Jakarta, TopBusiness — Pefindo, lembaga pemeringkat kredit pertama dan terbesar di Indonesia, bersama dengan S&P Global Ratings, lembaga pemeringkat kredit independen terkemuka di dunia, menyelenggarakan seminar Annual Indonesia Credit Spotlight yang keempat di Jakarta.
Seminar yang bertajuk “Menghadapi Tantangan Geopolitik dan Ketahanan Domestik” yang diadakan di Hotel Mulia Jakarta ini, menghadirkan dua tamu kehormatan dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia, yang diwakili oleh Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia, Juda Agung, serta Managing Director Finance Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Arief Budiman, pada sesi eksklusif Fireside Chat yang membahas transformasi BUMN di bawah Danantara.
Selain itu, seminar juga diisi oleh Economist, Sovereign Analyst, dan Rating Analyst dari S&P Global Ratings yang membahas mengenai perkembangan kebijakan ekonomi pemerintah dalam menghadapi tantangan jangka pendek dan meraih tujuan jangka panjang, serta tren kredit utama yang akan membentuk masa depan keuangan Indonesia.
Seminar diawali dengan sambutan Direktur Utama PEFINDO, Irmawati Amran. Selanjutnya diteruskan Pidato Kunci (Keynote Speech) dari Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia, Juda Agung. Serta dilanjutkan dengan presentasi dan sesi panel dengan narasumber dari S&P Global Ratings yang membahas mengenai Ketahanan Makroekonomi Indonesia dan Implikasinya terhadap Peringkat Sovereign Indonesia.
Kemudian pada sesi Transformasi BUMN di bawah Danantara dihadiri langsung Managing Director of Finance BPI Danantara, Arief Budiman. Pada sesi yang bertajuk Fireside Chat – SOE Transformation: Strategy, Progress, and Impact of SWF tersebut, Arief Budiman memberikan penjelasan terkait dengan strategi, progres, dan dampak dari optimalisasi peran BUMN terhadap perekonomian nasional.
Memasuki paruh terakhir acara, narasumber dari PEFINDO dan S&P Global Ratings secara bergantian menjelaskan evolusi dukungan untuk BUMN serta kondisi terkini dari sektor keuangan dan korporasi di Indonesia.
Seminar ini kemudian ditutup dengan closing remarks oleh Ritesh Maheswari, yang merupakan Komisaris PEFINDO sekaligus Managing Director, Head of Southeast Asia and Asia-Pacific, Head of Market Outreach, S&P Global Ratings.
Materi Seminar
Pada sesi Ketahanan Makroekonomi Indonesia dan Implikasinya terhadap Peringkat Sovereign, Chief Economist Asia Pacific S&P Global Ratings, Louis Kuijs menyampaikan bahwa konflik Timur Tengah yang mengakibatkan tekanan harga energi memberikan tantangan pada pertumbuhan ekonomi global dengan menaikkan biaya, mengikis daya beli, dan menyebabkan keterbatasan sektoral. Lonjakan harga energi telah menyebabkan pergeseran sikap bank sentral.
“Kami sekarang memperkirakan Federal Reserve AS akan mempertahankan suku bunga kebijakannya pada tahun 2026,” ungkap Louis.
Menurut Louis, pertumbuhan Asia-Pasifik secara umum diperkirakan akan tetap stabil, dengan ekonomi dan sektor berorientasi teknologi berkinerja lebih baik dan ekonomi Tiongkok stabil. Namun, gangguan pasar energi yang berkepanjangan merupakan risiko utama, terutama di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
“Kami memperkirakan pertumbuhan Indonesia akan tetap solid pada tahun 2026 di tengah langkah-langkah kebijakan untuk mendukung pertumbuhan dan menekan dampak kenaikan harga minyak terhadap harga bahan bakar domestik serta perubahan kebijakan tarif AS barubaru ini. Permintaan yang lebih rendah dari mitra dagang besar seperti Tiongkok, AS, dan India merupakan risiko utama,” ungkap Louis
Pada sesi seminar tersebut, Louis menyampaikan bahwa Rupiah telah terdepresiasi di tengah arus keluar modal karena investor asing sedang menilai perubahan kebijakan baru-baru ini.
“Kami berpendapat bahwa bank sentral Indonesia mungkin perlu memperketat kebijakan moneter sebagai respons terhadap tekanan harga pangan, langkah-langkah pemerintah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, dan pelemahan mata uang,” ujar Louis.
Pada pembahasan mengenai Evolusi Dukungan terhadap BUMN, Ker Liang Chan, Associate Director, Corporate Ratings, S&P Global Ratings, menyampaikan bahwa BUMN Indonesia diharapkan tetap tangguh pada tahun 2026, didukung oleh konsolidasi, dukungan keuangan dan inisiatif efisiensi yang dipimpin oleh Danantara.
Fokus pemerintah semakin tertuju pada pelaksanaan dan profitabilitas jangka panjang, dengas dukungan modal yang semakin gencar melalui pinjaman pemegang saham dan suntikan dana yang ditargetkan ke entitas yang lebih lemah.
“Langkah-langkah ini diharapkan dapat membantu menstabilkan kualitas kredit di seluruh sektor BUMN,” demikian ungkap Liang Chan.
Selanjutnya pada sesi diskusi panel sektoral pertama yang mengulas tentang sektor keuangan di Indonesia, Director of Financial Institutions Ratings S&P Global Ratings, Ivan Tan mengemukakan bahwa eksposur langsung bank-bank Indonesia terhadap Timur Tengah terbatas, dan risiko tidak langsung tetap terkendali.
Namun, dalam skenario terburuk yang menunjukkan gangguan pasar energi yang berkepanjangan, kerugian kredit kemungkinan akan meningkat.
“Kami memperkirakan kerugian tambahan sebesar 35 basis poin pada tahun 20262027, sehingga total biaya kredit mencapai sekitar 100 basis poin,” ungkapnya.
Lebih jauh Ivan menyampaikan bahwa Efek orde kedua menimbulkan risiko yang lebih besar. Menurutnya, rumah tangga berpenghasilan rendah dan UKM lebih rentan terhadap kondisi pemburukan ekonomi karena cadangan keuangan yang tipis dan sensitivitas yang lebih tinggi terhadap guncangan.
“Pertumbuhan Indonesia yang tidak merata telah membuat segmen berpenghasilan rendah dan menengah terpapar, sementara inflasi yang berkelanjutan dapat semakin menekan keuangan rumah tangga dan kapasitas pembayaran,” ungkap Ivan
“Terlepas dari risiko-risiko ini, fundamental sektor tetap kuat. Bank-bank Indonesia diuntungkan oleh profitabilitas yang solid dan rasio kecukupan modal mendekati 25%, yang memberikan penyangga yang berarti terhadap tekanan eksternal. Kualitas aset telah membaik sejak pandemi, didukung oleh penyediaan cadangan yang prudent, standar penjaminan yang lebih ketat, dan pelonggaran moneter yang lebih awal,” demikian disampaikan Ivan.
Meskipun demikian, menurut Ivan, risiko cenderung ke arah penurunan. “Lingkungan global yang lebih lemah dapat meredam kepercayaan, meningkatkan keengganan terhadap risiko, dan membalikkan beberapa peningkatan kualitas aset. Kerentanan struktural tetap ada di segmen berpendapatan rendah dan industri seperti tekstil yang menghadapi tekanan daya saing,” ungkapnya.
“Secara keseluruhan, pendapatan dan penyangga modal yang kuat dapat memungkinkan bankbank Indonesia untuk menyerap pelemahan kondisi kredit yang moderat,” Ivan menutup pernyataannya.
Menyoroti kondisi sektor perbankan dan lembaga keuangan non-bank di tengah konflik geopolitik, Kepala Divisi Pemeringkatan Jasa Keuangan PEFINDO, Danan Dito menyampaikan bahwa Konflik di Timur Tengah telah menaikkan harga energi, memberikan tekanan pada perekonomian Indonesia karena bank dan perusahaan keuangan bersiap menghadapi pertumbuhan bisnis yang lebih lesu pada tahun 2026.
“Terlepas dari kondisi keuangan mereka yang solid, yang ditunjukkan oleh penyangga modal yang kuat dan indikator kualitas aset yang terkendali, harga minyak yang tinggi dalam jangka panjang akan mengikis kepercayaan konsumen, daya beli, dan kemampuan pembayaran kembali,” demikian ungkap oleh Danan.
Lebih jauh Danan juga menyampaikan bahwa subsidi bahan bakar pemerintah telah melindungi dampak langsung pada segmen mikro dan UKM yang lebih rentan untuk sementara waktu, tetapi telah menciptakan titik tekanan lain pada posisi fiskal dan pelemahan Rupiah, yang menimbulkan pertanyaan berapa lama subsidi tersebut dapat bertahan.
Pada sesi diskusi panel terakhir yang membahas topik Ketahanan Sektor Korporasi & Kualitas Kredit di Tengah Lingkungan Dinamis Saat ini, Ker Liang Chan, Associate Director, Corporate Ratings, S&P Global Ratings, menjelaskan bahwa Sektor komoditas Indonesia akan diuntungkan dalam lingkungan saat ini dengan kenaikan harga hidrokarbon dan logam, yang kemungkinan akan mengimbangi kenaikan biaya yang mungkin terjadi.
Namun, risiko kebijakan dan regulasi tetap tinggi di sektor-sektor seperti minyak sawit, logam, dan pertambangan.
Liang Chan berpendapat bahwa pemotongan kuota produksi untuk komoditas seperti nikel dan batubara termal dapat merugikan beberapa unit ekonomi, terutama untuk operator yang lebih kecil. Pada saat yang sama, penegakan hukum yang lebih ketat terhadap praktik lingkungan dan penambangan ilegal dapat meredam sentimen investasi, terutama saat ketidakpastian meningkat.
“Secara keseluruhan, kondisi pendanaan domestik seharusnya tetap mendukung pada tahun 2026. Meskipun rupiah telah melemah, sebagian besar perusahaan tampaknya mampu menyerap depresiasi moderat, dengan dampak terbatas pada margin dan pembayaran utang. Ini mencerminkan pergeseran menuju pendanaan domestik dalam beberapa tahun terakhir, mengurangi ketergantungan pada utang mata uang asing, dan meningkatkan ketahanan terhadap guncangan eksternal,” ungkap Liang Chan pada sesi seminar.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Divisi Pemeringkatan Non-Jasa Keuangan-2 PEFINDO, Yogie Perdana menyampaikan bahwa di tengah depresiasi rupiah dan risiko limpahan dari konflik Timur Tengah, perusahaan non-keuangan Indonesia menghadapi konvergensi tekanan kredit pada tahun 2026, termasuk pelebaran spread kredit, tantangan refinancing sebesar Rp121 triliun, dan kompresi margin.
”Namun demikian, dukungan Danantara untuk BUMN, khususnya melalui percepatan penyaluran modal, dapat memberikan penyangga parsial namun signifikan bagi emiten terpilih,” jelas Yogie.
Dalam sesi tersebut pula, Kepala Divisi Pemeringkatan Non-Jasa Keuangan-1 PEFINDO, Martin Pandiangan mengatakan, ”kami memproyeksikan sektor komoditas seperti minyak kelapa sawit (CPO), hulu minyak dan gas, serta pertambangan emas akan diuntungkan dari dinamika geopolitik yang sedang berlangsung dan depresiasi rupiah, terutama karena keseimbangan permintaan-penawaran dan arus kas dalam denominasi dolar AS.”
Martin menambahkan, ”sebaliknya, sektor hilir seperti logam dan petrokimia diperkirakan akan menghadapi tantangan struktural terkait ketersediaan bahan baku, biaya energi yang lebih tinggi, dan volatilitas permintaan industri. Sementara itu, sektor lain – termasuk pertambangan batubara dan nikel, telekomunikasi, dan barang konsumsi pokok – diperkirakan akan mengalami dampak yang sebagian besar netral.”
Martin berpendapat bahwa peningkatan fokus pada integrasi hilir dan efisiensi operasional di antara BUMN seharusnya mendukung posisi strategis yang lebih kuat melalui peningkatan ketahanan bisnis, peningkatan perolehan nilai, dan peningkatan stabilitas keuangan dan nilai tukar.
”Namun, kami juga mengantisipasi risiko keuangan dan struktural, khususnya terkait dengan peningkatan leverage dari belanja modal yang didanai utang dan kelayakan ekonomi proyek-proyek kompleks,” pungkas Martin. Seminar ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang diselenggarakan dengan kolaborasi antara S&P Global Ratings dan PEFINDO. Sejak tahun 2023, S&P Global Ratings resmi menjadi pemegang saham PEFINDO yang mengantarkan PEFINDO menjadi bagian dari lembaga pemeringkatan global.
