilai manfaat sosial dari investasi bisnis yang dilakukan untuk pengembangan produk sehat tersebut.

Perusahaan menargetkan investasi distribusi melalui puluhan ribu freezer yang ditempatkan di berbagai wilayah. Dalam simulasi internal, Aice memperkirakan terdapat sekitar 30 ribu freezer yang digunakan untuk mendukung distribusi produk low calorie dan zero sucrose.

Dengan asumsi satu freezer mampu menjual sekitar lima produk per hari, maka diperkirakan terdapat sekitar 150 ribu produk yang terjual setiap hari atau sekitar 18 juta produk per bulan.

“Kami mengasumsikan satu produk dikonsumsi satu orang. Artinya setiap hari ada sekitar 150 ribu masyarakat yang mulai teredukasi memilih cemilan yang lebih sehat,” ujar Sylvana.

Aice juga menghitung dampak pengurangan konsumsi gula dari produk tersebut. Berdasarkan simulasi perusahaan, produk Kaluli memiliki selisih kandungan sukrosa sekitar 8 gram lebih rendah dibandingkan produk camilan sejenis di pasaran.

Dengan estimasi distribusi harian tersebut, perusahaan memperkirakan program Kaluli berpotensi membantu mengurangi paparan konsumsi sukrosa masyarakat hingga sekitar 1.200 kilogram per hari.

“Ini menjadi nilai manfaat sosial kami dalam membantu menurunkan konsumsi sukrosa masyarakat,” katanya.

Dalam simulasi pengukuran SROI, perusahaan menggunakan asumsi harga rata-rata produk sekitar Rp15 ribu per produk. Sementara produk pembanding di pasar dengan kandungan gula lebih tinggi diperkirakan memiliki harga rata-rata Rp10 ribu per produk.

Dari selisih tersebut, Aice mengambil pendekatan konservatif dengan mengasumsikan nilai manfaat sosial sekitar 40 persen atau sekitar Rp2 ribu per produk.

Perusahaan kemudian menghitung sekitar 4,5 juta produk atau sekitar 5 persen dari total distribusi sebagai dasar penghitungan outcome sosial tahunan. Dari perhitungan tersebut, Aice memperkirakan manfaat sosial bruto mencapai sekitar Rp450 juta per tahun.

Namun nilai tersebut kemudian disesuaikan kembali dengan berbagai faktor dalam metode SROI seperti deadweight, attribution, displacement dan drop off sehingga diperoleh estimasi manfaat sosial bersih sekitar Rp141 juta per tahun.

Sylvana menjelaskan, perusahaan memperkirakan investasi program mencapai sekitar Rp 10 miliar, meski angka riil investasi disebut lebih besar karena perusahaan harus menyediakan freezer gratis, membangun distribusi baru, serta melakukan edukasi pasar secara bertahap.

“Dalam simulasi ini, setiap satu rupiah investasi menghasilkan sekitar 0,014 nilai manfaat sosial per tahun berjalan,” ujarnya.

Menurut Sylvana, nilai SROI tersebut masih akan terus meningkat seiring semakin luasnya distribusi produk Kaluli dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi rendah gula.

“Program ini memang membutuhkan waktu karena investasi kami besar, termasuk freezer gratis dan distribusi. Jadi nilai SROI juga berkembang bertahap,” katanya.

BACA JUGA:   Proklim Pertamina Patra Niaga FT Madiun Dukung Pengelolaan Sampah dan Kembangkan Ekonomi Produktif

Kurangi Penggunaan Plastik

Selain produk sehat, Aice juga mengembangkan inovasi kemasan berbasis aluminium untuk mengurangi penggunaan plastik murni dan risiko mikroplastik. Inovasi tersebut menjadi bagian dari roadmap perusahaan menuju kemasan yang lebih bertanggung jawab.

“Kami tidak mengklaim ini solusi akhir, tetapi ini langkah awal agar produk kami lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan,” katanya.

Di bidang lingkungan, perusahaan juga mengganti freezer lama dengan teknologi baru menggunakan refrigeran R290 yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Penggantian dilakukan bertahap terhadap ratusan ribu freezer milik reseller Aice di seluruh Indonesia.

Program pemberdayaan ekonomi juga tetap menjadi bagian penting strategi CSR perusahaan. Saat ini sekitar 480 ribu warung menjadi mitra reseller Aice melalui program bantuan freezer gratis yang membantu meningkatkan pendapatan UMKM. Program tersebut bahkan pernah meraih penghargaan Indonesia Awards 2022 untuk kategori pemberdayaan UMKM.

Dalam aspek ketenagakerjaan, Aice juga memperkuat implementasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Pabrik Aice di Mojokerto, Jawa Timur, menerima penghargaan Pelaksanaan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dari Gubernur Jawa Timur setelah mencatatkan 3.927.603 jam kerja tanpa kecelakaan kerja selama satu tahun penuh.

Penghargaan tersebut hanya diberikan kepada perusahaan yang tidak mengalami kecelakaan kerja sama sekali dalam periode satu tahun. Selain itu, pabrik Aice di Sei Mangkei, Sumatera Utara, juga memperoleh penghargaan Peringkat 1 Kategori Ketenagakerjaan Terbaik dari KEK Sei Mangkei.

Selain itu, pabrik Aice di Mojokerto juga memperoleh penghargaan PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup pada 2024 dan 2025 atas pengelolaan lingkungan perusahaan.

Di bidang sosial dan pendidikan, Aice tetap menjalankan berbagai program seperti pembangunan fasilitas sekolah di Lombok yang memberikan manfaat bagi lebih dari 500 siswa, program “Aice Berbagi Ramadhan” di 5.000 masjid dan mushola, hingga program “Aice Mengajar” yang melibatkan karyawan perusahaan sebagai pengajar di SMK dan universitas.

Perusahaan juga rutin menjalankan program “15 Hari Aice Berbagi Sehat” yang mendukung kegiatan olahraga dan edukasi hidup sehat bagi anak-anak dan masyarakat.

Melalui transformasi CSR tersebut, Aice berharap dapat membangun bisnis es krim yang tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga mampu menciptakan perubahan sosial yang nyata.

“Kami ingin produk es krim bukan hanya menyenangkan, tetapi juga menjadi pilihan yang lebih bertanggung jawab bagi kesehatan masyarakat,” ujar Sylvana Zhong.

Berkat inovasi dan transformasi program CSR tersebut, Aice Group kembali terpilih menjadi kandidat peraih TOP CSR Awards 2026. Sebelumnya atau tahun lalu, perusahaan berhasil meraih penghargaan TOP CSR Awards 2025 Bintang 5.

Tags: Aice GroupTOP CSR Awards 2025TOP CSR Awards 2026
Previous Post

IHSG Ditutup Melemah di Tengah Tekanan Saham Big Caps

Next Post

CSR Berbasis Circular Economy, Lontar Papyrus Ubah Excess Nitrogen Jadi Penggerak Ekonomi Peternak Sapi di Jambi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR