Jakarta, TopBusiness — PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (IDX: ASLC) menargetkan pertumbuhan pendapatan dua digit pada 2026, terutama dari segmen penjualan mobil bekas melalui Caroline.id. Perseroan juga menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar Rp 15 miliar hingga Rp20 miliar untuk mendukung ekspansi jaringan showroom dan penguatan bisnis.
Direktur PT Autopedia Sukses Lestari Tbk, Armeza Farhansyah Umar, dalam paparan publik perseroan mengatakan ASLC terus memperkuat ekosistem bisnis kendaraan bekas terintegrasi melalui tiga pilar utama, yakni JBA Indonesia, Caroline.id, dan Motogadai.
“Autopedia adalah marketplace otomotif omnichannel terbesar di Indonesia untuk kendaraan bekas dengan visi menjadi platform jual-beli kendaraan bekas yang paling terpercaya,” ujar Armeza dalam Public Expose ASLC 2026, Selasa (19/5/2026).
Menurut dia, model bisnis perseroan dibangun secara terintegrasi dari hulu hingga hilir untuk menciptakan efisiensi, mempercepat perputaran kendaraan, serta mengoptimalkan aset dalam rantai bisnis otomotif.
ASLC mencatatkan pendapatan perdana menembus Rp1 triliun pada 2025, tumbuh sekitar 14,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang peningkatan penjualan kendaraan bekas Caroline.id serta kontribusi bisnis lelang JBA.
Pada kuartal I-2026, perseroan kembali membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 27,5 persen menjadi Rp283 miliar dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp222 miliar. Perseroan juga berhasil mencetak laba bersih sekitar Rp7,4 miliar.
Caroline.id menjadi kontributor terbesar pendapatan dengan nilai Rp 234 miliar atau sekitar 82 persen dari total pendapatan perseroan pada kuartal I-2026. Sementara bisnis lelang JBA menyumbang sekitar Rp50 miliar dan Motogadai sekitar Rp500 juta.
Presiden Direktur ASLC, Jany Chandra, mengatakan pertumbuhan bisnis perseroan tidak dilakukan dengan menurunkan margin keuntungan, melainkan melalui penyesuaian strategi terhadap kondisi pasar.
“Target margin kami justru meningkat di kuartal I-2026 dibandingkan kuartal sebelumnya. Penurunan average selling price lebih karena perubahan komposisi produk yang disesuaikan dengan situasi pasar,” ujar Jany.
Ia mengakui volatilitas ekonomi, pelemahan nilai tukar rupiah, dan harga BBM memang mempengaruhi minat masyarakat membeli kendaraan. Namun, ASLC tetap optimistis karena pangsa pasar Caroline.id masih relatif kecil dibandingkan potensi pasar mobil bekas nasional.
“Walaupun kondisi ekonomi fluktuatif, kami masih bisa tumbuh sekitar 50 persen dibanding tahun lalu karena market share kami masih kecil dan peluangnya besar,” katanya.
Menurut Jany, positioning Caroline.id sebagai platform jual-beli mobil bekas bergaransi dengan pendekatan online-to-offline menjadi keunggulan kompetitif perseroan. Caroline.id juga menawarkan garansi 7G+, buyback guarantee, serta layanan inspeksi kendaraan yang diklaim meningkatkan rasa aman konsumen.
Hingga akhir 2025, Caroline.id telah memiliki 18 showroom, termasuk flagship store baru di Cibubur dan sejumlah showroom baru di Bandung. Pada 2025, Caroline.id membukukan penjualan sebanyak 4.425 unit mobil atau tumbuh sekitar 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Untuk mendukung ekspansi, ASLC mengalokasikan capex sekitar Rp15 miliar hingga Rp20 miliar pada 2026. Dana tersebut akan digunakan untuk membuka dua hingga tiga showroom baru serta relokasi cabang yang dinilai kurang strategis.
Selain bisnis retail mobil bekas, ASLC juga memperkuat lini lelang otomotif melalui JBA. Saat ini JBA memiliki pangsa pasar sekitar 40 persen dengan jaringan 15 auction points di 39 lokasi di seluruh Indonesia.
Pada 2025, volume penjualan JBA relatif stabil di kisaran 124.000 unit. Menurut manajemen, stabilnya volume tersebut menunjukkan daya tahan bisnis perseroan di tengah fluktuasi industri otomotif nasional.
Jany menjelaskan penurunan pendapatan bisnis lelang bukan disebabkan pergeseran fokus bisnis, melainkan dampak perlambatan industri pembiayaan kendaraan.
“Karena market share JBA sudah sekitar 40 persen, otomatis kami sangat terpengaruh perkembangan industri. Salah satu sumber utama kendaraan lelang berasal dari perusahaan pembiayaan yang mulai lebih berhati-hati akibat kenaikan NPL,” ujarnya.
Meski demikian, perseroan tetap optimistis prospek bisnis kendaraan bekas dan lelang otomotif masih positif dalam jangka panjang. ASLC juga menegaskan komitmennya terhadap praktik tata kelola perusahaan yang baik, transparansi, serta pengembangan bisnis berkelanjutan melalui prinsip ESG.
